Batik Sebagai Warisan Luhur Budaya Indonesia - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Monday, April 6, 2020

Batik Sebagai Warisan Luhur Budaya Indonesia

Batik kini sudah tidak dianggap sebagai baju tradisional yang hanya dipakai pada acara-acara tertentu atau dikenakan oleh orang-orang dari kalangan tertentu saja. Perkembangan fashion telah membawa batik pada fase transformasi yaitu dari busana khusus di acara-acara resmi menjadi busana yang dapat dipakai dalam berbagai kesempatan.

Batik itu sendiri mempunyai sejarah yang cukup panjang dan telah menjadi warisan budaya luhur bangsa Indonesia yang berlangsung turun-temurun. Secara etimologi, “batik” berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti “lebar”, dan “titik” yang berarti titik yang kemudian digabung menjadi kata baru “batik” yaitu “menghubungkan titik-titik menjadi gambar tertentu pada kain yang lebar.”

Sejarah batik di Indonesia dimulai sejak abad ke-18 yang awalnya ditulis di atas daun lontar dengan motif yang didominasi gambar hewan atau tanaman. Namun dalam perkembangannya, corak batik tersebut berkembang menjadi motif abstrak seperti gambar awan, relief candi, wayang, cerita rakyat, dan lain-lain. 

Corak dan warna batik tradisional nusantara sangat bervariasi sesuai dengan filosofi dan budaya yang ada di daerah masing-masing. Khazanah budaya Indonesia yang sangat kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak motif batik. Jadi meskipun asal mula kata batik berasal dari bahasa Jawa namun sebenarnya tradisi membatik telah tersebar di berbagai penjuru nusantara seperti Toraja, Halmahera, Flores, sampai Papua. 

Berbagai jenis batik yang beragam itu dibuat dengan teknik pembuatan di atas sehelai bahan berwarna putih yang terbuat daru kapas atau sering disebut kain mori. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin atau malam dengan menggunakan alat yang dinamakan canting. Kain tersebut kemudian dicelup sesuai warna yang diinginkan yang akan menghasilkan kain batik tulis.

Pembuatan batik tulis harus dilakukan dengan sangat teliti dan tingkat kesabaran yang tinggi karena memerlukan waktu lama hingga berbulan-bulan yang biasanya secara khusus dibuat oleh kaum wanita. Seiring perkembangan teknologi mulai dikenal batik cap yang menggunakan tenaga mesin.

Pada masa dahulu, batik hanya dapat dibuat secara terbatas di lingkungan keraton atau istana guna mensuplai baju untuk keluarga kerajaan. Selanjutnya batik mulai dikenalkan ke para pengikut atau abdi dalem istana dan selanjutnya menyebar secara luas ke kalangan rakyat jelata. Batik dengan motif tertentu dapat memberikan petunjuk tentang derajat atau status sosial seseorang sehingga ada beberapa motif yang hanya dipakai secara eksklusif oleh keluarga tertentu. Bahkan sampai saat ini pun beberapa motif batik tradisional hanya dapat dipakai di lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Misalnya batik motif “wahyu tumurun” (turunnya wahyu) hanya digunakan dalam upacara “jumenengan” atau perayaan ulang tahun naik tahta. Sementara motif “parang” yang bernuansa ramai hanya dipakai pada saat pesta atau perayaan. Sementara untuk melayat digunakan batik dengan warna yang lebih lembut seperti motif “kawung”. Motif-motif batik tersebut hanya dapat dipakai oleh keluarga keraton dan tidak boleh digunakan oleh rakyat jelata. 

Secara filosofis motif batik akan berbeda-beda pula dengan menyesuaikan kebudayaan daerah setempat. Misalnya saja di Jawa, batik telah menyebar ke berbagai daerah seperti Mojokerto, Tuban, Sidoarjo, Pekalongan, Cirebon, dan lain-lain dimana daerah-daerah tersebut memiliki latar belakang adat dan tradisi yang berbeda satu sama lain. Misalnya di Cirebon sebagai salah satu pusat kebudayaan Islam Jawa yang mendapat pengaruh Cina memiliki motif batik yang khas bernama “megamendung” yaitu motif batik bergambar awan dengan warna-warna tegas. Bentuk awan melambangkan “dunia atas” dimana sang pemakai batik ini diharapkan akan selalu mengingat nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupannya.

Seiring dengan perkembangan jaman, batik kini telah berevolusi menjadi busana yang dinamis dan dapat menyesuaikan diri dengan kalangan muda. Hal ini terlihat dari munculnya industri batik kontemporer dimana corak yang ditampilkan menyesuaikan trend namun tidak melupakan esensi dari seni batik itu sendiri. Motif batik juga kini telah digunakan sebagai corak di berbagai macam barang kerajinan seperti patung, topeng, furniture, dan lain-lain.

Indonesia boleh berbangga karena batik tidak hanya mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri namun juga telah mendunia dimana sejak tanggal 02 Oktober 2009, batik Indonesia ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO.

Referensi :
https://web.archive.org/web/20120618011114/http://museumtekstiljakarta.com/artikel/

batik

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda