Teori Keruntuhan Majapahit ; Diserang Demak atau Diserang Kediri ? - POJOKCERITA

Tuesday, September 27, 2022

Teori Keruntuhan Majapahit ; Diserang Demak atau Diserang Kediri ?

Dalam buku “Muslim Bali ; Mencari Kembali Harmoni yang Hilang” karya Dhurorudin Mashad, peneliti senior LIPI, ditulis tentang setidaknya 2 (dua) teori keruntuhan Majapahit.

Versi pertama menyebutkan bahwa Majapahit runtuh karena pemberontakan Raden Patah terhadap Raja Majapahit kala itu, Prabu Brawijaya V atau Raden Kertabumi, yang tak lain dan tak bukan adalah ayah kandungnya sendiri. Versi pertama ini antara lain tertuang dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. 

Versi kedua menyatakan bahwa keruntuhan Majapahit bukan disebabkan karena serbuan tentara Islam Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah dimana berdasarkan Prasasti Petak dan Trailokyapuri, Majapahit runtuh akibat serangan tentara Keling atau Kediri di bawah kepemimpinan Girindrawardhana atau Ranawijaya pada tahun 1478 Masehi. Ia membawa seluruh simbol keraton Majapahit dan mengukuhkan dirinya sebagai Brawijaya VI. Kekuasaan Brawijaya VI tidak berlangsung lama karena patihnya sendiri melakukan kudeta. Selanjutnya pada saat tahta Majapahit dipegang oleh Patih Udara yang mengkudeta Brawijaya VI, ia lantas menyebut dirinya sebagai Brawijaya VII. Pada saat itulah Demak kemudian menyerang dan menaklukkan Majapahit.

Runtuhnya Majapahit di masa Raden Kertabhumi atau Bhree Wijaya V atau Prabu Brawijaya V ditandai dengan surya sengkala “Sirna ilang kertaning bhumi” atau “Sirna hilanglah kemakmuran bumi” yaitu pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi.

Menurut Prasasti Jiyu dan Petak, Ranawijaya setelah mengalahkan Kertabumi atau Prabu Brawijaya V, lalu memindahkan ibu kota ke Daha atau Kediri. Peristiwa ini memicu peperangan antara Daha dan Kesultanan Demak yang dimenangkan oleh Demak. Dengan jatuhnya Daha oleh Kesultanan Demak pada tahun 1527 Masehi maka dapat dikatakan bahwa Raden Patah menjadi penerus Kerajaan Majapahit dimana ia dilegitimasi oleh garis keturunannya yang menyambung ke Prabu Brawijaya V melalui putri Cina. 

Teka-Teki Agama Prabu Brawijaya V

Dari beberapa sumber disebutkan bahwa Raden Patah sangat berharap ayahnya dapat masuk Islam, apalagi putri Campa sudah terlebih dahulu memeluk agama Islam saat dinikahi Prabu Brawijaya V. 

Dalam buku “Bunga Rampai Sejarah dan Destinasi Wisata Malo Bojonegoro” karya Puguh Budiarto dkk disebutkan bahwa pada saat Prabu Brawijaya V menganut agama Budha, oleh Raden Patah berusaha diislamkan melalui bantuan Sunan Kalijaga. Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya Prabu Brawijaya V bersedia memeluk agama Islam dan bergelar Sunan Lawu. Beliau kemudian menetap di daerah tersebut sambil mengajarkan dan menyebarkan agama Islam.

Dalam buku “Kontroversi Ajaran Kebatinan” karya Wawan Susetya bahkan menyebutkan bahwa proses pengislaman Prabu Brawijaya sudah dimulai sejak pernikahan dengan putri Campa. Awalnya yang mencoba membujuk sang prabu adalah Dwarawati, sang putri Campa, alias istrinya sendiri. Dwarawati tak bosan-bosan membujuk sang suami agar masuk Islam yang kemudian berhasil membuat sang prabu beralih agama dari Budha menjadi Islam.

Pada versi lain disebutkan bahwa kisah masuk Islamnya Prabu Brawijaya terjadi saat ia bertemu dengan Sunan Kalijaga di daerah Blambangan dimana saat itu Prabu Brawijaya tengah melarikan diri guna meminta bantuan dari Kerajaan Bali guna memukul mundur balatentara Demak pimpinan Raden Patah yang menyerang Majapahit. Saat pertemuan itulah Sunan Kalijaga berhasil mengajak Prabu Brawijaya masuk Islam.

majapahit

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda