Mengapa Jatuh Cinta Kadang Tak Perlu Logika ? - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Monday, April 19, 2021

Mengapa Jatuh Cinta Kadang Tak Perlu Logika ?

Begitu membaca judul di atas, Anda mungkin akan langsung teringat dengan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Agnes Monica yang berjudul “Tak Ada Logika”.

Dalam salah satu bait lagu Tak Ada Logika disebutkan sebagai berikut.:

“Cinta ini kadang-kadang tak ada logika

Berisi smua hasrat dalam hati

Kuhanya ingin dapat memiliki

Dirimu hanya untuk sesaat”

Leo Agung Srie Gunawan dalam tulisannya yang berjudul “Problematika Jatuh Cinta ; Sebuah Tinjauan Filosofis” menyatakan bahwa dalam pengalaman hidup manusia terdapat 3 (tiga) fenomena relasi manusiawi : (1) relasi cinta (2) jatuh hati, dan (3) jatuh cinta. Tulisan tersebut seakan mengkonfirmasi artikel saya sebelumnya, “Jatuh Hati vs Jatuh Cinta, Apa Bedanya ?” dimana dijumpai adanya perbedaan mendasar antara jatuh hati dan jatuh cinta.

Leo Agung mengatakan bahwa “jatuh hati merupakan introduksi dari jatuh cinta”. Artinya, orang jatuh hati belum tentu akan berlanjut ke jatuh cinta. Jatuh hati hanya mengantarkan seseorang untuk masuk pada fase jatuh cinta. Hal tersebut bergantung pada intensitas dan kontinuitas dalam pengalaman jatuh hati. Maka benar adanya jika ada pepatah Jawa yang mengatakan, “tresno jalaran soko kulino”. Cinta dapat muncul karena faktor terbiasa. Dalam hal ini berkorelasi dengan intensitas dan kontinuitas karena “terbiasa” akan tercapai hanya menggunakan 2 (dua) komponen tadi yaitu intensitas dan kontinuitas. Jika intensitas rasa jatuh hati besar maka orang itu bisa masuk ke fase jatuh cinta. Contoh saja, kembali pada sosok Dian Sastro. Jika laki-laki tertarik pada impresi pertama, terjadilah apa yang dinamakan jatuh hati. Selanjutnya jika intensitas atau volume ketertarikan yang tinggi itu dibarengi dengan kontinuitas, misal Anda bertemu terus-menerus dengan Dian Sastro, maka peluang untuk terjadi jatuh cinta menjadi besar pula. Fenomena ini sering juga disebut sebagai “cinta lokasi (cinlok)”. Artinya, lokasi dapat menjadi tempat yang membuat seseorang mengalami pergeseran dari jatuh hati ke jatuh cinta. Jika intensitas pun tidak besar namun dengan kontinuitas tinggi (frekuensi bertemu sering) maka intensitas yang kecil yang dibarengi dengan kontinuitas yang besar dapat menghantarkan juga seseorang untuk berpindah dari jatuh hati ke jatuh cinta. Sebaliknya, intensitas tinggi namun jika tidak dibarengi kontinuitas akan menyebabkan introduksi jatuh cinta berpotensi berhenti di tengah jalan.

Jatuh hati hanyalah soal rasa tertarik alias terpesona kepada lawan jenis yang datang secara sekonyong-konyong. Lebih persisnya, rasa tertarik itu seperti insting yaitu insting rasa. Maka benar adanya dalam teori Islam yang menyatakan bahwa manusia itu sendiri sudah dikaruniai gharizah atau naluri, salah satunya adalah ketertarikan kepada lawan jenis.

Dari rasa tertarik itu akan membawa orang menuju rasa penasaran. Hawanya serba ingin mengetahui siapa dia, mengapa dia, dan bagaimana dia. Rasa ingin tahu ini menjadi penegasan dari awal terjadinya jatuh cinta. Dari sini akan muncul emosi yang kuat yang melibatkan suatu “kelekatan” kepada orang yang dicintainya. Berdasarkan pernyataan ini, jatuh cinta merupakan suatu pengalaman emosional yang luar biasa. Karakter luar biasanya terdapat pada emosi yang membuat orang jatuh cinta, melekat kepada partnernya. Ada daya atau energi yang merekatkan keduanya seperti besi sembrani. Seseorang yang dicintai memiliki semacam aura atau kharisma yang mampu menarik sekaligus memiliki kekuatan untuk merekatkan jiwa kepada yang dicintainya. Dalam hal ini muncul ungkapan-ungkapan yang memiliki penilaian tinggi kepada pasangannya. Misal dari pihak laki-laki akan mengungkapkan kepada kekasihnya, “Engkau adalah dewiku”. Sedangkan dari perempuan kepada laki-laki, “Engkau adalah pujanggaku”. 

Dalam pengalaman jatuh cinta, sang kekasih akan menjadi segala-galanya. Faktor-faktor lain menjadi tersingkirkan. Maka benar adanya jika jatuh cinta itu kadang tak memerlukan logika. Apapun kondisi yang terjadi pada kekasihnya akan dapat diterima karena dambaan terhadap kekasihnya itu terlalu tinggi. Rasa rindunya akan menyerap banyak waktu dan perhatian. Wajar jika yang terjadi seperti orang mabuk. Tidak ada yang dapat menghentikan perasaan yang sangat dalam. Orang menyebutnya sebagai “mabuk kepayang”. William Shakespeare sampai menuliskan dalam suatu syairnya, “Segala sesuatu yang rendah dan hina membuat tidak berharga. Cinta dapat mengubah untuk membentuk dan memberi martabat. Cinta melihat tidak dengan mata tetapi dengan hati. Karena itu, Dewi Asmara yang bersayap dilukis buta”.  

love

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda