Hindari Guyonan Poligami di Group WA Campuran Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu !

Bagi sebagian besar laki-laki, membicarakan masalah poligami memang bisa menjadi topik yang sangat menarik dan tak pernah habis dijadikan bahan guyonan.

Secara naluriah, setiap manusia telah ditakdirkan untuk memiliki gharizah, salah satunya adalah menyukai lawan jenis. Hal inilah yang membuat kehidupan dunia ini menjadi indah. Bayangkan jika dalam kehidupan dunia tidak ada pasang-pasangan maka tak bisa dibayangkan bagaimana membosankannya hidup di dunia ini. Al-Qur’an sendiri sudah menyatakan secara eksplisit dalam Ali-Imran ayat 14, “Zuyyina linnasi hubbu shahawati minannisa’i…” yang artinya, “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini yaitu wanita-wanita…”.  

Secara aturan main dalam hukum Islam tentu tidak ada yang salah tentang poligami. Al-Qu’ran secara jelas juga telah memberikan peluang kepada laki-laki untuk melakukannya. Dan secara naluriah, laki-laki normal pun sangat mungkin menginginkan hal tersebut. Kekeliruan hanya terjadi karena oknum pelakunya yang tidak menggunakan aturan main dengan benar.

Dalam berbagai perbincangan di group-group WA atau obrolan-obrolan ringan sehari-hari, topik ini selalu menjadi bahan pembicaraan yang tiada habisnya. Sayangnya bahwa guyonan itu kadang tidak melihat tempat dan waktu (saya pun kadang masih ikut terbawa arus pembicaraan). Ketika ditelaah lagi dengan benar dan dengan hati yang lapang, guyonan tentang poligami yang dilakukan secara terbuka pada group-group WA yang isinya campuran ibu-ibu dan bapak-bapak dapat menyebabkan masalah serius karena di sana ada "hati" para wanita. Sulit dipungkiri bahwa secara hati nurani yang paling dalam, tentu saja istri-istri dari bapak-bapak itu tadi tidak rela jika poligami hanya dijadikan bahan candaan atau tertawaan. Apalagi kerap dalam group itu juga diunggah tampang wanita-wanita cantik. Tentunya ada "hati-hati" para wanita atau istri yang tidak terima dirinya menjadi bahan ledekan. Bagaimana pun, jika kondisinya dibalik, misal para ibu-ibu dalam group WA itu membalas memposting foto pria dengan wajah tampan, apakah kemudian para bapak-bapak juga rela jika istri mengumbar foto-foto ketampanan orang lain ?. Bagaimana jika para ibu membandingkan wajah suaminya yang “berantakan” dan kalah gantengnya dengan tampang foto si pria yang maskulin dan keren. Jika seorang laki-laki secara naluriah menyukai wajah wanita yang cantik, apakah kemudian salah jika ibu-ibu juga sebaliknya, kesengsem dengan wajah pria yang macho dan rupawan, apalagi jika si pria diketahui memiliki kedudukan tinggi, harta melimpah, dan pandai mengaji pula.

Nah, jika tidak ingin dicap kelompok bapak-bapak hanya ingin menang sendiri maka ada baiknya untuk dapat mengerem topik-topik sensitif di group WA campuran. Di sana ada ibu-ibu yang jika berbicara jujur pasti akan merasa cemburu jika suaminya bercanda tentang poligami. Berusahalah untuk dapat menjaga perasaan para kaum wanita di tengah bapak-bapak. Beda halnya jika group itu dibuat khusus untuk laki-laki saja, mau membicarakan topik yang sensitif pun tidak menjadi masalah. Dan lagi pula, dengan tema yang sangat berat itu kadang bapak yang melempar guyonan poligami di group sebenarnya tidak cukup punya nyali untuk melakukannya di dunia nyata. Kalau berani : just do it and don’t just talk in the mouth !.       

poligami