Kapan dan Bagaimana Kopi Masuk Pertama ke Pulau Jawa ? - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Friday, May 29, 2020

Kapan dan Bagaimana Kopi Masuk Pertama ke Pulau Jawa ?

Setelah pintu Pelabuhan Mocha (Mukha atau Mokha) di pantai Yaman “terbuka” bagi para pendatang yang ingin membawa benih kopi keluar dari wilayah Arab maka mulailah episode dimana kopi mulai ditanam dan dicoba dibudidayakan di berbagai belahan dunia.

Salah satu golongan bangsa pendatang yang berhasil membawa benih kopi ke negaranya adalah bangsa Belanda. Hal ini dirintis mulai tahun 1616 dimana benih dan tanaman kopi berhasil sukses dibawa dari Mocha ke Belanda. 

Pada tahun 1696 atas hasil investigasi Nicholas Witsen, walikota Amsterdam menyebutkan bahwa Adrian Van Ommen, komandan atau pimpinan dagang Belanda di Malabar, India, pernah membawa benih kopi dari Kananur, Malabar, pantai barat daya India, menuju Pulau Jawa untuk diperkenalkan dan diuji coba ditanam. Benih kopi tersebut selanjutnya oleh Gubernur Jenderal Willem Van Outshoorn, ditanam di perkebunan Kedawoeng (Kedawung) dekat Batavia (Jakarta). Sayangnya upaya pertama itu mengalami kegagalan akibat gempa bumi dan banjir. Selanjutnya pada tahun 1699, Henricus Zwaardecroon mengimport pohon kopi (dalam bentuk stek) dari Malabar ke Pulau Jawa. Kali ini upaya itu cukup berhasil dan perkebunan kopi yang ditanam kedua kalinya itu menjadi bibit atau “leluhur” atau “nenek moyang” dari seluruh perkebunan kopi di nusantara pada jaman pemerintahan Hindia Belanda (Dutch East Indies). Mereka memperluas area atau wilayah perkebunan kopi ke Sumatera, Bali, Sulawesi, dan lain-lain. Maka peran Belanda di sini terbilang besar dalam rangka menyebarluaskan kopi di berbagai daerah di Indonesia.

Pada tahun 1706, sample pertama dari kopi Jawa (Java coffee) diterima oleh the Amsterdam Botanical Gardens (Kebun Raya Amsterdam). Banyak tanaman yang dikembangkan oleh Kebun Raya Amsterdam itu yang kemudian didistribusikan ke beberapa kebun raya dan konservatorium yang terkenal di benua Eropa.

Secara komersial, kopi Jawa berhasil diperdagangkan di Amsterdam pada tahun 1711 yang dikirim oleh Bupati Cianjur, Raden Aria Wira Tanu III. Pengapalan pertama itu mencapai sekitar 4 kuintal kopi dan secara harga berhasil memenangkan lelang di bursa Amsterdam. Atas prestasinya itu, pada tahun 1714, Raja Louis XIV dari Perancis meminta benih kopi yang dikembangkan di Jawa itu. Puncaknya, pada tahun 1726 ribuan ton kopi yang dikirim dari Pulau Jawa membanjiri pasar Eropa, mengalahkan kopi Mocha, Yaman, yang menjadi asal muasal kopi menyebar ke seluruh dunia itu. Bayangkan, kopi yang awalnya diambil dari daerah asal justru berhasil menaklukkan sang "nenek moyang." Sejak saat itulah nama kopi Jawa (Java coffee) mulai mendunia karena determinasinya yang tinggi dan sulit dikalahkan.

Pemrograman 'Java' Terinspirasi oleh Java Coffe ?

Saking populernya kopi Jawa (Java coffee) membuat nama “Java” itu menjadi kosa kata yang tak asing didengar oleh penduduk dunia. Hingga akhirnya pada tahun 1995, bahasa pemrograman baru muncul dengan sebutan “Java” programming. Lihat saja, dari logo atau icon Java programming saja sudah menunjukkan bahwa lahirnya bahasa pemrograman itu memang terinspirasi oleh legenda kopi Jawa. Tak hanya itu, setahun kemudian, di tahun 1995 lahir istilah “JavaScript” yang lagi-lagi menyematkan nama “Java” atau Jawa dalam istilahnya. 

Sekarang barangkali dunianya terbalik, justru istilah Java programing dan JavaScript itu jauh lebih populer dibanding kopi Jawa (Java coffee). Entahlah, sepertinya dunia kopi itu juga tidak bisa lepas dari para pekerja IT, minimal secangkir kopi yang tersanding di samping laptop atau notebook akan membuat para ahli IT termasuk para programmer makin keranjingan melahirkan ide-ide sehingga mampu memecahkan kerumitan kode-kode bahasa pemrograman yang sebelumnya menemui jalan buntu.
Java
Silakan tulis komentar Anda