Dalam praktik profesional baik di kantor, lembaga pendidikan, organisasi sosial, bahkan dalam relasi personal, istilah “penilaian objektif” dan “penilaian subjektif” seringkali disalahgunakan atau digunakan secara bergantian tanpa benar-benar dapat dipahami maknanya dengan benar. Akibatnya muncul salah faham di mana orang menuntut objektivitas pada sesuatu yang sejak awal memang dirancang hanya bisa diukur secara subjektif, atau sebaliknya, membiarkan subjektivitas merasuki sistem yang seharusnya berbasis hasil yang terukur secara angka kuantitatif.