Lailatul Qadar Hanya Dapat Diraih oleh Orang yang Beri’tikaf di Masjid ? - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Sunday, May 9, 2021

Lailatul Qadar Hanya Dapat Diraih oleh Orang yang Beri’tikaf di Masjid ?

Allah SWT telah menetapkan bahwa diantara malam-malam yang ada dalam bulan Ramadhan, terdapat 1 (satu) malam yang memiliki keistimewaan luar biasa karena malam itu digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari 1000 (seribu) bulan atau sekitar 83 (delapan puluh tiga) tahun.

Jumhur menyatakan bahwa malam Lailatul Qadar itu terjadi pada 10 (sepuluh) malam terakhir dalam bulan Ramadhan berdasarkan hadits dari Aisyah ra, “Rasulullah SAW beri’tikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadhan dan dia bersabda, “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir Ramadhan” (HR Bukhari dan Muslim). 

Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW beri’tikaf (berdiam diri di masjid dan melakukan berbagai ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT). Nah, bagi yang memiliki kesempatan melakukan i’tikaf tersebut menjadi keberuntungan tersendiri. Namun bagaimana dengan orang-orang tertentu yang memiliki udzur atau halangan sehingga tidak dapat melakukan i’tikaf ?. Apakah pintu untuk mendapatkan Lailatul Qadar menjadi tertutup baginya ?. 

Tidak banyak artikel yang dijumpai mengenai hal di atas. Saya hanya mendapatkan satu buah tulisan menarik di muslim.or.id yang berjudul “I’tikaf di Masjid Bukan Syarat Mendapatkan Lailatul Qadar”. Tulisan ini hendak menyadarkan kita semua bahwa malam Lailatul Qadar tidak melulu menjadi hak prerogatif bagi mereka yang melakukan i’tikaf di masjid. Ini menunjukkan betapa besar keadilan yang hendak ditunjukkan Allah SWT. Bukankah tidak semua orang bisa melakukannya ?. Bagaimana dengan orang-orang tua yang sakit-sakitan ?. Bagaimana dengan para pekerja yang harus menunaikan tugasnya di malam hari ?. Bagaimana dengan para petugas keamanan kantor yang piket di malam hari ?. Bagaimana dengan pak polisi yang harus mengatur lalu-lintas di malam hari ?. Bagaimana dengan abang ojol yang terpaksa harus terus beredar di jalan raya termasuk malam hari karena tidak ingin menelantarkan keluarganya ?. Bagaimana dengan dokter dan perawat yang harus stand by di ruangan UGD di malam hari ?. Bagaimana dengan seorang perantau yang berada di jalanan malam hari menuju kampung halamannya ?. Bagaimana dengan wanita yang harus begadangan semalaman menjaga buah hatinya ?. 

Tentulah kemahaadilan Allah SWT patut dipertanyakan apabila malam Lailatul Qadar hanya diberikan kepada mereka yang memiliki keleluasan waktu, yang tak repot memikirkan kesibukan sehari-hari, yang tak dibebani dengan tanggungan keluarga yang harus dipikul, yang tak diberi tugas apapun oleh kantor, dan seterusnya. Ternyata tidak demikian. Mereka yang tidak dapat pergi ke masjid pun memiliki kesempatan emas yang sama karena dinyatakan bahwa malam Lailatul Qadar itu bukan terkait soal tempat, namun soal waktu. Dan memang dalam hadits yang telah dinukil di paragraf awal dari tulisan ini, Rasulullah tidak secara eksplisit menyatakan bahwa hanya orang yang beri’tikaf di masjid saja yang bakal memperoleh Lailatul Qadar. Beliau hanya didapati melakukan i’tikaf selama 10 malam terakhir melalui perbuatannya, sedangkan menyangkut perkataan, beliau menyampaikan, “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir Ramadhan”. Jadi ada aspek perbuatan (af’al) dan ada aspek perkataan (aqwal) yang belum tentu menyambung dan memiliki keterkaitan diantara keduanya.

Kuncinya hanya pada aktivitas ibadah yang dapat dilakukan hamba-Nya di malam-malam yang berpotensi terjadi Lailatul Qadar. Dan tentunya ibadah itu pun harus dilandasi dengan niat ikhlas dan bukan sekedar bermaksud pamer di hadapan manusia. Percuma saja manusia melaksanakan seabrek ibadah namun ia masih mengumbar aktivitasnya itu di depan manusia lainnya. Yang ada nilai ibadahnya kandas dan menguap bak debu yang tersiram air hujan. Sebuah perbuatan yang sia-sia dilakukan. 

Baca saja hadits berikut untuk mengetahui pentingnya faktor keikhlasan guna mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR Bukhari).

lailatul qadar

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda