Sarung untuk Bapak

Semenjak memasuki pertengahan tahun 2018 lalu, kesehatan bapak mulai tampak menurun. Hari-hari biasanya yang normal mulai berubah.

Aku senang ketika bapak masih kelihatan sehat saat acara pernikahan keponakanku di kampung. Ia masih bisa berjalan kaki dengan lancar, termasuk menemui tamu-tamu undangan yang datang. Banyak kawan-kawan bapak yang dulu sama-sama berprofesi menjadi guru hadir dalam acara pernikahan cucu perempuan tertuanya itu.

Kondisi mulai berubah beberapa bulan setelah itu. Suatu hari setelah sholat Jum’at, bapak pulang berjalan kaki. Hari itu tak seperti biasanya, kakak pertamaku yang biasanya mengantar pergi dan pulang sholat Jum’at sedang menunaikan suatu tugas di tempat lain yang tidak dapat ditinggalkan.

Hampir saja tubuh bapak jatuh ke aspal apabila tidak segera ditolong oleh pamanku yang melihat bapak sendirian berjalan kaki meninggalkan masjid. Dengan kondisi tubuhnya yang sudah tidak mampu menahan beban beratnya sendiri, bapak akhirnya berhasil ditolong dan diantar ke rumah oleh paman memakai sepeda motor. Dari peristiwa itulah kondisi bapak mulai menunjukkan perubahan yang drastis. Gerakan bapak sudah tidak sekuat dulu sehingga terpaksa ia harus berbaring di rumah dan tidak boleh lagi keluar rumah, apalagi berjalan kaki dengan jarak yang jauh.

Aku tak bisa berbuat banyak karena pekerjaanku di Jakarta menyebabkan volume perjumpaan dengan bapak tidak dapat teratur. Belum lagi dengan keluarga utamaku yang masih ada di luar Jakarta sehingga konsentrasiku terpecah menjadi dua : anak dan istri di satu sisi dan bapak ibu di sisi lain.

Ketika bapak sakit dan hanya bisa berbaring di tempat tidur, aku sempat menengoknya. Untuk menuju kamar mandi, bapak perlu menggunakan benda-benda di sekitarnya sebagai tempat menahan beban agar tidak terjatuh. Meski ibu selalu meminta bapak untuk memanggilnya jika ada keperluan namun kadang bapak nekad jalan sendiri ke kamar mandi, padahal letaknya di ruangan bagian belakang sementara posisi kamar berada di ruangan tengah.

Akhir tahun aku belum sempat lagi menengok bapak. Rencananya di tanggal 4 Januari 2019 aku kembali ke kampung untuk menjenguknya. Apalagi beberapa kali terdengar kabar dari kakakku bahwa kondisi bapak makin tidak stabil. Di sebuah chat WA yang aku terima dari kakakku, bapak terlihat seperti menangis tapi tak mampu berbicara apa-apa. Kakakku bilang mungkin bapak ingin bertemu dengan anak-anaknya. Mendengar hal itu, aku hanya bisa terdiam, tak bisa berbicara, suara seakan tercekat. Aku berharap di tanggal kedatanganku nanti, aku masih dapat bersua dengan bapak.

Aku sudah memesan online tiket KA jurusan timur yang melewati Stasiun Purwokerto beberapa hari sebelumnya. Maka setelah jam kantor hari Jum’at usai, malamnya aku segera menuju Stasiun Pasar Senen. Sebelumnya aku sudah membeli sarung baru yang rencananya untuk bapak pakai karena ibu bilang butuh sarung untuk mengganti sarung lama yang sering basah di tempat tidur. Waktu itu aku sengaja beli sarung tenun asli Samarinda yang kualitasnya cukup bagus. Aku berharap dapat bermanfaat buat bapak.

Kereta Api Senja Utama Jurusan Jakarta–Solo itu mulai mengeluarkan lengkingan suara klakson sebelum sesaat beranjak meninggalkan Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB ketika roda kereta mulai berputar pelan yang semakin lama semakin cepat meninggalkan ibukota malam itu. Selama perjalanan aku tidak memiliki firasat buruk apapun terhadap bapak. Aku berusaha untuk tidur meski usaha itu tak berhasil. Meski sudah muncul rasa kantuk namun karena dibarengi pikiran yang penuh kegelisahan menyebabkan badan sulit diajak kompromi untuk beristirahat. Sementara tas ransel berisi sarung buat bapak yang tersimpan di bagasi atas terus saja aku pelototi agar jangan sampai raib.

Sampai kemudian...Sekitar pukul 01.15 WIB Sabtu dinihari, HPku tiba-tiba berdering di saat perjalanan kereta apiku baru melewati kawasan Cirebon. Perlu waktu sekitar 3 (tiga) jam lagi untuk benar-benar kereta berhenti di Stasiun Purwokerto. Kakakku rupanya yang menelpon di tengah-tengah suasana gerbong kereta yang sepi karena penumpangnya sebagian besar sudah tertidur lelap. Kakakku hanya berkata singkat di ujung telepon, “Bapake wis ora nana (bapak sudah tiada)”. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ya Allah yang Maha Mengatur segalanya. Kereta yang aku tumpangi ini rupanya adalah kereta yang mengantarku untuk menengok bapak yang terakhir kalinya". Aku memang tidak langsung menangis di tempat duduk kereta yang aku tumpangi namun kalau orang melihat mataku pasti akan dapat membaca dengan jelas adanya kesedihan mendalam di balik itu. Saat itu aku hanya berdoa agar kematian bapakku adalah kematian yang khusnul khatimah serta amal ibadah bapak dapat diterima Allah SWT. Dan aku yakin bahwa inilah takdir terbaik yang harus bapak alami dan insyaAllah bapak sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya.     

Sekitar pukul 03.45 WIB akhirnya aku tiba di rumah bapak di kampung kecilku di Purwokerto. Sudah ada beberapa keluarga dan famili terlihat mulai menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan memandikan sampai menguburkan jenazah bapak.

Setelah menaruh tas ransel besarku, aku beranjak ke kamar tempat bapak terbaring selama-lamanya. Kupandangi wajah bapak yang tidak mampu berbicara lagi. Tak bisa digambarkan semuanya di sini. Suasana batin pasti mudah ditebak jika kita berjumpa dengan orang tua yang baru saja meninggal dunia.

Pak Kayim (sebutan untuk perangkat desa yang bertugas mengurusi acara agama Islam termasuk mengurus kematian warganya) mulai menginstruksikan kami, anak-anak, ibu, dan saudara terdekat bapak, untuk segera memulai proses pengurusan jenazah. Seakan sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, kedatanganku tepat saat proses itu mulai dilakukan : mengangkat jenazah, memandikannya secara langsung, sampai proses terakhir di siang harinya yaitu mengantar dan menurunkan jenazah bapak ke liang kubur. Semuanya alhamdulillah berjalan lancar. Warga desa dan sekitarnya yang ikut melayat juga terlihat banyak.

Selepas selesai menguburkan jenazah bapak, aku kembali ke rumah. Sembari beristirahat karena tidak sempat merebahkan diri saat tiba di rumah pada dini hari sampai prosesi penguburan selesai, aku keluarkan bungkusan yang sebelumnya sudah aku niatkan untuk bapak pakai yaitu sarung baru. Tak dinyana, sarung yang aku pegang itu tak sampai dipakai bapak. Ia masih utuh terbungkus rapi di dalam kardus pembungkus. Sarung itu akhirnya aku bawa kembali dan dipakai sendiri sehari-hari di Jakarta setelah ibu menyarankan untuk dipakai saja. Ya, itulah sarung bapak !. 

sarung