3 (Tiga) Bukti Kepemimpinan Umar bin Khattab yang Mencintai Rakyatnya

Teori-teori leadership atau kepemimpinan telah banyak dikupas dan ditulis oleh para ahli strategic management dari berbagai belahan dunia, namun teori-teori itu hanyalah sebatas tulisan di atas kertas. Dunia Islam telah membuktikan sejak dahulu bahwa para pemimpin Islam lebih mengerti aplikasi yang sebenarnya.

Salah satu role model leader yang menurut saya paling hebat dan mengagumkan adalah pola kepemimpinan yang dilakukan oleh Umar bin Khattab, khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Sebelum mendapat hidayah, Umar adalah salah satu tokoh non muslim keurunan Bani Quraisy yang sangat membenci Rasulullah SAW dan dakwahnya. Kebengisan dan kebencian Umar ditunjukkan dengan salah satu niat kejinya untuk membunuh Rasulullah SAW sebelum pada akhirnya ia sendiri luluh hatinya setelah membaca lembaran mushaf Al-Qur’an dari tangan saudara perempuannya yang sudah terlebh dahulu masuk Islam.

Kelembutan Hati Umar bin Khattab di Balik Watak Kerasnya

Pasca masuknya Umar ke dalam cahaya Islam membuat penduduk Mekkah mengalami kegemparan dahsyat, ibarat terjadi gempa 8 SR yang mengebohkan seluruh negeri. Hal ini mengingat bahwa Umar adalah seorang yang begitu membenci Islam, mengapa tiba-tiba ia bisa berubah 180 derajat.

Singkat kata, manakala khalifah pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggal dunia, Umar ditunjuk sebagai penggantinya. Di masa inilah, Islam tumbuh dengan pesat dimana beberapa wilayah di luar jazirah Arab seperti Romawi dan Persia. Hal ini menunjukkan adanya sifat dan karakter kepemimpinan Umar yang tegas dan tidak takut dengan musuh-musuh Islam.

Namun ada keunikan di balik ketegasan sikap seorang Umar. Ia ternyata memiliki sifat lemah lembut dan welas asih kepada rakyatnya. Ada banyak cerita tentang bagaimana Umar bin Khattab begitu mencintai dan menyayangi rakyatnya, namun dalam tulisan ini hanya akan saya kupas 3 (tiga) kasus saja yang mencerminkan kebaikan dan kelembutan hati Umar tersebut.

1.      Kisah Seorang Ibu Memasak Batu

Kisah klasik ini menjadi cerita yang sudah banyak diketahui muslim dan muslimah, bahkan sejak kecil pun, anak-anak madrasah atau SD rata-rata pernah mendengarkan kisah ini.

Suatu ketika, Umar ingin sekali mengetahui kondisi rakyat yang dipimpinnya. Namun ia tidak melakukan gaya “blusukan” seperti di era modern ini dimana penduduk yang akan dikunjungi biasanya diberi tahu dulu akan ada kedatangan pemimpinnya. Umar lebih memilih blusukan dengan cara diam-diam. Caranya cukup jitu yaitu dengan keluar di malam hari karena di saat seperti itu tidak mudah bagi rakyat negerinya untuk dapat melihat wajah pemimpinnya dengan jelas. Dengan demikian Umar dapat lebih leluasa mengamati gerak-gerik para penduduknya.

Ketika melewati di depan sebuah rumah yang sederhana, ia mendengar tangisan seorang anak yang setelah didekati terdapat seorang perempuan tua yang sedang duduk di dekat perapian. Ia tidak tahu bahwa sang khalifah datang kepadanya dengan membawa pertanyaan, apa yang terjadi dengannya dan anak perempuannya yang tiada henti menangis. Sang ibu pun mengatakan bahwa ia hanya bisa memasak batu di dalam panci berisi air dengan harapan anaknya akan berhenti menangis dan tertidur saat menunggu masakan “kosong” itu jadi. Mendengar hal tersebut, Umar lantas balik lagi ke istana sambil meneteskan air mata. Dengan ditemani ajudannya, Umar mengambil dan bahkan mengendong sendiri sekarung gandum untuk diberikan kepada sang ibu tadi. Tawaran ajudannya untuk membantu membawakan karung gandum ditolak mentah-mentah oleh Umar. Ia beralasan bahwa bisa saja sang ajudan menggendong sekarung gandum itu namun ia tak akan bisa memikul beban Umar di hari pembalasan. Dari sini kita bisa melihat kerendahan hati Umar. Ia bersedia melakukan apa saja demi rakyatnya bahagia, dan hebatnya lagi, tindakan itu tidak banyak diketahui orang. Tidak ada wartawan yang siap memfoto dan menyebarkan berita itu ke seantero negeri. Umar adalah sosok bersahaja di balik kewibawaannya sebagai orang nomor satu di negerinya.
    
2.      Kisah Umar Menikahkan Anaknya dengan Anak Penjual Susu

Kisah ini juga mencerminkan kesederhanaan seorang Umar dimana ia tidak memandang seseorang dari pangkat atau jabatannya, namun dari ketakwaannya kepada Allah SWT.

Diceritakan bahwa di suatu malam, seperti biasa Umar melakukan ritual berkeliling kota alias blusukan. Dan seperti biasa, ia memilih malam hari ketika banyak penduduk negeri telah terlelap dalam tidur.

Ketika Umar merasa lelah dan harus beristirahat sejenak sambil menyenderkan tubuhnya di sebuah dinding warga, ia mendengar sayu-sayup perbincangan di sebuah rumah. Saat itu terdengar suara seorang perempuan yang menyuruh anaknya untuk mencampurkan air ke dalam susu yang akan dijualnya. Sementara pada pagi hari sebelum malam itu, khalifah Umar telah memberikan peraturan bahwa pedagang susu dilarang mencampur dagangannya dengan air.

Ketika sang ibu menyuruh anak perempuannya mencampurkan air ke dalam susu yang akan dijualnya, sang anak pun menolak. Sang ibu berkata, “Bukankah Umar tidak akan mengetahui hal ini ?”. Jawaban sang anak begitu menakjubkan, “Khalifah Umar mungkin tidak mengetahuinya, namun sang Rabb pasti mengetahui”.

Singkat cerita, karena keimanan dan ketakwaan yang luar biasa dari seorang gadis anak penjual susu itu, mengantarkan sang gadis menjadi menantu Umar bin Khattab !. Ia kemudian dinikahkan dengan Ashim bin Umar bin Khattab. Dari pernikahan mulia inilah kemudian lahir generasi Umar berikutnya yang tak kalah populer. Anak perempuan dari pernikahan Ashim dan gadis penjual susu bernama Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab, yang lalu menikah dengan seorang gubernur Bani Umayyah bernama Abdul Aziz bin Marwan. Dari sinilah lahir seorang pemimpin besar Islam berikutnya bernama Umar bin Abdul Aziz bin Marwan.

3.      Kisah Umar Memfatwakan Batas Waktu Tentara Bertempur di Medan Perang

Kisah selanjutnya juga berawal dari kebiasaan Umar berkeliling kota guna memastikan tidak ada rakyatnya yang mengalami penderitaan.

Suatu ketika di malam hari, Umar mendengar rintihan seorang perempuan yang bersenandung dengan untaian syair kerinduan, “Malam ini terasa panjang, sunyi senyap hitam kelam. Lama tiada aku berkasih mesra untuk bercumbu dan merayu”. Mendengar lantunan itu, lantas Umar bertanya kepada orang yang lewat. Siapakah gerangan wanita itu dan mengapa ia merasa begitu kesepian. Dari cerita yang diperoleh, ternyata wanita itu adalah salah satu istri dari tentara Islam yang sedang berjuang di medan peperangan.

Selanjutnya, setelah menanyakan kepada putrinya, Hafshah binti Umar tentang sisi hati perempuan yang ditinggal suaminya, ia kemudian mengeluarkan fatwa bahwa batas waktu paling lama seorang prajurit Islam di medan laga adalah 6 (enam) bulan dengan rincian : 1 (satu) bulan untuk perjalanan berangkat, 4 (empat) bulan di medan peperangan, dan 1 (satu) bulan lagi untuk perjalanan pulang.

Penutup

Itulah kehebatan Umar bin Khattab, seorang khalifah Islam yang gagah berani namun memiliki perhatian yang besar terhadap nasib rakyatnya. Dari pola kepemimpinannya yang jauh dari kata otoriter membuahkan hasil pada sejumlah perbaikan yang menakjubkan. Pantas saja ia begitu dicintai rakyatnya, karena ia memilih mencintai dan memenuhi kebutuhan mereka terlebih dahulu.

Umar bin Khattab