Masjid Cut Meutia Jakarta

Masjid yang terletak di Jl Cut Meutia No 1, Menteng, Jakarta Pusat ini pada awalnya merupakan bangunan milik biro arsitek “NV De Bouwploeg” yang didirikan di jaman Hindia Belanda oleh Pieter Andriaan Jacobus (PAJ) Moojen. Ia pula yang merancang sendiri bangunan itu lalu dibangun sejak tahun 1910 dan selesai pada tahun 1912.  
Sebelum berubah menjadi masjid, bangunan itu sempat digunakan sebagai bangunan berbagai macam fungsi mulai dari Kantor Pos, Kantor Jawatan Kereta Api, dan Kantor Kompetei Jepang. Pada masa kemerdekaan, bangunan ini pernah dijadikan sebagai Kantor Walikota Jakarta Pusat sampai kemudian dijadikan kantor Urusan Agama pada tahun 1964. Perubahan fungsi bangunan menjadi masjid diawali dengan adanya pemikiran warga masyarakat sekitar yang ingin memiliki masjid di kawasan tersebut. Lalu para pemuka masyarakat meminta pendapat Jenderal AH Nasution yang waktu itu menjadi Ketua MPRS. Usulan kemudian disetujui oleh Wakil Gubernur Dr Soewondo.
Awalnya, masjid ini dinamakan Masjid Al Jihad namun karena berada di Jalan Cut Meutia sehingga lebih terkenal dengan sebutan Masjid Cut Meutia. Renovasi bangunan dilakuan pada tahun 1984 dimana ruangan utamanya dibuat lebih luas guna menampung lebih banyak jamaah. Sebagian anak tangga dipindah keluar. Arah kiblat juga dimiringkan sekitar 15 (lima belas) derajat ke arah kanan. Bagian mihrab dibuat lebih menjorok ke luar. Lantai masjid juga dipasangi marmer. Hiasan dinding masjid berupa kaligrafi didatangkan langsung dari Brunei Darussalam.
Karena desain masjid yang unik dan memiliki nilai histori yang tinggi maka masjid ini dijadikan sebagai cadar budaya maka bentuk bangunan tetap dipertahankan sampai sekarang dimana dilihat dari bentuk eksterironya, masjid ini meniru konsep arsitektur bergaya Eropa yang bernama “art nouveau”. Di dalam masjid akan ditemui kolom atau pilar-pilar besar di setiap sisi yang menopang bangun tersebut. Bagian tengah masjid tepat di bawah kubah sentral dijadikan ruang shalat. Hal yang unik adalah adanya alat sirine yang berada di atas bangunan masjid dengan berat sirine mencapai 3 ton dan suaranya bias terdengar sampai wilayah Gunung Sahari. Akhirnya pada tahun 1986 sirine tersebut dihilangkan karena khawatir dapat membahayakan masjid.
Bagian atas dari masjid ini, tepatnya di lantau dua, yang merupakan balkon saat masih sebagai Gedung NV De Bouwploeg juga difungsikan sebagai tempat shalat jika jamaah di lantai satu sudah penuh. Sementara tempat wudhunya sendiri berada di sisi samping belakang masjid. Sementara lahan parkirnya termasuk luas yang berada di area depan masjid.


Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia