Pempek Palembang ; Makanan Tradisional Khas 'Wong Kito Galo' - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Sunday, May 17, 2020

Pempek Palembang ; Makanan Tradisional Khas 'Wong Kito Galo'

Tak ada Palembang jika tak menyebut makanan yang satu ini, pempek, begitu juga sebaliknya, menyebut pempek pasti akan langsung lekat dengan Kota Palembang.

Begitu terkenalnya pempek, sampai makanan ini pun masuk dalam glossary Wikipedia. Artinya makanan ini memiliki posisi penting ketika membicarakan kuliner Indonesia terutama Kota Palembang pada khususnya dan Provinsi Sumatera Selatan pada umumnya.

Hampir dapat dikatakan bahwa di setiap aktivitas kehidupan masyarakat Sumatera Selatan, termasuk Kota Palembang, terdapat pempek sebagai pelengkap roda kegiatan sehari-hari di sana. Dari mulai tempat yang mentereng sampai warung-warung kecil di sudut kota dipastikan ada orang yang menjual atau menyediakan pempek.

Sejarah Pempek Palembang

Kalau Anda familiar dengan nama Sultan Mahmud Badaruddin II yang dinobatkan menjadi salah satu pahlawan nasional yang menjadi penguasa Kesultanan Palembang Darussalam, maka di saat itulah dikabarkan pempek masuk ke Palembang yang dibawa oleh para perantau Tionghoa. Dan nama pempek diduga berasal dari kata “apek” atau “pek-pek” yang artinya paman atau lelaki tua Tionghoa. Seseorang ini yang mencoba memanfaatkan tangkapan ikan yang masih banyak ditemui di sepanjang Sungai Musi, untuk diolah menjadi makanan alternatif dengan mencampurnya dengan tepung tapioka sehingga dihasilkan menu makanan baru. Karena dijual secara berkeliling dengan meneriakkkan kata “pek...pek...” maka makanan ini kemudian dikenal dengan sebutan “pempek”.

Versi yang sedikit berbeda menyatakan bahwa pempek adalah asli makanan lokal masyarakat Palembang di bawah Kesultanan Palembang Darussalam. Waktu itu belum dinamakan pempek namun “kelesan” karena makanan ini dapat di”keles” atau disimpan dalam waktu lama. Makanan ini biasanya disajikan dalam upacara tradisional yang makin lama makin populer sebagai makanan di setiap waktu. Meskipun disebut sebagai produksi asli masyarakat Palembang namun yang banyak menjual makanan ini waktu itu adalah para pedagang pendatang dari kalangan Tionghoa. Konon karena ada seorang penjual kelesan warga Tionghoa yang biasa dipanggil Apek maka orang kemudian mengenal makanan kelesan itu sebagai pempek (dari kata panggilan apek).

Ikan Tenggiri sebagai Bahan Utama Pempek

Meskipun bisa saja menggunakan jenis ikan lain namun memakai ikan tenggiri merupakan pilihan yang baik dalam membuat pempek (sebelum ikan tenggiri, awalnya dipakai ikan belida). Ikan tenggiri sebagai pengganti ikan belida terbukti masih memungkinkan karena tak kalah enak. Ikan tenggiri juga relatif mudah diolah menjadi santapan lain selain pempek misal digoreng atau dibakar. Cita rasa dagingnya yang gurih membuat ikan ini menjadi ikan favorit dalam pembuatan pempek. Durinya pun mudah dilepas. Akibatnya harga jual di pasar ikan pun ikut melambung tinggi dibanding ikan-ikan lain.

Setelah menghilangkan bagian duri, ikan tenggiri dicampur dengan garam, minyak sayur, dan air dingin, lalu diaduk hingga halus merata (bisa memakai mesin giling daging untuk hasil yang baik). Setelah diaduk secara perlahan lalu masukkan pempek yang sudah dibentuk ke air yang mendidih. Tunggu hingga mengapung sebelum ditiriskan. Bagi penggemar pempek yang harus disajikan dengan cuka maka disiapkan juga cuka pempek yang dibuat dengan cara merebus air bersama gula aren sampai air mendidih. Masukkan asam jawa, bawang putih dan cabai yang sudah dihaluskan, plus garam secukupnya. Setelah selesai, kini pempek bisa dinikmati bersama cukanya sehingga rasanya tidak terlalu membosankan di mulut.

Beberapa Bentuk Pempek

Pempek memiliki beberapa variasi bentuk sehingga tidak membosankan, misalnya pempek lenjer, telur kecil, keriting, dan yang paling terkenal tentu saja pempek kapal selam. Bentuk lenjer merupakan jenis yang paling sederhana dan mudah dibuat karena hanya berupa gulungan memanjang. Pempek telur kecil memiliki kantung di dalam yang berisi telur berukuran kecil. Pempek keriting dibuat dengan menggunakan peralatan khusus agar dapat dibentuk sesuai dengan cetakannya. Sedangkan pempek kapal selam mirip dengan pempek telur kecil, hanya saja telur yang dipakai adalah telur utuh sehingga ukurannya menjadi lebih besar. 

Apapun pilihan bentuk pempek yang Anda suka tidak menjadi masalah karena sama-sama melestarikan jenis makanan tradisional Indonesia yang perlu terus dipertahankan eksistensinya. Maka menikmati pempek di Palembang berarti ikut menjaga kekayaan kuliner nusantara. Datanglah ke Palembang, niscaya Anda dapat melihat antusiasme masyarakat lokal menikmati makanan yang satu ini di setiap sudut kehidupan masyarakat di sana. Pantas saja kawan baik saya yang menemani berkeliling Kota Palembang pernah bilang tentang begitu populernya ungkapan masyarakat di sana yang mengatakan, “kalu pagi idak ngirup cuko seraso belum makan.” Gambaran ini menjadi ungkapan yang pas bahwa menyantap cuka dan pempek seakan menjadi "ritual" wajib bagi warga Kota Palembang. Caranya, pempek dicocol dengan cuka lalu baru dimakan dan cuko (cuka)-nya sembari di-”irup” (diminum) dari wadah kecil yang mudah digenggam tangan. 

Untuk tempat makan pempek sendiri di Kota Palembang tentu banyak sekali pilihannya. Namun dalam kesempatan berlibur ke sana, kami sempat dibawa “tuan rumah” ke beberapa tempat seperti Pempek Vico dan Pempek Nony 168.

pempek

pempek Palembang

pempek Palembang

pempek Palembang

pempek Palembang

pempek Palembang

pempek

pempek

pempek

pempek
Silakan tulis komentar Anda