Dari “Jayakarta” ke “Batavia” ; Berakhirnya Masa Kekuasaan Fatahillah dan Penerusnya di Sunda Kelapa - POJOKCERITA

Thursday, November 29, 2018

Dari “Jayakarta” ke “Batavia” ; Berakhirnya Masa Kekuasaan Fatahillah dan Penerusnya di Sunda Kelapa

Keruntuhan Sunda Kelapa yang sebelumnya dikuasai oleh Portugis pasca serangan Fatahillah beserta pasukannya di tanggal 22 Juni 1527 M telah membuat Sultan Trenggana di Kerajaan Demak diliputi rasa bahagia yang luar biasa.

Keberhasilan penaklukan Sunda Kelapa tersebut juga semakin memperkecil pengaruh raja-raja Hindu Pajajaran di wilayah Sunda Kelapa dan sekitarnya. Sebagai gantinya lahirlah sebuah kota dengan mayoritas berpenduduk muslim yang dinamakan “Jayakarta” yang artinya “kota kemenangan”. Diangkatlah Fatahillah sebagai adipati pertama dengan gelar “Pangeran Jayakarta”.

Setelah beberapa tahun memimpin dan berkuasa di Jayakarta, Fatahillah kemudian memutuskan untuk kembali ke Cirebon dan mewariskan tahtanya di Jayakarta kepada generasi penerusnya. Fatahillah sendiri kemudian diketahui meninggal dunia pada tahun 1570 dan dimakamkan di Sembung, Bukit Gunung Jati, Cirebon.

Sejak runtuhnya kekuasaan Portugis atas Sunda Kelapa yang kemudian beralih nama menjadi Jayakarta, banyak pelarian Portugis yang memberikan informasi kepada orang-orang Belanda tentang kemakmuran Jayakarta. Dari sinilah dimulai episode Belanda untuk memulai ekspedisi guna menaklukan Jayakarta dari tangan kekuasaaan orang Islam di bawah pimpinan Fatahillah yang bergelar Pangeran Jayakarta. Jabatan adipati Jayakarta yang sebelumnya dipegang oleh Fatahillah kemudian beralih ke Ki Bagus Angke (1570 – 1596) lalu ke Pangeran Jayakarta Wijayakrama (1596 – 1619).

Awal mula keruntuhan Jayakarta dimulai dengan kedatangan 4 (empat) buah kapal Belanda di bawah pimpinan Cornellis de Houtman di tanggal 13 November 1596 yang disusul dengan adanya perjanjian antara penguasa Jayakarta waktu itu (Pangeran Jayakarta Wijayakrama) dengan Kapten Jacques L’Hermite dimana VOC diperbolehkan untuk membangun sebuah gudang permanen pertamanya di timur Sungai Ciliwung. Gudang ini kemudian diberi nama Nassau Huis. 

Tahun 1617, Jan Pieterzoon Coen yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jendral VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) ke-4 memperluas Nassau Huis dengan membangun gedung berikutnya bernama Mauritius Huis. Diantara kedua gedung ini dibangun tembok persegi membentuk benteng yang dilengkapi dengan meriam di setiap sudutnya.

Pendirian benteng ini menimbulkan kemarahan Pangeran Jayakarta Wijayakrama karena Jan Pieterzoon Coen telah melanggar perjanjian dengan mengubah lojinya menjadi benteng pertahanan perang. Akhirnya dengan bantuan orang-orang Inggris yang bentengnya tidak berjauhan dengan VOC, pada tanggal 23 Desember 1618 Pangeran Jayakarta Wijayakrama mengadakan persiapan serangan melawan VOC. Untuk menghindari kekalahan karena kurangnya jumlah pasukan maka kapal-kapal Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen kemudian segera meninggalkan Jayakarta menuju Maluku untuk menghimpun armada perang yang lebih lengkap. 

Pada tanggal 30 Mei 1619, pasukan VOC di bawah komando Jan Pieterzoon Coen tiba dari Maluku dan bergerak masuk ke Jayakarta dan membumihanguskan seluruh kota beserta isinya. Tidak ada perlawanan yang berarti dari pihak Pangeran Jayakarta Wijayakrama. Pasca kejadian jatuhnya Jayakarta ke tangan VOC, nama Jayakarta berubah menjadi Nieeuw Hoors yang kemudian berganti lagi ke nama baru : Batavia.

Jayakarta

Jayakarta

Huis Nassau

Jayakarta

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda