Tuesday, November 27, 2018

Pelabuhan Sunda Kelapa di Masa Kini

Dalam tulisan-tulisan sebelumnya sudah dibahas bagaimana sejarah bercerita tentang keberadaan pelabuhan Sunda Kelapa yang pada awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara, lalu berpindah tangan ke Kerajaan Hindu Sunda Pajajaran, sampai akhirnya direbut oleh Fatahillah beserta pasukannya di tahun 1527.

Setelah masa 491 tahun dilewati yaitu sejak ditaklukan oleh Fatahillah di tahun 1527, lalu bagaimana sebenarnya kondisi pelabuhan tersebut saat ini ?. Saya berhasil mencoba memasuki pelabuhan Sunda Kelapa beberapa waktu lalu dan melihat langsung kondisi dan aktivitas terkini di sana.

Sebagai penghobi jalan kaki, saya melakukan perjalanan ke pelabuhan Sunda Kelapa dari Stasiun Jakarta Kota dengan menyusuri Jalan Kali Besar yang searah dengan aliran Sungai Krukut, ke arah utara melewati Jembatan Kota Intan, terus berjalan kembali sampai menemukan pintu gerbang masuk pelabuhan Sunda Kelapa.

Pelabuhan ini bisa diakses dengan semua jenis alat transportasi mulai dari pejalan kaki seperti saya, sepeda motor, mobil, truk, sampai trailer. Untuk pejalan kaki hanya dikenakan biaya masuk sebesar Rp 2.500,00, sepeda motor Rp 3.000,00, mobil Rp 5.000,00, dan seterusnya.

Begitu menginjakkan kaki di kompleks pelabuhan, suasana panas dan kering bercampur debu dan tanah beterbangan sangat terasa. Hal ini tentu saja tidak membuat nyaman bagi pengunjung yang tidak membawa mobil. Maka ada baiknya jika Anda menyiapkan kain sebagai masker untuk mengurangi polusi debu masuk ke saluran pernafasan.

Sesaat ketika mulai menyusuri pinggir dermaga dimana deretan kapal-kapal kayu sedang bersandar, tiba-tiba muncul bapak setengah baya yang menawarkan sewa perahu keliling. Namun saya tidak begitu tertarik karena hanya seorang diri saja ditawari keliling sekitar pelabuhan, sementara tidak ada standard biaya yang diterapkan. Lagi pula melihat-lihat di sekeliling pelabuhan tidak harus dengan menaiki kapal. Cukup berjalan menyusuri pinggir dermaga, kita bisa melihat aktivitas yang biasa terjadi di pelabuhan tradisional seperti ini.

Sejumlah kapal ditemukan sedang bersandar baik tanpa aktivitas maupun yang sedang melakukan kegiatan bongkar muat barang seperti pupuk, semen, dan lain-lain. Deretan truk-truk besar juga terlihat berjejer di sepanjang pinggir pelabuhan. Sementara di bagian lain terlihat tumpukan kontainer yang menambah suasana lain dari sebuah sisi kehidupan sebuah pelabuhan.

Memilih mendatangi pelabuhan Sunda Kelapa di siang hari sepertinya bukan pilihan yang tepat karena sengatan sinar matahari sedang terik-teriknya. Apabila Anda berencana mengunjungi pelabuhan ini, disarankan pada waktu pagi atau sore sekalian sehingga tidak terlalu terasa sengatan mataharinya. Efek guratan sinar sore hari juga dapat menambah keindahan foto jika Anda ingin mengambil gambar dengan latar belakang kapal-kapal Phinisi yang sedang bersandar di pelabuhan. Di sebelah lain, Anda dapat melihat aktivitas bongkar muat barang dengan peralatan yang lebih canggih seperti crane. 

Saya pun pada akhirnya harus segera mengakhiri petualangan di pelabuhan Sunda Kelapa ini karena nyaris tidak ada alasan lain untuk terlalu berlama-lama di sana dikarenakan harus mengunjungi tempat lain yang sudah diagendakan untuk dikunjungi pada hari yang sama.

Sunda Kelapa

Sunda Kelapa

Sunda Kelapa

Sunda Kelapa

Sunda Kelapa

Sunda Kelapa

Sunda Kelapa


Sunda Kelapa

Sunda Kelapa

Sunda Kelapa

Sunda Kelapa

Sunda Kelapa

Sunda Kelapa

Sunda Kelapa

Sunda Kelapa

No comments: