Sejarah Kopi di Pulau Sumatera; Mendunia Sejak Jaman Belanda Sampai Sekarang - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Monday, June 15, 2020

Sejarah Kopi di Pulau Sumatera; Mendunia Sejak Jaman Belanda Sampai Sekarang

William H. Ukers kembali menjelasakan tentang sejarah masuknya kopi ke Pulau Sumatera melalui bukunya yang berjudul All About Coffee.

Sumatra (Sumatera), terutama di sepanjang pantai pesisir barat (west coast) menjadi lokasi penyebaran mula-mula di awal abad ke-18 dengan Kota Padang sebagai pusat perdagangan kopi Sumatera. Dan sebagaimana di Jawa, awal-awal budidaya kopi di Sumatera juga dikendalikan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Dengan kondisi iklim dan tanah yang mirip dengan Pulau Jawa, Pulau Sumatera memiliki keuntungan lain karena wilayah penanaman yang masih terbilang luas. Beberapa kopi terbaik di dunia berasal dari Pulau Sumatera ini. Tuan Ukers menjelaskan bahwa pada tahun 1920, Pulau Sumatera menyumbangkan 287.179 pikul (piculs) kopi dimana datangnya dari sejumlah daerah penyumbang terbesar seperti Ankola (Angkola), Siboga (Sibolga), Ayer Bangies, Mandheling (Mandailing), Palembang, Padang, dan Benkoelen (Bengkulu).

Dari kegiatan di atas, tak aneh jika reputasi kopi Sumatera telah dikenal sejak jaman Belanda, seperti kopi Mandailing (Mandheling coffee) yang terkenal dengan biji berwarna kecoklatan (brownish bean). Aroma yang tercium sangat kuat (heavy in body) dengan cita rasa (flavor) yang unik dan berbeda dengan kopi yang ditanam di daerah lain.

Sedangkan kopi Ankola (Angkola) memiliki biji pendek dengan penampilan yang lebih baik dari Mandailing. Rasanya hanya sedikit di bawah kopi Mandailing. Kopi ini direkomendasikan untuk dicampur dengan kopi terbaik dari jenis Mocha. Sementara, kopi Ayer Bangies memiliki ukuran yang lebih besar dengan warna yang tidak terlalu kecoklatan. Aromanya tidak terlalu berat dengan cita rasa yang sangat halus. Ketiga jenis inilah yang disebut Tuan Ukers dikenal dalam perdagangan dunia sebagai Fancies dan dijuluki sebagai kopi terbaik dari Sumatera.

Namun selama Perang Dunia II, pertumbuhan kopi Sumatera terhenti karena banyak perkebunan kopi yang dialihfungsikan oleh pemerintah Jepang. Bahkan pasca kemerdekaan RI, beberapa perkebunan kopi ditinggalkan, sampai menjelang akhir abad ke-19, epidemi menyerang tanaman kopi berupa penyakit karat daun yang disebabkan oleh jamur H. vastatrix B.et Br. Banyak perkebunan kopi mengalami kehancuran dan petani mulai beralih ke tanaman lain seperti teh dan karet. Sampai kemudian ditemukan kopi robusta yang lebih tahan terhadap penyakit sehingga produksi kopi jenis ini menjadi lebih dominan dibanding jenis arabika.

Sampai saat ini, kopi Sumatera memberikan jejak reputasi yang sangat bagus. Hal ini terbukti dengan telah diakuinya kopi Sumatera menjadi salah satu pilihan utama gerai kopi seperti yang dilakukan raksasa waralaba kopi terbesar di dunia, Starbucks. Dari sekitar 10 jenis biji kopi, pilihan utama selalu jatuh pada kopi Sumatera yang diklaim paling seimbang karakternya. Tidak terlalu ringan seperti kopi asal Amerika Latin, dan tidak terlalu floral atau fruity seperti kopi Afrika. Karakter yang khas dari biji kopi Sumatera menjadikan kopi ini cocok dicampur dengan bahan lain seperti gula atau susu.

Maka ketika kita pergi ke luar negeri dan memesan secangkir kopi di gerai Starbucks yang mentereng dan prestisius itu, mungkin tanpa disadari bahwa kita sebenarnya sedang menikmati kopi hasil produksi perkebunan kopi yang dipetik dari tangan-tangan ulet dan perkasa para petani kopi Indonesia termasuk yang berasal dari Pulau Sumatera.

Kopi Sumatera

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda