Kisah Cinta Ginanjar dan Tiara (yang Tak Perlu Logika) - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Tuesday, April 20, 2021

Kisah Cinta Ginanjar dan Tiara (yang Tak Perlu Logika)

Dunia hiburan tanah air sempat heboh dengan berita pernikahan pelawak kawakan, Ginanjar Soekmana dengan gadis asal Cianjur, Tiara Amalia, pada tahun 2019 lalu. Pasalnya usia pernikahan mereka terpaut cukup jauh.

Sebagai informasi bahwa ketika Ginanjar mempersunting Tiara, usia Ginanjar diketahui sudah mencapai 55 (lima puluh lima) tahun, sedangkan Tiara masih berusia 23 (dua puluh tiga) tahun. Dengan demikian terdapat rentang perbedaan usia yang sangat jauh yaitu 32 (tiga puluh dua) tahun.

Fakta di atas menimbulkan sejumlah tanda tanya, terutama pada alasan mengapa Tiara bersedia dipersunting oleh pria yang lebih patut dijadikan ayahnya, apalagi status Ginanjar saat itu duda cerai setelah sebelumnya pernah menikah dengan seorang wanita bernama Susi Riyanti.

Apapun yang menjadi alasan Tiara menerima cinta Ginanjar, hal ini menjadi contoh nyata bahwa cinta itu memang tak memerlukan logika. Kunci utamanya terjadinya pernikahan tersebut ada pada Tiara, sedangkan Ginanjar, saya rasa lebh mudah memasuki fase jatuh cinta karena dari impresi pertama terhadap Tiara sudah mencapai intensitas yang tinggi. Sehingga fase awal berupa jatuh hati mudah saja ia capai untuk kemudian membawanya ke gerbang jatuh cinta. Intensitas yang tinggi itu bisa saja disebabkan oleh tampilan atau performa fisik calon istrinya yang masih terbilang muda.

Ginanjar yang berkenalan dengan Tiara di kampung halaman sang gadis di Cianjur, Jawa Barat, mengungkapkan (seperti dilansir kumparan.com) bahwa kala itu, ia sedang mengisi sebuah acara di sana. Setelah acara selesai, Tiara sempat meminta foto bersama Ginanjar. Setelah momentum pertemuan pertama itu, Ginanjar berkunjung ke rumah orang tua Tiara dan berkenalan dengan ayah dan ibunya. Tak berlangsung lama dan tak dipersulit dengan persyaratan macam-macam, Ginanjar kemudian melenggang dan mendapat restu saat mempersunting Tiara menjadi istrinya. Dengan asumsi sederhana, sosok Tiara masuk ke hati Ginanjar karena faktor utama terimpresi oleh penampilan fisik, dan itu sah-sah saja dalam penilaian orang. Dan impresi pertama ini memang penting guna menumbuhkan intensitas atau kadar jatuh hati yang tinggi sehingga akan mudah melanjutkan ke fase jatuh cinta. Saya menganalisa bahwa sepanjang perkenalan pertama sampai tanggal pernikahan, Ginanjar juga telah melakukan “observasi” pada aspek-aspek non fisik atau kepribadian Tiara. Faktor gabungan antara fisik dan kepribadian itulah yang memuluskan Ginanjar ke tahap jatuh cinta.

Nah, bagaimana dengan penerimaan cinta di sisi Tiara ?. Pada prinsipnya seharusnya sama dengan teori yang sudah dibahas sebelumnya, bahwa impresi pertama dengan intensitas atau kadar yang tinggi akan menjadikan jatuh hati. Lalu diikuti dengan kontinuitas yang semakin memantapkan hati Tiara untuk menerima pinangan Ginanjar. Terungkap bahwa dalam wawancara dengan hot.grid.id, Tiara mengungkapkan alasannya jatuh hati kepada Ginanjar. Menurutnya, Ginanjar adalah sosok yang baik hati, tidak sombong, dan humoris. Lalu dengan asumsi bahwa terjadi kontinuitas, misal dari pertemuan ke pertemuan memang terkonfirmasi bahwa calon suaminya itu merupakan sosok yang baik, tidak sombong, dan humoris, maka kemudian masuklah ke fase jatuh cinta. Kecocokan komunikasi dan kemampuan beradaptasi diantara keduanya menjadikan hampir tidak ada penghalang yang berarti. Jadi muncullah chemistry yang melahirkan “kelekatan” sebagai unsur yang menyatukan keduanya, ibarat besi sembrani.

Jadi sekarang dapat dipahami bahwa cinta itu memang kadang tak memerlukan logika. Yang dimaksud logika di sini tentunya adalah logika pikiran awam karena apa yang terjadi adalah suatu fenomena yang tak biasa, tapi dapat terjadi. Ingat kan lagunya Gombloh, “Kalau cinta melekat, tahi kucing (pun) rasa coklat”. Itulah cinta, serba absurd dengan “logika” yang tak masuk logika !.

cinta



Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda