Pekerja Perusahaan Yang “Tak Terlihat” Ibarat Kuli Kapal Titanic - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Friday, April 16, 2021

Pekerja Perusahaan Yang “Tak Terlihat” Ibarat Kuli Kapal Titanic

Saya dulu memiliki sebuah team kerja dimana sifat pekerjaan yang mereka handle terbilang khusus alias spesifik. Bidang pekerjaan tersebut membutuhkan spesifikasi keahlian tertentu karena menyangkut sistem penginputan yang berbasis IT dengan metode serta alur proses yang lumayan ribet.

Saya sendiri mencoba untuk ikut mempelajari penerapan sistem itu namun tentu saja tidak banyak yang dapat saya lakukan. Fungsi dan tanggung jawab saya hanya sebatas memastikan output yang dihasilkan dari kerja mereka sesuai dengan guideline yang telah ditetapkan.

Tapi, masyaAllah, manakala salah seorang anggota team melakukan diskusi ketika meeting dalam rangka update sistem, yang bersangkutan mampu memberikan suatu penyelesaian masalah yang menurut saya waktu itu sangat sulit dipecahkan, termasuk oleh anggota team dari departemen lain.

Hal-hal spektakuler seperti di atas sebagai pencapaian individu dalam sebuah perusahaan kadang kala “tidak terlihat” oleh level manajemen. Kemampuan mereka seperti tenggelam jauh di bawah gelombang ombak laut yang mudah terlihat di permukaan air. Padahal mereka adalah bagian dari kesuksesan sebuah pencapaian tertinggi perusahaan. Anggota team yang bekerja “dalam diam” tanpa banyak terpublikasi ini kadang menjadikan mereka tak begitu "dianggap" prestasinya. Tidak banyak yang peduli, bahkan sekedar apresiasi berupa ucapan selamat atau pernyataan yang bersifat menggugah pun, mungkin jarang terjadi.

Fenomenanya ibarat kisah kapal Titanic dimana ada para pembesar dan pejabat berpangkat tinggi yang menempati dek atas. Mereka bergaul dengan para penumpang kaya dengan strata sosial yang setara. Popularitas mudah mereka dapatkan karena semuanya “terlihat” oleh mata manusia dari berbagai penjuru. Mereka lalu menganggap bahwa merekalah yang paling berprestasi atas suatu kesuksesan.

Mereka lupa dan kurang memberi penghargaan yang selayaknya kepada para pekerja kasar yang telah ikut berkontribusi besar dalam menaikkan “value” dan nama besar perusahaan. Padahal dengan mengaca pada kasus Titanic, sudah banyak korban berjatuhan, jauh sebelum kapal itu memulai pelayaran. Dikisahkan, dalam proses konstruksi terdapat sekitar 15000 (lima belas ribu) pekerja yang dilibatkan, namun banyak pekerja yang tidak dilengkapi dengan peralatan keselamatan yang memadai. Akibat kurang diperhatikannya aspek keselamatan pekerja, selama proses pembangunan, tercatat 246 (dua ratus empat puluh enam) kasus luka-luka dimana 28 (dua puluh delapan) diantaranya masuk kategori “parah”. Enam orang meninggal dunia di dalam kapal saat sedang dibangun, dan dua lainnya meninggal di bengkel dan gudang galangan kapal. 

Kehebatan dan popularitas kapal Titanic (yang kemudian harus berakhir dengan tragedi yang menyedihkan dan membawa banyak korban jiwa) memberi pelajaran bahwa sehebat-hebatnya para petinggi dan tokoh-tokoh terkenal yang membawa nama besar korporasi, tidak ada yang dapat disebut sebagai super hero. Bisa jadi super hero sesungguhnya adalah orang-orang yang tidak terlihat di atas "kapal" namun harus berjibaku dengan tugas dan tanggung jawabnya pada bagian lain yang tak tersorot kamera. Mereka ikut bekerja keras untuk memastikan operasional "kapal" berjalan sukses agar mampu memuaskan hati para penumpang. Sayangnya karena mereka hanya pekerja bawah, tidak ada yang mengangkat prestasi mereka. Hiruk pikuk penghargaan prestasi kerja hanya ditujukan kepada pihak-pihak yang secara langsung disebut membawa bisnis. Padahal kapal tanpa keberadaan para pekerja yang membakar batu bara di ruang mesin, tidak akan mungkin dapat bergerak di lautan, menyeberangi samudera beratus-ratus kilometer.

Maka, melakukan sinergi antar bagian menjadi hal penting guna memastikan roda organisasi perusahaan dapat berjalan dengan baik. Apabila salah satu pihak merasa menjadi bagian yang paling berjasa, ingatkan mereka agar tidak merasa jumawa dan menganggap rendah yang lainnya. Perlu juga sekali waktu orang-orang penting (key person) dalam perusahaan mengundang pekerja yang tampak biasa-biasa saja kedudukannya. Mintakan masukkan dan pendapatnya. Tunjukkan bahwa perusahaan juga memberi perhatian kepada mereka. Niscaya keseimbangan ritme bekerja dan suasana kondusif lebih mudah dibangun, dan "kapal" pun kan belayar dengan sempurna.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda