Jin Hanya Dapat Dilihat Mata Manusia dalam 'Mode' Penyerupaan - POJOKCERITA

Saturday, August 1, 2020

Jin Hanya Dapat Dilihat Mata Manusia dalam 'Mode' Penyerupaan

Jin memiliki kemampuan untuk menjelma dalam wujud lain seperti manusia ataupun binatang dimana hanya dalam bentuk inilah mata manusia dapat melihatnya. Jika ada seseorang yang mengklaim mampu melihat jin dan sebangsanya dalam wujud aslinya maka keislamannya itu patut dipertanyakan.

Sebaliknya, kalangan jin dan sebangsanya dapat melihat manusia sesuai dengan firman Allah SWT, “Dia (iblis) dan bala tentaranya melihat kalian (selalu mengamati kalian) dari arah yang kalian tidak dapat melihat mereka” (QS Al-A'raaf : 27). Yang dimaksud “bala tentara” iblis adalah jin dan para setan (Al-Jami' li Ahkamil Qur'an 7/120, Ma'alimut Tanzil 2/129). Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Sebagian ulama berkata: 'Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa jin tidak dapat dilihat.' Namun ada pula yang berpendapat sebaliknya dengan alasan bahwa jika Allah SWT berkehendak maka tabir yang menghalangi untuk melihat mereka itu akan tersingkap. An-Nahas berpendapat bahwa dengan ayat ini, jin tidak bisa dilihat mata manusia kecuali di masa kenabian sebagai bukti atas kenabiannya itu. Al-Imam Asy-Syafi'i bahkan menjelaskan dalam Manaqib-nya, “Barangsiapa mengaku melihat jin maka kami batalkan persaksiannya (tidak menerima kesaksiannya) terkecuali bila ia seorang Nabi.”  

Dikisahkan pada saat terjadi Perang Badar, setan mendatangi kaum musyrikin dalam wujud atau bentuk manusia yaitu Suraqah bin Malik yang menjanjikan kemenangan kepada kaum tersebut. Allah SWT berfirman, “Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini dan sesungguhnya aku ini adalah pelindungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu. Sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat;sesungguhnya aku takut kepada Allah.' Dan Allah sangat keras siksa-Nya” (QS Al-Anfaal : 48). 

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa ketika kedua pasukan telah bertemu dan setan itu melihat malaikat-malaikat turun dari langit, maka ia pun lari tunggang langgang. Setan itu menampakkan dirinya dalam wujud Suraqah bin Malik sehingga dapat disimpukan bahwa jin atau setan dapat melakukan penyerupaan dalam bentuk manusia.

Penampakkan setan juga tejadi ketika Abu Hurairah mengalami sebuah kisah aneh. Ia menceritakan, “Rasulullah SAW menugaskan aku untuk menjaga (bahan makanan) zakat pada bulan Ramadhan. Namun seseorang mendatangiku dan mencuri makanan. Aku pun menangkapnya dan berkata: 'Demi Allah, aku akan melaporkanmu kepada Rasulullah.' Laki-laki itu pun menjawab: 'Aku adalah laki-laki miskin dan aku memiliki beberapa keluarga. Aku sedang mempunyai kebutuhan yang sangat mendesak.' Aku pun melepaskan orang itu. Esok harinya, Rasulullah bertanya kepadaku: 'Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu semalam ?' Aku menjawab: 'Wahai Rasulullah, ia mengeluhkan kebutuhan yang mendesak dan beberapa keluarga. Karena itu aku pun kasihan kepadanya dan aku melepaskannya.' Rasulullah bersabda: “Ia telah berdusta kepadamu dan ia akan kembali.' Aku pun tahu bahwa laki-laki itu akan kembali karena pemberitahuan Rasulullah itu. Ternyata benar, ia kembali datang untuk mencuri makanan dan aku berhasil menangkapnya. Aku berkata kepadanya: 'Aku sungguh akan melaporkanmu kepada Rasulullah.' Lalu ia menjawab: 'Lepaskanlah aku karena aku adalah orang miskin dan aku memiliki banyak keluarga. Aku tidak akan kembali lagi.' Aku pun kasihan kepadanya dan melepaskannya. Rasulullah bersabda: 'Ia telah berdusta kepadamu dan ia akan kembali lagi.' Untuk ketiga kalinya, aku mengintai orang itu. Ia kemudian datang untuk mencuri makanan. Aku pun menangkapnya dan berkata: 'Aku pasti akan melaporkanmu kepada Rasulullah. Ini adalah terakhir kali bagimu bahwa engkau berjanji untuk tidak kembali lagi, tetapi engkau masih kembali lagi.' Laki-laki itu menjawab: 'Lepaskanlah aku maka aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat yang dengannya Allah akan mendatangkan manfaat untukmu.' Aku bertanya: 'Apakah kalimat itu ?' Ia menjawab: 'Jika engkau beranjak ke tempat tidur bacalah ayat: 'Allahu laa ilahaa illa huwa al-Hayyu al-Qayyuum (Ayat Kursi) sampai akhir ayat. Jika engkau membacanya, engkau akan senantiasa mendapat penjaga dari Allah. Setan tidak akan berani mendekatimu hingga pagi.' Aku pun kembali melepaskan laki-laki itu. Keesokan harinya, Rasulullah bertanya kepadaku: 'Apakah yang telah dilakukan oleh tawananmu semalam ?' Aku menjawab: 'Wahai Rasulullah, ia mengatakan bahwa ia akan mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang karenanya, Allah akan memberikan manfaat kepadaku. Karena itu aku pun melepaskannya.' Rasulullah bertanya lagi: 'Apakah kalimat itu ?' Aku menjawab: 'Ia berkata kepadaku: 'Jika engkau beranjak tidur, bacalah ayat Kursi dari awal hingga akhir: 'Allahu laa ilaaha illaa huwa al-Hayyu al-Qayyuum.' Ia juga mengatakan kepadaku: 'Engkau akan senantiasa mendapat penjaga dari Allah. Setan tidak akan berani mendekatimu hingga pagi.' Nabi bersabda, “Kali ini ia berkata jujur kepadamu meskipun ia adalah pendusta. Tahukah engkau siapa yang berbicara kepadamu selama tiga malam ini, wahai Abu Hurairah ?' Aku menjawab: 'Tidak.' Beliau pun memberitahu: 'Itu adalah setan.' (HR Bukhari).

Setan juga kadangkala menjelma menjadi wujud binatang seperti unta, keledai, sapi, anjing, atau kucing. Rasulullah SAW mengatakan bahwa lewatnya anjing hitam itu membatalkan shalat. Beliau menjelaskan bahwa hal itu karena anjing hitam adalah setan.

Dari Abu Qilabah ra dari Nabi SAW, ia bersabda, “Sekiranya anjing itu bukan satu ummat niscaya aku memerintahkan pembunuhannya tetapi aku takut memusnahkan satu ummat, karena itu bunuhlah setiap binatang hitam sebab dia adalah jinnya atau dari jinnya.” (HR Muslim dalam Kitabul Musaqat hadits nomor 48).

Dari Abu Dzar ra telah bersabda Rasulullah SAW, “Apabila salah seorang diantara kalian berdiri shalat maka (hendaklah) dia membatasinya dengan sutrah (pembatas) jika di hadapannya ada seperti ekor binatang, jika tidak ada di hadapannya seperti ekor binatang maka sesungguhnya shalatnya bisa batal karena keledai, wanita dan anjing hitam.” Saya bertanya: “wahai Abu Dzar, mengapakah anjing hitam dibedakan dari anjing merah atau anjing kuning segala? “Ia menjawab: “Wahai anak saudaraku, saya bertanya kepada Rasulullah SAW sebagaimana kamu bertanya kepadaku lalu beliau bersabda: “Anjing hitam adalah setan” (HR Muslim).

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Anjing hitam adalah setannya para anjing. Jin itu acapkali menjelma dalam wujud anjing hitam. Demikian pula dalam wujud kucing hitam, karena hitam itu lebih merangkum kekuatan-kekuatan setan daripada warna lain. Hitam juga mengandung energi panas.” 

Nabi SAW bersabda, “Ular adalah jadian jin sebagaimana kera dan babi adalah jadian dari Bani Isra'il.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Thabrani di dalam al Kabir dan Ibnu Abi Hatim dalam al'Ilal).

jin

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda