Saturday, October 13, 2018

Mengunjungi “Kota Batik” Pekalongan, Oktober 2018

Sejak perusahaan tempat saya bekerja diakuisisi oleh institusi keuangan lokal yang berpusat di Pekalongan, baru kali ini saya berkesempatan mengunjungi langsung lokasi kantor pusat holding company di ”kota batik” tersebut.

Di sela-sela padatnya jadwal meeting pembuatan sistem B2B, saya dan kolega kantor yang bersama-sama melakukan kunjungan ke Pekalongan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk meng-explore sebagian kecil Kota Pekalongan meskipun sebelumnya saya juga pernah singgah ke kota ini dalam rangka melaksanakan suatu survey risiko.

Beberapa titik yang berhasil dikunjungi pada kesempatan ini antara lain alun-alun Pekalongan yang lokasinya memang tidak terlalu jauh dari tempat menginap, Kampung Batik Kauman Pekalongan, dan Pasar Grosir Batik Setono sebagai salah satu sentra penjualan batik terlengkap dan termurah di Kota Pekalongan.

Wisata kuliner yang biasanya berusaha dikunjungi pertama kali oleh pengunjung dari luar kota Pekalongan adalah ”garang asem”. Salah satu warung makan yang cukup populer menjual menu khas kota Pekalongan ini adalah Garang Asem H. Masduki. Lokasinya persis berada di sebelah alun-alun, tepatnya di Kompleks Travel Alun-Alun Kota Pekalongan. Warung makan ini telah hadir sejak tahun 1950-an dengan menu favorit garang asem. Menurut pemiliknya, garang asem yang dijual di tempat ini dibuat dari bumbu kluwak sehingga menyebabkan warna garang asem menjadi kecoklatan. Daging yang dipakai juga bukan daging ayam namun daging sapi yang dipotong-potong. Sekilas seperti menu rawon biasa namun dengan kuah yang agak lebih bening di atasnya dan makin kecoklatan di bawahnya. Campuran bumbu yang ada menyebabkan rasa kuahnya begitu menyegarkan. Menemani garang asem, nasi megono turut menjadi pelengkap bagi menu makan siang kami waktu itu. Nasi megono ini dibuat seperti membuat nasi biasa yaitu dengan dikukus, sementara campuran nasinya berupa bunga kecombrang dan parutan kepala serta cabe.

Harga yang ditawarkan ke pengunjung juga tidak terlalu mahal dan terpampang dengan jelas pada selembar spanduk yang dibentangkan di tembok ruangan makan. Sebagai contoh, garang asem plus telor dihargai Rp 26.000,00 seporsinya, nasi megono Rp 4.000,00 per piring, serta beberapa menu minuman seharga Rp 5.000,00-an per gelas.   

Selain wisata kuliner, kita pastinya sudah mengetahui bahwa Kota Pekalongan terkenal sebagai kota produsen baju batik. Di sejumlah titik di sudut-sudut jalan perkotaan, kita bisa menjumpai toko-toko batik yang menyediakan berbagai model untuk dijual kepada pengunjung toko. Beberapa papan petunjuk memperlihatkan juga kepada kita bahwa penjual batik dapat ditemui juga di gang-gang perumahan di kota tersebut. Namun dari sejumlah tempat yang saya kunjungi berdua dengan teman kantor kemarin, dari sisi harga, variasi desaian, dan jenis pakaian yang dijual, tidak ada yang selengkap di Pasar Grosir Batik Setono, Pekalongan. Di sini, Anda dapat mengelilingi berbagai kios yang berderet dari ujung ke ujung. Lokasinya yang berada di tepi jalur lalu lintas Pantura memudahkan pelancong untuk menemukan lokasi pasar ini. Dengan berkumpulnya pengusaha batik di pasar grosir ini, harga yang ditawarkan kepada pengunjung bisa lebih kompetitif dibandingkan jika Anda mencari batik di pusat kota atau toko-toko modern di Kota Pekalongan.  
Garang Asem H Masduki, Kompleks Travel Alun-Alun Kota Pekalongan

Garang Asem H Masduki
garang asem
Garang Asem H Masduki
garang asem
Wujud Garang Asem Plus Telor
nasi megono
Nasi Megono
garang asem
Kasir Garang Asem H Masduki
Pekalongan
Alun-Alun Kota Pekalongan
Pekalongan
Pekalongan ; World's City of Batik
Setono
Pasar Grosir Batik Setono Pekalongan
Pasar Grosir Batik Setono Pekalongan

No comments: