Monday, December 3, 2018

Sejarah Kelam Penjara Bawah Tanah di Gedung Eks Stadhuis van Batavia

Bagi Anda yang baru pertama kali mengunjungi Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal dengan Museum Fatahillah mungkin tidak menyadari bahwa ada bagian tertentu di bangunan tersebut yang dulunya digunakan sebagai penjara bawah tanah.

Penjara bawah tanah di bekas gedung Stadhius van Batavia itu sendiri sebenarnya ada 2 (dua) jenis yaitu penjara perempuan dan penjara laki-laki. Untuk penjara perempuan yang akses pintu masuknya berada di pelataran depan eks Stadhius van Batavia saat ini tidak dapat dinikmati pengunjung. Sedangkan penjara laki-laki dapat Anda jumpai dari arah bagian belakang bangunan.

Penjara bawah tanah untuk tahanan laki-laki itu berbentuk setengah lingkaran (parabola) berukuran 6 x 3,2 m dengan ketinggian 160 cm yang terdiri dari 5 (lima) ruangan. Kondisinya yang gelap karena berada di bawah permukaan tanah menyebabkan suasananya terasa lebih angker dan menakutkan. Kabarnya di dalam penjara itu pernah dipasang lampu namun setiap 2 (dua) hari mati sehingga akhirnya dibiarkan begitu saja sesuai keadaan aslinya. Akibat kekurangan penyinaran, para tahanan hampir sulit membedakan antara siang dan malam karena sama-sama gelap. Di setiap ruangan tahanan laki-laki bawah tanah itu terdapat bola-bola besi untuk merantai kaki para tahanan. Tokoh sejarah yang dikabarkan pernah merasakan dingin, gelap, dan seramnya ruangan penjara laki-laki ini adalah Untung Suropati, sedangkan di penjara perempuan pernah terdapat nama Cut Nyak Dien sebagai salah satu penghuninya. Saking angkernya penjara bawah tanah ini dikabarkan sering tercium bau anyir darah yang cukup menyengat dan kadang muncul penampakkan hantu-hantu yang bergentayangan baik berusia anak-anak, laki-laki, dan perempuan dengan kondisi tubuh dan kepala yang memprihatinkan.

penjara

penjara

penjara


penjara


penjara

penjara

No comments: