Capung; Sang 'Naga Terbang' yang Mampu Bermigrasi dalam Jarak Perjalanan yang Jauh - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Saturday, August 22, 2020

Capung; Sang 'Naga Terbang' yang Mampu Bermigrasi dalam Jarak Perjalanan yang Jauh

Capung adalah serangga terbang pertama yang ada di dunia. Kemunculannya sudah ada sejak jaman karbon pada sekitar 360 sampai 290 juta tahun lalu yang berawal dari serangga akuatik yang berevolusi dan memiliki kemampuan terbang.

Capung yang berasal dari subordo Anisoptera dan Capung Jarum yang berasal dari subordo Zygoptera memiliki perbedaan yang relatif mudah dikenali pada bentuk tubuhnya. Capung umumnya memiliki ukuran tubuh relatif besar dan ketika hinggap di suatu tempat maka sayapnya akan terbuka ke samping. Sedangkan Capung Jarum memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil, bentuk abdomennya mirip jarum dan ketika hingga, sayap pada bagian punggungnya akan menutup atau menyatu. Sama seperti serangga pada umumnya, struktur tubuh capung terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu kepala yang terdapat mata berukuran besar, dada atau thorax dengan 4 (empat) sayap dan 3 (tiga) pasang kaki, serta perut atau abdomen yang terdiri dari 10 (sepuluh) segmen.

Data berbagai sumber menyampaikan saat ini terdapat 6.000 jenis capung di seluruh dunia dan sekitar 15% atau sekitar 900 jenis hidup di Indonesia. Dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia, capung memiliki nama lain seperti papatong di Sunda, kinjeng di Jawa, dan kasasiur di Banjarmasin.

Wilayah di Indonesia yang memiliki keanekaragaman capung terbanyak berada di Papua. Dari data yang ada, Papua memiliki sekitar 400 jenis capung dan masih terus bertambah karena banyak yang belum teridentifikasi, disusul Sumatera dan Kalimantan yang masing-masing memiliki 280 jenis spesies capung, serta Sulawesi dan Maluku yang memiliki masing-masing 140 spesies.

Capung dan Capung Jarum hidup di habitat seperti hutan, sawah, kebun, sungai, danau, hingga pemukiman desa dan perkotaan. Serangga ini juga mampu hidup di daerah pesisir pantai hingga daratan dengan ketinggian 3000 meter di atas permukaan laut. Capung dapat terbang ke segala arah, termasuk menyamping dan mundur, bahkan terbang diam di 1 (satu) titik selama lebih dari beberapa menit. Bahkan, capung dari spesies Pantala flavescens mampu terbang dengan menempuh jarak 11.000 mil dan memecahkan rekor migrasi serangga terjauh di dunia. Kemampuan terbang tersebut bersumber dari 2 (dua) pasang sayap dengan otot di antara kepala dan abdomen yang dapat bergerak dengan arah berlainan. Dengan bentuk dan kemampuan terbang itulah tidak berlebihan capung mendapat julukan legenda naga terbang.

Serangga jenis ini tidak dapat hidup di daerah yang jauh dari air karena mereka memiliki kebiasaan ketika bertelur akan menaruh telurnya di sekitar tanaman air yang menggenang. Setelah telur-telur capung menetas, larva capung akan hidup dan berkembang di dasar perairan, lalu mengalami metamorfosis dan menjadi nimfa hingga keluar dari air berubah menjadi capung dewasa.

Sementara itu, capung dewasa yang sering kita temukan sebenarnya hanya mampu bertahan hidup selama 4 (empat) bulan. Sebagian besar masa hidup capung dihabiskan dalam bentuk nimfa dengan sistem pernapasan insang internal di bawah permukaan air. Nimfa capung adalah hewan yang ganas yang dapat memburu dan memangsa berudu dan ikan-ikan kecil. Ketika dewasa, capung dapat menangkap nyamuk, lalat, dan serangga kecil lainnya.

Efek negatif dari munculnya perubahan iklim tidak dirasakan dalam kehidupan manusia sehari-hari namun juga pada kehidupan serangga seperti capung. Perubahan iklim termasuk salah satu dari 4 (empat) penyebab utama berkurangnya populasi capung, selain penyebab kimia, biologis, dan hilangnya penyerbuk. Selain itu, kenaikan suhu air juga berpengaruh terhadap reproduksi capung. Semakin tinggi suhu air maka kadar oksigen akan semakin rendah sehingga tidak cocok lagi sebagai habitat hidup larva dan nimfa.

Pencemaran air, menyusutnya lahan pertanian maupun ruang terbuka hijau, alih fungsi hutan, penggunaan bahan kimia ditambah peningkatan sampah limbah domestik dan industri semakin mempersempit ruang hidup atau habitat ekosistem capung di alam. Tidak hanya itu, di Indonesia, perburuan dan perdagangan binatang liar saat ini tidak hanya tertuju pada hewan-hewan besar seperti harimau, badak, gajah, dan burung, namun juga serangga kecil seperti capung. Meskipun kepopuleran capung masih berada dibawah kupu-kupu dan kumbang namun kolektor-kolektor dari luar negeri sudah mulai memburunya. 

Diharapkan masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga ekosistem lingkungan dengan baik agar populasi capung tidak semakin menurun tajam, guna menghindari makin punahnya hewan yang satu ini.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda