Salahkah Menjadi Orang Baperan ? - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Monday, May 3, 2021

Salahkah Menjadi Orang Baperan ?

Manusia diberikan karunia akal, pikiran, dan karakter yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Salah satunya adalah dijumpainya orang-orang tertentu yang perasaannya sensitif atau sering disebut sebagai orang dengan tipe “baperan”.

Stereotip yang melekat pada orang baperan biasanya mengarah ke hal kurang baik, dalam arti orang baperan dianggap memiliki mental yang lemah. Sedikit disenggol langsung tersinggung. Namun apakah orang baperan lalu selalu harus dinilai sebagai pribadi yang jelek ?. 

Meskipun terkesan memiliki dimensi negatif karena munculnya “overthinking” dalam menyikapi berbagai hal, namun menurut saya tak ada yang salah dengan orang baperan. Dalam kadar dan kasus tertentu, mudah baper karena dikritik tentu bukan hal baik karena selama kritik tersebut disampaikan secara elegan dan tanpa maksud untuk menjatuhkan, maka tidak perlu kita dibawa baper.

Namun dari sisi lain, orang dengan sifat baperan (bawa perasaan) memiliki tingkat simpati dan empati yang tinggi. Misal Anda melihat nenek-nenek tua berjualan di pinggir jalan dengan bawaan yang berat. Jika hati Anda tersentuh dengan kondisi sang nenek, itu berarti Anda memiliki sifat baperan. Hati Anda mudah leleh dan luluh oleh situasi dan keadaan tertentu yang dialami orang lain. 

Sebaliknya, jika kita tidak mempunyai sifat baperan, kita tidak bakal bisa menumbuhkan rasa simpati dan empati kepada orang. Nasib dia urusan dia, nasib kita urusan kita. Hampir tak ada sisi humanisme atas penderitaan orang lain yang jauh di bawah kita. Berbeda dengan orang baperan. Hatinya yang lembut akan mudah tersentuh dan sangat peka dengan kondisi di sekitarnya. Ia menjadi pandai membaca situasi sehingga mampu memperlakukan orang secara semestinya. Ia bisa lebih mampu mendengarkan curhatan orang dan berusaha memberikan jalan penyelesaian sesuai kemampuannya. Secara pergaulan, ia dapat menjunjung nilai-nilai etika yang berlaku umum, kapan harus bertindak, kapan harus diam. Berbicara tidak sekedar keluar omongan karena ia harus menjaga betul perasaan orang. Bertindak pun tak gegabah. Semuanya diperhitungkan agar tidak ada orang yang akan tersinggung atau tersakiti hatinya.

Maka di dalam pergaulan mana pun, sejauh mungkin hindarilah hal-hal tak pantas yang dapat membuat orang lain baper. Kata-kata yang keluar dari mulut harus dijaga dengan baik. Melemparkan candaan harus tepat dan tak bernada ejekan atau merendahkan martabat orang. Memarahi orang dengan cara frontal juga tak baik. Ingat bahwa pada dasarnya semua orang tidak ingin hatinya tersinggung dan sakit hati bukan ?. Jadi lebih baik saling menghormati antar sesama. Jaga perasaan orang niscaya orang pun akan menjaga perasaan kita. Anda sopan, kami segan. Oke kawan ?!. 

man

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda