Sejarah Pembentukan Tentara PETA

Tentara PETA dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei  (Undang-Undang/Dekrit) Nomor 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Angkatan Darat Jepang ke-16, Letnan Jenderal Kumakichi Harada perihal pembentukan Kyodo Boei Giyugun (Tentara Sukarela Pembela Tanah Air).

Tujuan dari pembentukan tentara PETA itu sendiri dapat dilihat dari 2 (dua) sisi kepentingan yaitu kepentingan penjajah Jepang dan kepentingan bangsa Indonesia. Bagi bangsa Jepang, tentara PETA diperlukan guna persiapan menghadapi Perang Pasifik melawan Sekutu, sedangkan bagi bangsa Indonesia ditujukan guna mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal 15 Oktober 1943 dimulai latihan calon Perwira Tentara PETA angkatan pertama. Tempat pelatihan itu awalnya diberi nama Jawa Boei Giyugun Kanbu Renseitai (Pusat Pelatihan Perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa) yang kemudian berganti nama menjadi Jawa Boei Giyugun Kanbu Kyoikutai.

Terdapat 5 (lima) macam pangkat dalam Ketentaraan PETA yaitu  :
  1. Daidancho (Komandan Batalyon), yang dipilih dari tokoh-tokoh masyarakat seperti pegawai pemerintahan, pemimpin agama, pamong praja, politikus, dan penegak hukum.
  2. Chudancho (Komandan Kompi), yang dipilih dari kalangan yang telah memiliki pekerjaan namun belum memiliki jabatan yang tinggi, misalnya juru tulis dan guru.
  3. Shodancho (Komandan Peleton), yang dipilih dari kalangan pelajar sekolah lanjutan pertama atau sekolah lanjutan atas (setingkat SMP dan SMA).
  4. Bundancho (Komandan Regu), yang dipilih dari kalangan pemuda yang pernah bersekolah dasar (setingkat SD).
  5. Giyuhei (Prajurit), yang dipilih dari kalangan pemuda yang belum pernah mengenyam pendidikan.
Bentuk-bentuk pendidikan dan pelatihan tentara PETA dilakukan mulai dari baris-berbaris, teori taktik tempur, gerakan tempur siang dan malam dalam kesatuan shodan (peleton), chudan (kompi), sampai daidan (batalyon). Selain itu juga ada latihan bela diri seperi sumo, jukenjutsu, dan kendo. Kegiatan latihan juga dilakukan dengan menggunakan persenjataan antara lain sangkur, senjata laras pendek, senapan mesin berat, mortir, dan lain-lain. Selama kurun waktu bulan Oktober 1943 sampai dengan Februari 1945, jumlah perwira dalam 5 (lima) angkatan yang berhasil dididik sebanyak 1.609 orang.

Seiring perjalanan waktu, para anggota tentara PETA menyadari kejanggalan pemerintahan militer Jepang karena Jepang secara terang-terangan memperlihatkan bentuk penjajahan di muka bumi Indonesia. Jepang telah mengambil hasil alam dan hasil bumi Indonesia, serta melakukan kerja paksa (romusha) guna membangun sarana demi kepentingan penjajahannya. Akibatnya kesengsaraan rakyat mulai mewabah di mana-mana.

Berbagai pemberontakan tentara PETA terjadi di daerah yang sebagian besar dimotori oleh kalangan ulama dan tokoh masyarakat, diantaranya  :
  1. Perlawanan rakyat Sukamanah Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, yang terjadi pada tanggal 25 Februari 1944, di bawah kepemimpinan KH Zainal Mustafa.
  2. Perlawanan rakyat Lohbener dan Sindang, Cirebon, Jawa Barat, yang terjadi pada tanggal 30 Juli 1944, di bawah kepemimpinan H Mardiyas, H Kartiwa, dan Kyai Srengseng.
  3. Perlawanan tentara PETA di Blitar, Jawa Timur, yang terjadi pada tanggal 14 Februari 1945, di bawah kepemimpinan Shondancho Supriyadi dan Shodancho Muradi.
Pada akhirnya, tentara PETA yang lahir pada masa pendudukan Jepang pasca kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik melawan Sekutu. Pada tanggal 19 Agustus 1945, Panglima Tentara Angkatan Darat Ke-16, Letnan Jenderal Nagano Yuichiro secara resmi membubarkan tentara PETA serta memulangkan prajurit PETA ke daerah asal masing-masing.


PETA

PETA