Tuesday, January 30, 2018

Kisah Nyata yang Sedang Viral ; Mohon Doa untuk Sahabat Saya

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat email dari salah seorang sahabat saya. Dia juga seorang mualaf sama seperti saya. Sharen namanya. Dulu kami bertemu di sebuah lembaga pelatihan pramugari di Jogja.

Sharen, mahasiswi Atmajaya, gadis cantik keturunan Tionghoa. Kalo mau banding-bandingan cantik sama Sharen, saya mending tutup muka deh. Udah pasti kalah...jaaauuhhh. Sharen, si gadis Tionghoa ini bukan hanya fasih bahasa Mandarin tapi juga fasih bahasa Inggris dan bahasa Jawa. Maklum Cina Semarang

Kami sama-sama pramugari waktu itu, bedanya Sharen lebih dahulu diterima jadi pramugari reguler Garuda Indonesia sementara saya cukup puas di airline swasta. Beda kualitas soalnya.

1 (satu) tahun terbang, Sharen resign untuk menikah dengan seorang pengusaha muslim. Disitulah awal dia menjadi mualaf. Mereka tinggal di kawasan Menteng Jakarta. 1 tahun menikah, Sharen dikaruniai anak. Namun malang, saat anaknya masih berusia 6 (enam) bulan, suaminya mengalami depresi berat karena usahanya bangkrut, terlilit hutang ratusan juta rupiah. Suaminya stress berat dan nyaris gila sehingga tidak mungkin menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami sebagai tulang punggung yg menafkahi keluarga.

Sharen memutuskan untuk kembali terbang, apply ke Saudi Arabia Airline dan alhamdulillah diterima. Dengan berat hati, dia harus menitipkan anak semata wayangnya yang belum genap 1 (satu) tahun kepada ibu mertuanya untuk dirawat karena dia harus terbang dan hanya bisa mengunjungi keluarganya paling tidak 1 (satu) tahun sekali. Sharen harus menetap di Saudi. Ia tegarkan hati demi melunasi hutang-hutang suaminya, kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya pengobatan suaminya.

10 tahun Sharen bekerja sebagai pramugari Saudi, alhamdulillah suaminya sudah pulih dan mulai bangkit kembali sebagai pengusaha. Usaha suaminya kini maju dengan pesatnya. Sharen pun resign.

Ini tulisan Sharen dalam emailnya untuk saya :

Dear Irene,

Assalamualaikum wr wb,

Semoga Irene sekeluarga selalu dalam keberkahan Allah SWT.

Aku tidak tahu tiba-tiba teringat denganmu. Dulu kita sering berkirim kabar melalui Yahoo Messenger tapi tiba-tiba terputus karena kesibukan kita masing-masing. Untunglah aku masih menyimpan emailmu ini. Semoga email ini terbaca olehmu.

Irene, aku butuh teman. Aku tidak tahu harus bicara pada siapa dan aku juga tidak tahu harus bagaimana. Mungkin karena kita sama sama mualaf, maka entah mengapa tiba tiba aku mencari emailmu. 3 tahun terakhir ini adalah masa masa bahagiaku. Aku sudah punya baby lagi berusia 1 tahun, alhamdulillah, perempuan. Lengkap sudah aku memiliki 1 arjuna dan 1 srikandi. Kembali berkumpul bersama anak-anakku, suamiku, keluargaku.

Alhamdulillah 10 tahun perjuanganku di Saudi tidak sia-sia. Suamiku sudah kembali pulih, bahkan usahanya kini semakin pesat. Suamiku juga aktif mengikuti kegiatan pengajian.

Irene, 1 minggu yang lalu suamiku bicara padaku, dia akan berpoligami dengan seorang hafidzah bernama Azizah, gadis berusia 25 tahun. Irene, kumohon jangan hakimi aku dulu dengan setiap dalil syari'at Allah. Aku berharap sebagai sesama wanita kau bisa memahami yg aku rasa. Bila ia menginginkan isteri seorang hafidzah, mengapa dia dulu menikahiku yang seorang Katolik ?. Irene, mohon do'akan aku agar aku tetap istiqomah dalam keyakinanku. Dan mohon do'akan aku agar aku tidak pernah merasa menyesal telah mengenal agama ini.

Mohon balas emailku bila tulisan ini sudah terbaca olehmu.

Wassalamualaikum wr wb

- Theresia Sharen Magdalena -

Ada gemuruh di dalam dada usai membaca email Sharen. Aku tercenung cukup lama, tidak berani langsung membalas emailnya. Aku hanya khawatir bila langsung kubalas, maka yg tertulis hanyalah rasa seorang Irene yang justru ditakutkan akan menjadi pemberontakan pada syari'at Allah. 3 (tiga) hari kudiamkan email Sharen hingga akhirnya kubalas emailnya :

Dear Sharen

Semoga saat kau baca email ini, kau masih berkumpul bersama keluargamu dalam 1 aqidah suci Islam.

Sharen, aku rindu berjumpa denganmu. Rindu melihat mata sipitmu yg terpejam saat kau tertawa. Kuharap mata itu kini makin bercahaya dalam sinar terang bacaan ayat-ayat Al-Quran.Sharen, Allah juga sedang rindu padamu. Allah ingin melihat kau tengadahkan berlama lama tanganmu yg halus putih bersih itu.

Bila kau bisa mengingatku, sudahkah kau tumpahkan semua yang kau rasa pada Allah. Allah tidak akan menghakimimu dengan dalil dalil-NYA. Allah akan menyentuh tanganmu yang menengadah pada-NYA. Tanyakan pada-NYA, apa yang DIA inginkan darimu ?. Mintalah petunjuk pada-NYA. Bila poligami ini baik bagimu dan keluargamu maka DIA akan mampu membuatmu ikhlas menerimanya. Namun bila poligami ini kelak tidak mendatangkan kebaikan bagimu dan bagi keluargamu, mintalah agar prahara itu segera menjauh darimu.

Sharen, kita sudah berjalan dari gelap menuju terang. Janganlah lagi menoleh ke belakang dan berhasrat kembali pada kegelapan, hanya karena di dalam terang kita melihat ada jalan berlubang. Ingatlah selalu syari'at Allah tidak pernah salah.

Do'aku selalu untukmu

Wassalamualaikum wr wb.

----------------------------------

Wahai para suami... kami para istri tahu syari'at poligami. Kami tahu hukum poligami adalah sunah bagi yang mampu. Tapi saat ada seorang isteri yang belum mampu menerima poligami, janganlah kau judge dia melawan syari'at Allah. Janganlah kau judge dia mengharamkan poligami. Durian adalah buah yang dihalalkan, bila ada yang tidak menyukai durian, janganlah kau judge dia mengharamkan durian. Periksalah dulu dirimu, begitu banyak sunah yang di syari'atkan, sudahkah mampu kau jalankan semua ? Sehingga kau merasa perlu menyuguhkan poligami bagi isterimu ?

Terkhusus bagi kalian yang memiliki isteri seorang mualaf. Inshaa Allah dengan hijrahnya isterimu, surga sudah ada ditanganmu. Kewajibanmu adalah menjaganya agar tetap istiqomah menuju muslimah yang kaffah. Biarkan ia berproses menuju keikhlasannya dalam berhijrah. Lihatlah, betapa mengerikannya kalimat terakhir dari email Sharen : "Do'akan aku agar aku tidak menyesal telah mengenal agama ini." Semua butuh proses...

Wahai para isteri, 1 (satu) hal yang perlu diingat, "suamimu bukanlah milikmu, dia milik Allah". Janganlah berlebihan mencintainya hingga membuat Allah cemburu. Ini sangat sulit, tak semudah mengetikkan kata-katanya. Saya sangat memahami karena saya seorang wanita. Datanglah pada Allah, sujud menangis dan curhatlah di hadapan Allah saat kau merasa terabaikan semua yang telah kau lakukan dg segenap hati dan jiwamu.

Bagi kalian wahai para wanita yang telah mampu memiliki hati seluas samudera telah mampu ikhlas hidup dalam bahtera poligami, janganlah kau judge wanita lain yang belum mampu sebagai wanita yang membangkang syari'at Allah. Karena bisa jadi tanpa kau tahu dia telah melalui perjuangan yang bisa jadi lebih dahsyat dibandingkan dirimu.

Apakah Aisyah lebih baik dari Siti Khadijah yang seumur hidupnya tidak pernah dimadu oleh Rasulullah ? Apakah para isteri sahabat Rasulullah lebih kaffah dibanding Fatimah binti Nabi Muhammad SAW yang seumur hidupnya tidak pernah dimadu oleh Ali bin Abu Tholib ?. Walau memang jamu itu terasa pahit tapi menyehatkan, dibandingkan gula yg manis tapi menyebabkan penyakit. Yaaaa kalo bisa sih pilih madu, manis, enak dan menyehatkan. Tapi siapkah dimadu ? Hahaha....

Barusan saya sudah dapat balasan email dari Sharen setelah 2 bulan lebih saya menunggu. Alhamdulillah sahabat saya masih istiqomah di dalam Islam.

Seperti apa balasan email Sharen ? saya share di status berikutnya yaaa, kepanjangan kalo disambung disini,  lagi pula juga sudah malam. Mohon do'akan sahabat saya agar tetap istiqomah di dalam Islam.

To be continue....

Wassalam.

----------------------------------

Lebih dari 2 bulan aku menunggu balasan email dari Sharen. Apa kabarmu Sharenku ?. Masihkah kau istiqomah di dalam Islam. Entah mengapa aku gelisah. Ada rasa khawatir. Kucari sosmednya. Tidak ketemu. Duh mengapa Sharen tidak meninggalkan WA di dalam emailnya ?. Akhirnya yang kulakukan hanya menunggu dan berdo'a untuknya.

Saat aku merasa tak kuasa lagi menunggu, aku butuh dukungan saudara saudariku se-aqidah yg lain. Mohon maaf Sharen tanpa bertanya terlebih dahulu, aku share permasalahanmu. Aku berharap banyak do'a terucap untuk mengetuk pintu langit bagimu. Tepat saat aku akan mengakhiri statusku, notification email berbunyi. Subhanallah....!!!! Sharen....!!!!

Dear Irene

Assalamualaikum wr wb...

Irene, terima kasih atas balasan emailmu. Apa kabarmu hari ini ? Kamu pasti sedang memikirkan aku kan ?.
Berkat do'amu kini aku lebih bahagia. Alhamdulillah.

Ketahuilah Irene, saat aku menulis email padamu, aku sudah mengajukan gugatan cerai untuk suamiku. 3 hari kemudian kubaca emailmu. Isi emailmu hampir sama dengan tanggapan seorang ustadzah yg juga mualaf.

Saat itu, sejujurnya aku masih dalam kondisi marah pada Allah. Aku merasa Allah banyak meminta dari hidupku. Aku mulai berhitung setiap sedekah, amal ibadah yang telah kulakukan untuk keluargaku khususnya suamiku.Ibu mertuaku yg sangat menyayangiku itu setiap malam menangis membujukku untuk mencabut gugatan ceraiku.

Aku gamang, aku bingung. Hingga akhirnya di 1/3 malam dimana seharusnya manusia bermunajat kepada Rabbnya, namun aku justru menumpahkan kekesalanku pada Tuhanku."Apalagi yang kau inginkan dariku ya Allah....!!!!!. Mengapa bencana ini KAU hadirkan untukku ?. Bila KAU adalah Zat yang maha penyayang, seharusnya KAU adalah Zat yg maha perasa. Tidakkah kau bisa merasakan apa yang kurasakan ?. Hingga Kau turunkan syari'at poligami untuk menghukumku ?".

Naudzubillah.... do'akan aku, Allah mengampuni dosaku dimalam itu. Aku tertidur. Sedikit lega rasa hatiku. Esok malamnya kuulangi lagi tengadahkan tanganku di 1/3 malam memohon ampunan karena entah mengapa tiba-tiba datang rasa bersalah. Kemudian aku mencoba saranmu. 1 minggu aku terlibat diskusi dengan Allah.

Hingga suatu hari dengan lantangnya ibu mertuaku mengatakan 1 hal pada suamiku, "Pras, bila kamu tetap ingin menikahi gadis itu, pergi kamu dari rumah ini !!!. Biarkan mama bersama Sharen dan anak-anakmu di rumah ini !!!. Mama malu memiliki anak yang tidak tahu diri seperti kamu !!!".

Aku keluar dari kamarku. Ibu mertuaku langsung memelukku, "Kamu jangan pergi Sharen, biarkan Pras yang pergi. Dia tidak pantas menjadi suamimu. Maafkan mama yang telah gagal mendidik Pras menjadi laki-laki yang tahu diri."

Aku hanya menangis dalam diam. Suamiku pun hanya menunduk diam. Malam itu kami bertiga (aku, ibu mertuaku & suamiku) berdiskusi. "Baiklah ma, aku tidak akan menikahi Azizah, bila itu hanya akan membuat mama & Sharen tersakiti. Aku sangat menyayangi kalian. Maafkan aku....". Suamiku memeluk kami berdua.

Aku lega, kupikir inilah jawaban dari Allah atas diskusi panjang diatas sajadahku di tiap 1/3 malam. Namun ternyata aku salah. Esok malamnya ba'da isya, Azizah datang kerumahku bersama kedua orang tuanya. Pada malam itu aku tahu, ternyata bukan suamiku yang ingin menikahi Azizah tetapi ayah Azizah yang merupakan teman pengajian suamiku yg meminta suamiku untuk meminang anaknya. Malam itu jelas kutatap wajah Azizah. Azizah, semula kupikir dia adalah gadis belia yang cantik dengan segala pesona yg menggairahkan mata lelaki termasuk suamiku, ternyata sangat jauh dari itu. Dia gadis lugu yg selalu menundukkan kepala. Ada keteduhan di wajahnya.

Di malam itu aku tahu, Azizah memiliki miom yang akan segera dioperasi dan dokter mengatakan 90% Azizah tidak akan mampu memberikan keturunan bagi suaminya. Sudah 3 orang pemuda lajang membatalkan khitbahnya setelah mengetahui kondisi Azizah. Entah mengapa ayah Azizah memiliki trust pada suamiku.

Kudekati suamiku dan kutanya : "kenapa mas ga pernah cerita ini sebelumnya padaku ?". Suamiku menjawab, "karena aku tidak mau kamu menganggapnya sebagai modus". Kudekati ibu mertuaku, "Mama, kumohon terimalah Azizah menjadi bagian dari keluarga kita. Aku ikhlas menerimanya sebagai adik maduku". Azizah & ibunya nyaris tersungkur di kakiku namun aku cegah. Kupeluk Azizah dan kukatakan, "Kau akan menjadi saudaraku".

Suamiku terperangah menyaksikan semua itu. "Kamu yakin telah ikhlas dengan keputusanmu sayang ?". "Iya mas. Nikahi dia. Dia akan menjadi bagian dari keluarga kita." Jawabku mantap.Suamiku terlihat masih ragu. Aku tersenyum, "aku akan mencabut gugatan ceraiku besok". Alhamdulillah, seisi rumah mengucapkan hamdalah.

Dan sudah 1 bulan ini suamiku menikah dengan Azizah. Kami tinggal 1 rumah. Kurasa tak masalah, rumah kami sangat besar. Tahukah kamu Irene, bisnis suamiku makin pesat. Kini suamiku lebih sering melibatkan aku dalam bisnisnya. Aku yang tadinya hanya di rumah mengurus rumah, kini lebih sering bersama suami untuk menangani bisnis. Anak-anakku di rumah bersama ummi Azizah (begitulah mereka memanggilnya). Disaat tetangga kami harus membayar 5 juta - 6 juta untuk seorang baby sitter, anak-anakku justru dibimbing oleh seorang hafidzah.

Tahukah Irene, anakku yg pertama sudah hafal 1 juz dalam 1 bulan selama ada Azizah. Setiap malam mereka mengaji dibimbing oleh umminya. Bayangkan bila suatu saat Arjunaku menjadi tahfidz melalui pendidikan dari dalam rumah kami sendiri. "Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yg kau dustakan."

Irene, terima kasih telah menjadi sahabatku di dunia dan di akherat. Andai saat itu kuturuti amarahku meneruskan gugatan cerai pada suamiku, aku pasti tidak akan pernah merasakan kebahagiaan ini. Ini pelajaran poligami yang langsung Allah ajarkan padaku. Selama ini aku berpikir poligami adalah syari'at yg tidak paham pada perasaan wanita. Karena aku tidak pernah bisa menerima saat isteri sedang sakit suami justru berpoligami, seakan nafsu lelaki lebih pantas untuk dilindungi. Namun ternyata kini Allah justru memilihku menjadi orang yang menjalankan poligami sebagai solusi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib gadis seperti Azizah bila tidak ada syari'at poligami. Haruskah menjalani kesendirian dalam hidupnya hanya karena vonis dokter tidak mampu memberikan keturunan ?. Semula kupikir ink hukuman Allah bagiku. Namun ternyata Allah sedang menyanjungku.

Irene, sudah dulu yaaa suatu saat kau harus mengenal Azizahku. Kumohon do'akan kami agar selalu menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Kumohon juga, do'akan Azizahku agar Allah berkenan menyembuhkan miomnya sehingga tidak perlu menjalani operasi dan ia bisa memberikan keturunan untuk suamiku. Aamiin.

Bulan depan kami bertiga akan umroh untuk meminta kesembuhan bagi Azizah. Do'akan kami yaaa.

Wassalamualaikum wr wb

Theresia Sharen Magdalena

----------------------------------

Poligami tetaplah syari'at yang benar. Bila banyak kasus poligami yang justru menghancurkan rumah tangga, ini karena pelakunya yang gagal paham pada syari'at.

Wahai suami. Kalian memang memiliki hak untuk berpoligami. Namun hak ini tidak lantas digunakan suka-suka kalian dan sesuai hawa nafsu kalian. Berdiskusilah pada Allah, apa maksud Allah mempertemukanmu dengan wanita lain. Bukan langsung menggunakan hak vetomu dengan ke-sok tahuanmu dan lantang menggunakan dalil-dalil dengan berkata, "Ini syari'at yang dihalalkan Allah dan kau isteri harus menerimanya. Bila tidak bersedia menerima artinya kalian telah mengingkari salah satu syari'at Allah !".

Wahai isteri, wanita dengan segala rasa, janganlah cepat meradang saat mendengar kata poligami. Jangan berdebat sesuai nafsumu. Cintailah Allah lebih dari kau mencintai suamimu. Ingatlah syari'at Allah tidak pernah salah. Poligami bukanlah kenikmatan tambahan bagi laki-laki, namun tambahan tanggung jawab bagi laki-laki.

Wahai para suami dan para isteri, libatkan selalu Allah dalam setiap galaumu. Sehingga kita terhindar dari sikap gagal paham yang sok tahu (#SelfReminder).

Untukmu Theresia Sharen Magdalena. Kau bukan hanya rupawan, namun hatimu juga sangat menawan. Kau laksana Ibrahim yang menerima perintah Allah untuk menyembelih anak sulungnya dengan ikhlas. Sami'na wa to'na. May you're one of the best whoman in heaven.

Mohon do'a untuk Sharen sekeluarga dan mohon do'a untuk kesembuhan Azizah.

Wassalam

No comments: