POJOKCERITA

Peristiwa

Showbiz

Foto

Video

Tuesday, March 10, 2026

Penentuan KPI Berbasis Volume; Ilusi Pertumbuhan Tanpa Batas

Dalam banyak organisasi modern, Key Performance Indicator (KPI) sering dijadikan alat utama untuk mengukur kinerja individu maupun team. Salah satu bentuk KPI yang paling umum digunakan adalah indikator berbasis kuantitas atau volume pekerjaan yang terselesaikan dalam suatu periode atau kurun waktu tertentu, misalnya jumlah dokumen yang selesai diproses per hari, jumlah tiket layanan customer service yang diselesaikan, jumlah laporan harian yang dibuat, dan lain-lain. 

Monday, March 2, 2026

Antara Ibadah Ritual dan Realitas; Ironi Beragama di Indonesia

Indonesia sering disebut sebagai negeri yang religius di mana khusus untuk penganut agama Islam mencapai 85% lebih dari total penduduk Indonesia. Hal ini antara lain ditandai dengan masuknya bulan puasa di mana masjid-masjid dipenuhi saat bulan Ramadhan tiba, suara azan menggema lima kali sehari, jutaan orang berpuasa dengan penuh semangat, zakat dan sedekah meningkat drastis setiap tahunnya. Ibadah wajib dijalankan dengan disiplin. Secara statistik dan kasat mata, bangsa ini tampak sangat taat.

Monday, February 16, 2026

Memahami Sistem “Penilaian Objektif” dan “Penilaian Subjektif”; Antara Berbasis Hasil vs Cara Pandang

Dalam praktik profesional baik di kantor, lembaga pendidikan, organisasi sosial, bahkan dalam relasi personal, istilah “penilaian objektif” dan “penilaian subjektif” seringkali disalahgunakan atau digunakan secara bergantian tanpa benar-benar dapat dipahami maknanya dengan benar. Akibatnya muncul salah faham di mana orang menuntut objektivitas pada sesuatu yang sejak awal memang dirancang hanya bisa diukur secara subjektif, atau sebaliknya, membiarkan subjektivitas merasuki sistem yang seharusnya berbasis hasil yang terukur secara angka kuantitatif. 

Tuesday, February 10, 2026

Mereka yang Meminta Bantuan Tapi Tidak Pernah Berniat Bergerak

Ada jenis manusia yang sangat lihai memainkan peran ‘korban masa depan’. Mereka datang dengan cerita panjang tentang apa yang seharusnya mereka capai, apa yang seharusnya mereka miliki, dan betapa dunia tidak cukup adil memberi mereka kesempatan. Cerita itu dibungkus rapi dengan nada rendah hati bahwa mereka sedang membutuhkan bantuan atau pertolongan. Dan kita yang dengan niat baik ingin menolong dengan rasa empati, menerima undangan itu.

Friday, February 6, 2026

Berlebih-lebihan dalam Belajar Tahsin; Antara Kesungguhan dan Penyimpangan Tujuan

Belajar tahsin Al-Qur’an pada dasarnya adalah sebuah kegiatan atau aktivitas yang mulia. Ia lahir dari keinginan untuk membaca Kitabullah dengan baik, benar, dan sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan. Namun kadangkala belajar tahsin tidak terlepas dari potensi penyimpangan manakala kesungguhan belajar itu berubah menjadi sikap yang terlalu berlebihan (ghuluw atau takalluf). Pada titik inilah niat baik justru dapat melahirkan praktik yang keliru, memberatkan, dan bahkan menjauhkan seseorang dari tujuan utama membaca Al-Qur’an itu sendiri.

Tuesday, February 3, 2026

Silent Treatment; Cara Membunuh Motivasi Karyawan secara Diam-Diam

Dalam dunia praktik kerja profesional, komunikasi antar bagian atau personal bukan sekadar pertukaran informasi belaka, melainkan mekanisme koordinasi dan bagian dari suatu rantai pengambilan keputusan. Oleh karena itu ketika komunikasi membutuhkan umpan balik namun dibiarkan tanpa respons, situasi tersebut bukan lagi menjadi persoalan etika komunikasi semata melainkan menjadi masalah struktural yang bisa berdampak langsung pada menurunnya motivasi dan kinerja karyawan.

Sunday, February 1, 2026

Posisi Serba Salah Karyawan; Diminta Inisiatif Namun Dapat Dianggap Kurang Koordinatif

Dalam sebuah postingan Instagram terdapat sebuah kalimat sederhana namun terasa menampar realitas kehidupan yang banyak dialami pekerja kantoran. Postingan tersebut mengangkat paradoks kepemimpinan yang kerap terjadi di lingkungan kerja terutama terkait ekspektasi terhadap inisiatif karyawan. Kalimatnya berbunyi: Pas kita tanya arah, dibilang, ‘Coba dong, lebih inisiatif. Jangan manja!’ Pas kita udah gerak cepat dibilang, ‘Kok kamu inisiatif sendiri? Gak bisa koordinasi ya? Siapa yang suruh ambil keputusan sendiri?’

Monday, January 26, 2026

Thursday, January 22, 2026

Digitalisasi yang Salah Alamat; Ketika Tujuan Kecepatan Proses Berubah Menjadi Pelimpahan Tanggung Jawab

Digitalisasi seakan menjadi ‘dewa’ di mana-mana. Semua orang berlomba berbicara tentang digitalisasi yang kerap diposisikan sebagai jawaban atau solusi ampuh atas berbagai persoalan organisasi modern, seperti proses yang lambat, birokrasi yang berbelit, hingga beban administratif yang menyita energi karyawan.

Tuesday, January 20, 2026

Mempertanyakan Efektivitas Hasil Outbound/Team Building; Kerja Sama Tidak Bisa Diciptakan dalam Sehari!

Dalam dunia korporasi modern, pelatihan outbound atau team building sering dianggap atau diposisikan sebagai solusi instan atas problem kerja sama, komunikasi, dan harmonisasi antar karyawan. Konflik internal, rendahnya kolaborasi lintas divisi, hingga lemahnya semangat kebersamaan, kerap dijawab dengan satu resep yang sama: mengirim karyawan mengikuti pelatihan di luar kantor, bermain permainan kelompok, menyeberangi jembatan tali, atau menyelesaikan tantangan simulatif yang dirancang menyerupai kerja tim.

Thursday, January 15, 2026

Monday, January 12, 2026

Stop Menormalisasi Membandingkan Hidup dengan Orang Lain

Mungkin kita pernah mendengar ada teman atau orang lain yang nyeletuk, “Enak ya jadi kamu, punya gaji besar dan jabatan tinggi. Apa pun yang diinginkan tinggal beli.” Atau, “Enak ya jadi kamu, bisa bertemu banyak orang.” Atau, “Enak ya kamu, punya suami berpenghasilan ratusan juta. Kamu cukup duduk dan ongkang-ongkang kaki di rumah bisa beli barang-barang online sebebas-bebasnya.”

Ucapan-ucapan seperti itu sering kali meluncur dengan begitu mudahnya dari lisan kita yang tanpa disadari dapat menghancurkan keimanan sebagai akibat kurangnya rasa syukur. Parahnya, lontaran bernada ‘ketidakpuasan hidup’ itu kadang justru keluar dari mulut orang yang dalam kesehariannya terlihat religius, sholat sunnahnya berjibun, ngajinya kenceng, dan seterusnya. Sehingga menjadi pertanyaan: sejauh mana ketekunan ibadahnya itu ter-refleksi atau berbanding lurus dengan pengamalan sehari-hari dalam hidup. Seakan tidak ada bekas sama sekali antara ibadah dengan kepasrahan menerima kehidupan. Ibadah hanya seolah menjadi penanda bahwa ia adalah orang terlihat yang lebih baik dalam hal agama. Padahal sesungguhnya ia tidak memahami atau meresapi sampai mendalam bagaimana konsep keimanan yang harus ditegakkan dalam kehidupan nyata. Kita juga sering melupakan sesuatu yang tidak tampak dari kehidupan orang lain. Apa yang tampak lapang di mata manusia, belum tentu lapang di sisi yang menjalaninya. Sebab kebahagiaan dan kesempitan bukanlah semata perkara harta, status, atau jabatan, melainkan ujian yang Allah titipkan kepada hamba-Nya.

Maka guna membuktikan bahwa iman itu sudah melekat dalam dada, berhentilah untuk membandingkan takdir seseorang dengan takdir yang lain. Yang terlihat sebagai sebuah “nikmat” bisa jadi di balik itu terdapat sejumlah ujian kesabaran yang panjang. Bisa jadi seseorang yang engkau katakan hidupnya “enak” sebenarnya tengah memikul beban yang tak sanggup ia pikul. Ia hanya memilih untuk tidak banyak berkeluh kesah kepada manusia. Bisa jadi ia sedang menahan letih, menyimpan air mata, atau berjuang bertahan di tengah badai yang tak diketahui kapan selesainya. Kalau pun ada orang lain yang dikatakan lebih sukses dibanding kita, bisa jadi ia telah memulai perjuangannya dari awal dengan begitu berat. Artinya apa yang ia raih sekarang memang merupakan hasil dari keringat kerja keras dan ketekunannya dari dulu. Sementara kita yang tidak bisa melakukan usaha yang sama hanya bisa merasakan iri dengki yang melahirkan ketidaktenangan hidup. 

Lisan sendiri memang menjadi suatu persoalan yang kelihatannya sepele namun memiliki dampak yang besar dalam menentukan level atau tingkat keimanan seseorang. Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam yang berarti bahwa jika kita tidak bisa berbicara sesuatu yang bermanfaat maka diam adalah pilihan yang lebih baik untuk menghindari dosa dan keburukan karena setiap ucapan akan dihisab di akhirat kelak. Jika di dalam hati terlintas rasa iri melihat kehidupan orang lain, kembalikanlah semuanya kepada syukur. Sebab syukur adalah kunci bertambahnya nikmat, sebagaimana firman Allah, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Namun jika kamu kufur, maka sungguh azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim: 7).

Syukur bukan berarti hidup tanpa ujian, melainkan kemampuan untuk tetap melihat kasih sayang Allah di balik setiap keadaan. Bahkan dalam rutinitas yang melelahkan sekalipun selalu ada tanda-tanda nikmat Allah jika hati mau merenung. Dan ingatlah, kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang tersembunyi di balik kehidupan seseorang. Bisa jadi di balik “kesuksesan” yang kita lihat dalam pandangan mata, ia sedang berjuang merawat orang tuanya yang sakit, menanggung utang yang tak kunjung selesai, menghadapi pasangan hidup yang keras kepala, atau menghadapi tingkah laku anak-anaknya yang sulit dikendalikan. Bisa juga ia sedang berjuang mempertahankan kehidupan rumah tangganya yang nyaris hancur berantakan, memperjuangkan impian-impian masa depan yang masih panjang, atau menahan rindu dengan keluarganya karena jarak dan keadaan.

Maka janganlah tergesa-gesa menilai hidup kita lebih rendah dibanding orang lain. Setiap hamba sedang berjalan di jalannya masing-masing dengan ujian yang telah Allah atur. Tugas kita bukan membandingkan namun alangkah baiknya saling mendoakan. Tidak perlu lagi mengomentari takdir namun lebih baik memperbaiki rasa syukur dan mempertebal kesabaran dalam menjalani ketetapan-Nya.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga lisan kita, melembutkan hati kita, dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dalam kelapangan rizki serta bersabar dalam kesempitan. Aamiin. 

membandingkan hidup

Intermezzo

Travel

Teknologi