Jalaluddin Rumi dan Puisi “Aku Mencintamu dalam Diam” - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Sunday, April 25, 2021

Jalaluddin Rumi dan Puisi “Aku Mencintamu dalam Diam”

Siapa yang tak kenal Jalaluddin Rumi ?. Ia adalah salah satu sufi terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia di planet bumi ini.

Jalaluddin Rumi dilahirkan pada tanggal 30 September 1207 M di sebuah kota bernama Balkha di daerah Khurasan. Ia juga dikenal dengan panggilan Maulana Rumi atau Rumi saja karena hidup di sebuah negara Romawi yaitu di Anatalia atau sekarang disebut sebagai Turki.

Maulana Rumi adalah seorang sosok di muka bumi yang memiliki kesadaran universal guna mewarnai peradaban dan kehidupan manusia dengan kemuliaan cinta. Ia merupakan sufi yang mencari nilai-nilai kebenaran yang terdalam dari ajaran agama dimana hampir semua karya-karya puisi an prosanya, kental dengan nuanasa religi. Ia seolah hendak menyampaikan bahwa pemahaman terhadap dunia hanya mungkin diperoleh melalui “cinta” dan tak hanya sekedar kerja fisik semata.

Puisi “Aku Mencintaimu dalam Diam” adalah karya sastra Rumi yang memuat tentang percintaan. Isi lengkapnya sebagai berikut :

Aku memilih mencintaimu dalam diam
Karena dalam diam tak akan ada penolakan

Aku memilih mencintaimu dalam kesepian
Karena dalam kesepian tidak ada orang lain yang memilikimu, kecuali aku

Aku memilih memujamu dari kejauhan
Karena kejauhan melindungiku dari rasa sakit

Aku memilih menciummu dalam angin
Bukankah bibirku juga akan merasakan kelembutan dari angin?

Aku memilih memilikimu dalam mimpi
Karena dalam mimpiku, kamu tidak akan pernah mati


Dalam studi yang dilakukan oleh Cici Sulistia dan Abdul Latif dijelaskan bahwa Rumi cukup menggunakan kata yang sederhana yaitu “diam” dan “penolakan”. Hal ini menggambarkan suatu tindakan Rumi manakala ia berusaha menimbulkan akibat positif dan menghindari hal-hal negatif. Rumi juga menggunakan kata “kesepian” yang bermakna mencintai dengan dirinya sendiri tanpa sepengetahuan orang lain, termasuk oleh orang yang dicintainya. Ia mencintai seseorang dalam kejauhan tanpa melakukannya secara langsung atau mengungkapkan kata-katanya di depan orang yang dicintainya, agar si penyair tidak mengalami perasaan terluka apabila terjadi penolakan di depan mata. Dan paragraf terakhir cukup menyentuh karena bagi Rumi, mencintai seseorang dalam mimpi tidak akan pernah berakhir dalam kehidupannya.

Rumi memilih menggunakan repetisi pada frase “aku memilih”. Pengulangan itu bukan hanya sekedar bertujuan agar puisinya enak dibaca namun menggambarkan juga penegasan terhadap tindakan yang dilakukan sang penyair kepada sosok yang dicintainya. Rumi memilih demikian agar terhindar dari rasa kecewa dan sejenisnya. 

Nah, jika Anda mengalami jatuh cinta, apakah Anda memilih untuk menyimpannya dalam diam sebagaimana Rumi melakukannya ?.

love

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda