Wednesday, December 5, 2018

Kisah Dibalik Monumen Pieter Erberveld di Kompleks Museum Fatahillah

Kalau Anda sudah pernah mengunjungi Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal sebagai Museum Fatahillah mungkin Anda waktu itu mendapati adanya sebuah dinding batu bertuliskan bahasa Belanda dan di bawahnya berbahasa Jawa yang terletak di halaman belakang museum. Namun apakah Anda tahu apa yang tersurat dan tersirat dalam paragraf tulisan tersebut ?.

Setelah dicoba ditelusuri via google, ada cerita di balik itu semua. Ketika ada sebuah nama orang yang tertulis di situ “Pieter Erberveld” maka saya mencoba menelisik siapa sebenarnya tokoh yang satu ini. Pria tersebut rupanya adalah seorang warga keturunan Indo-Jerman yang pada waktu itu melakukan perlawanan terhadap pemerintah Batavia di bawah kekuasaan VOC. Sebagai salah seorang tuan tanah, Pieter Erberveld merasa dirugikan ketika penguasa kolonial Belanda menyita ratusan hektar tanah miliknya. Perlawanan tersebut mendapat simpati dan dukungan dari warga pribumi yang memiliki kepentingan yang sama dalam menentang Belanda.

Pada tanggal 1 Januari 1722, VOC pada akhirnya berhasil menangkap Erberveld bersama beberapa pengikutnya dengan tuduhan akan melakukan perbuatan makar. Selama sekitar 4 (empat) bulan Pieter Erberveld dipenjara lalu dijatuhi hukuman mati pada tanggal 22 April 1722. Namun yang membuat hukuman mati itu menjadi sangat sadis adalah dengan tidak lazim. Tubuhnya diikat pada kuda lalu ditarik secara berlawanan ke empat arah sehingga badannya hancur. Kepalanya kemudian dipenggal dan ditancapkan di ujung lembing. Selanjutnya di lokasi pembantaian itu dibuat sebuah monumen sebagai peringatan atau ancaman bagi siapa saja yang memberontak atau melawan pemerintah Belanda.

Pada tahun 1985 monumen itu kemudian dipindahkan ke Museum Prasasti Jakarta sedangkan tempat terjadinya tragedi mengerikan itu lalu dikenal dengan sebutan ”Kampung Pecah Kulit” yang berada di sekitar Jl Pangeran Jayakarta. Nama ini merujuk pada kejadian hukuman mati kepada Erberveld yang tubuhnya terpecah-pecah saat eksekusi dilakukan dengan mengikat tubuhnya pada kuda dan ditarik ke arah yang saling berlawanan.

Arti dalam bahasa Indonesia pada tulisan yang terpahat pada Monumen Pieter Erberveld adalah kira-kira sebagai berikut :

“Sebagai kenang-kenangan yang menjijikkan terhadap pengkhianat Pieter Erberveld yang telah dihukum maka tak seorang pun sekarang atau seterusnya diijinkan membangun, menukang, memasang batu-bata, atau menanam di tempat ini. Batavia, 14 April 1722”.

Monumen Pieter Erberveld

Monumen Pieter Erberveld


No comments: