Berlebih-lebihan dalam Belajar Tahsin; Antara Kesungguhan dan Penyimpangan Tujuan - POJOKCERITA

Friday, February 6, 2026

Berlebih-lebihan dalam Belajar Tahsin; Antara Kesungguhan dan Penyimpangan Tujuan

Belajar tahsin Al-Qur’an pada dasarnya adalah sebuah kegiatan atau aktivitas yang mulia. Ia lahir dari keinginan untuk membaca Kitabullah dengan baik, benar, dan sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan. Namun kadangkala belajar tahsin tidak terlepas dari potensi penyimpangan manakala kesungguhan belajar itu berubah menjadi sikap yang terlalu berlebihan (ghuluw atau takalluf). Pada titik inilah niat baik justru dapat melahirkan praktik yang keliru, memberatkan, dan bahkan menjauhkan seseorang dari tujuan utama membaca Al-Qur’an itu sendiri.

Ghuluw dalam belajar tahsin dapat dimaknai sebagai sikap melampaui batas kewajaran yang telah ditetapkan oleh syariat. Salah satu bentuknya adalah memaksakan pengucapan huruf secara ekstrem, seolah-olah setiap bunyi harus ditarik, ditekan, atau dipelintir melebihi tabiat alami manusia. Huruf-huruf yang sejatinya mudah justru dibuat menjadi rumit sehingga bacaannya terdengar tidak natural lagi, cenderung kaku, dan terkadang malah keluar dari makhraj yang benar. Langkah belajar tahsin yang dimaksudkan untuk menyempurnakan bacaan justru berpotensi menjadi sebaliknya yaitu merusak.

Seharusnya pengucapan huruf Al-Qur’an itu cukup disesuaikan dengan kemampuan manusia secara normal, bukan dipaksakan hingga menyalahi fitrah. Tajwid tidak pernah diwujudkan dengan mengolah lidah secara ekstrem atau latihan artikulasi yang menyiksa. Ia adalah ilmu yang berfungsi menjaga bacaan dari kesalahan yang nyata, bukan alat untuk memancing kesulitan suara.

Bentuk ghuluw ini pada akhirnya dapat berujung pada pengabaian atas makna kandungan Al-Qur’an itu sendiri. Tidak sedikit pembelajar yang tenggelam dalam detail-detail hukum bacaan seperti panjang mad, ketebalan huruf, atau sifat-sifat yang sangat rinci namun kehilangan relasi batin dengan ayat yang dibacanya. Al-Qur’an direduksi hanya sekadar menjadi objek teknis, bukan lagi petunjuk hidup yang seharusnya direnungi, dipahami, dan diamalkan. Kondisi ini patut dikritisi sebab tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an bukanlah untuk menguji ketepatan teknis semata melainkan sebagai hudan (petunjuk) bagi yang membacanya. Tajwid memang penting namun ia hanya sebagai sarana, bukan tujuan akhir. Ketika sarana diagungkan secara berlebihan, tujuan utama menjadi terpinggirkan. Seseorang bisa saja berhasil mencapai level fasih secara teknis tetapi miskin penghayatan, bahkan merasa jauh dari Al-Qur’an karena proses belajar yang terasa berat dan menegangkan.

Lebih jauh, sikap berlebih-lebihan dalam tahsin juga berpotensi menimbulkan dampak sosial yang kurang sehat. Standar bacaan yang terlalu tinggi dan tidak proporsional dapat membuat pemula merasa minder, takut salah, atau enggan belajar. Al-Qur’an yang seharusnya mendekatkan kepada pembacanya justru terasa eksklusif dan menakutkan. Padahal Islam adalah agama yang memudahkan, bukan mempersulit. Prinsip “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” seharusnya juga tercermin dalam metode belajar tahsin.

Belajar tahsin yang ideal adalah belajar yang proporsional yaitu mengikuti kaidah yang benar tetapi tetap realistis dan manusiawi. Kesalahan diperbaiki, bukan dibesar-besarkan. Proses dijalani dengan konsistensi, bukan dengan obsesi. Ada ruang untuk belajar secara bertahap, ada ruang untuk terjadi kesalahan, tanpa tekanan yang berlebihan. Dengan pendekatan seperti ini, tahsin menjadi sarana yang menenangkan, bukan sumber kecemasan.

Selain proporsional, konsistensi juga menjadi kunci. Bacaan yang baik tidak lahir dari latihan ekstrem sesekali, melainkan dari pembiasaan yang berkelanjutan. Sedikit demi sedikit tetapi terus-menerus terasa jauh lebih efektif daripada latihan berat yang hanya bertahan sebentar lalu ditinggalkan karena lelah secara fisik maupun mental. Dalam hal ini, kesederhanaan metode sering kali lebih membawa hasil daripada kerumitan yang dipaksakan.

Pada akhirnya, belajar tahsin harus ditempatkan secara adil. Keberadaannya penting namun tidak absolut. Ia wajib dijaga tetapi tidak untuk memberatkan diri. Menghindari ghuluw dalam tahsin bukan berarti meremehkan tajwid melainkan menjaga agar ilmu ini tetap berada pada jalurnya. Jalur yang selaras dengan fitrah manusia dan semangat Islam sebagai agama yang membawa kemudahan. Dengan sikap inilah tahsin dapat benar-benar menjadi jembatan penghubung antara cara melafadzkan ayat-ayat Al-Qur’an secara benar dan hati yang hidup bersama dengan apa yang dibacanya.

belajar tahsin

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda