“Dian yang Tak Kunjung Padam” Sutan Takdir Alisjahbana - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Sunday, May 16, 2021

“Dian yang Tak Kunjung Padam” Sutan Takdir Alisjahbana

“Dian yang Tak Kunjung Padam” merupakan novel karya Sutan Takdir Alisjahbana yang bukunya diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka pada tahun 1932.

Siapa yang tak kenal Sutan Takdir Alisjahbana (STA) ?. Ia adalah seorang sastrawan dan budayawan yang lahir tahun 1908 dan meninggal dunia pada tahun 1994. Salah satu karya sastra yang berhasil ditulis oleh STA adalah sebuah novel berjudul “Dian yang Tak Kunjung Padam”.

Jalinan cerita novel ini cukup menarik karena menggambarkan romantika kehidupan pria wanita yang saling mencintai namun harus terpisahkan karena adanya perbedaan status sosial diantara keduanya. Cinta mereka abadi walaupun fisik tubuhnya dimiliki oleh orang lain karena jiwa dan ruhnya selalu hidup. Cinta mereka selalu menyala alias tak kunjung padam (mungkin itulah yang menginspirasi pengarang karya sastra ini memberikan judul novelnya dengan “Dian yang Tak Kunjung Padam”).

==========

Pada suatu pagi di sebuah tepian sungai di kota Palembang, Yasin sedang duduk di perahunya untuk menjual barang yang berasal dari ladangnya. Yasin hanyalah seorang pemuda miskin yang ayahnya sudah meninggal dunia.

Saat beristirahat itulah, tiba-tiba ia melihat seorang perempuan yang hendak turun mandi ke tepian sungai. Perempuan itu bernama Molek yang merupakan anak seorang bangsawan Palembang. Pertemuan pada pandangan pertama ini membuat hati Yasin berdebar, demikian juga dengan apa yang dirasakan oleh Molek. Sejak saat itu, Yasin selalu merasa gelisah karena terbayang akan kecantikan wajah Molek. Begitu juga sebaliknya, Molek selalu teringat dengan kegagahan Yasin. Ia suka tersenyum sendiri dan mulai senang berdandan. 

Pada suatu hari, Yasin dan ibunya mendapat undangan pesta pernikahan kerabatnya. Selama berada di pesta itu, Yasin selalu memikirkan Molek. Sepulang dari pesta perkawinan, Yasin memberanikan diri untuk meminta ijin pada ibunya agar dapat menemui Molek. Lalu Yasin menulis surat cinta dan menyelipkan surat tersebut di dekat tempat pemandian Molek.

Molek terkejut bercampur bahagia ketika mendapatkan surat dari Yasin. Lalu ia pun dengan kesungguhan hati membalas surat tersebut dan menerima cinta Yasin. Meskipun demikian, mereka sadar bahwa mereka berangkat dari status sosial yang sangat berbeda. Khawatir mendapat pertentangan dari keluarga, selama bertahun-tahun, sepasang sejoli itu hanya berkasih mesra lewat surat-surat yang diselipkan di tepian tempat Molek mandi. Hingga pada suatu hari Yasin bertekad untuk mengubah hubungan cinta yang selama dilakukan secara diam-diam itu. Ia membernaikan diri untuk melamar Molek secara terang-terangan. Selanjutnya Yasin pun memberitahu niat hatinya kepada ibunya dan seluruh kerabatnya. Keluarga besar Yasin pun berembuk dan selanjutnya mereka sepakat untuk melamar Molek.

Sayang seribu sayang, maksud kedatangan keluarga besar itu ditolak oleh keluarga Molek. Orang tua Molek yang bernama Raden Makhmud adalah seorang bangsawan dan mempunyai harta yang berlimpah sementara Yasin berasal dari keluarga desa yang miskin. Keluarga Molek bahkan menghina dan menyindir keluarga Yasin sehingga rombongan itu pulang dengan membawa tangan kosong dan segudang rasa malu.

Tak lama setelah peristiwa penolakan itu, datanglah seorang saudagar tua keturunan Arab yang kaya raya. Lelaki tua itu bernama Sayid yang hendak melamar Molek. Orangtua Molek yang materialistis itu langsung menerima lamaran Sayid. Sekalipun Molek menolak lamaran itu, perkawinan antara keduanya tetap berlangsung. Kehidupan perkawinan mereka tidak membawa kebahagiaan bagi Molek karena ia tidak mencintai Sayid.

Molek juga sebenarnya mengetahui jika tujuan Sayid menikahinya hanya karena mengincar harta kekayaan ayahnya. Selain itu, perlakuan Sayid terhadapnya pun sangat kasar. Ia tak bisa menyimpan kesedihannya seorang diri. Ia selalu menceritakan kesedihan kepada Yasin melalui surat-suratnya.

Ketika mengetahui pujaan hatinya hidup menderita dan dibarengi kerinduan yang semakin mendalam, Yasin mencoba menemui Molek di Palembang dengan menyamar sebagai seorang pedagang nanas. Meskipun Yasin dapat menemui Molek namun ternyata ada sesuatu yang susah dipahami oleh Yasin dalam kata-kata yang disampaikan oleh Molek. Bagi Molek, cintanya hanya untuk Yasin namun karena tubuhnya telah ternoda oleh manusia lain maka ia memutuskan untuk menyelamatkan ruhnya yang mencintai Yasin dunia akhirat seperti yang dituliskannya pada setiap surat yang ditujukan untuk Yasin.

Tak lama setelah pertemuan yang mengharukan antara sepasang kekasih yang saling mencintai itu, akhirnya Molek mulai sakit-sakitan karena sudah lama menderita hidup bersama suaminya yang sekarang, ditambah luka hati yang tak kunjung reda akibat merindukan kekasihnya, Yasin.

Beban penderitaan yang makin berat makin membuat kesehatan Molek turun drastis. Sampai akhirnya Molek pun wafat akibat menanggung penderitaan yang luar biasa dahsyatnya. Hati Yasin pun sangat terpukul mendengar kematian Molek. Sebagai penghormatan, Yasin bekerja keras banting tulang. Setiap hari ia mengunjungi pusara Molek. Yasin selalu berdoa untuk arwah Molek dan selalu berkirim salam kepada kekasih abadinya itu.

Pada akhirnya, Yasin memilih hidup menyendiri dengan menyepi ke lereng Gunung Seminung, Sukau, Sumatera Selatan, sampai akhir hayatnya karena derita panjangnya yang tidak bisa bersatu dengan Molek, kekasih abadinya. Dua ruh manusia yang saling mencintai itu akhirnya meninggalkan dunia fana menuju alam yang kekal dan abadi.

Dian yang Tak Kunjung Padam

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda