Asal-Usul Wangsa (Dinasti) Sailendra - POJOKCERITA

Wednesday, September 27, 2023

Asal-Usul Wangsa (Dinasti) Sailendra

Ada dua teori mengenai dinasti yang berkuasa pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Teori pertama mengatakan bahwa ada 2 (dua) dinasti yaitu Sanjaya dan Sailendra. Pendukung teori ini adalah F.D.K. Bosch, de Casparis, dan G. Coedes (Poesponegoro, 1990).

Teori kedua dikemukakan oleh Poerbatjaraka yang menyatakan bahwa hanya ada 1 (satu) dinasti pada masa Mataram Kuno. Dengan kata lain, ia menentang teori 2 (dua) dinasti. Menurutnya, Sanjaya dan keturunannya adalah raja-raja dari wangsa Sailendra, asli Indonesia, yang semula menganut agama Siwa namun sejak Rakai Panangkaran, terjadi perpindahan agama dari Siwa ke Buddha Mahayana. 

Pendapat bahwa pada masa Kerajaan Mataram Kuno hanya ada 1 (satu) dinasti diperkuat dengan adanya fakta dimana istilah Sanjayawangsa belum pernah ditemukan dari sumber prasasti manapun. Nama dinasti yang disebutkan dalam sejarah hanyalah Sailendrawangsa yang tertulis pada Prasasti Kalasan (778 M).

R.C. Majumdar memiliki anggapan bahwa wangsa Sailendra di Indonesia, baik yang ada di Jawa maupun Sriwijaya, berasal dari Kalingga, India Selatan. Sedangkan menurut Przyluski, istilah Sailendrawangsa menunjukkan bahwa raja-raja itu menganggap dirinya berasal dari Sailendra yang berarti “raja gunung.” Dengan kata lain, raja-raja di Jawa menganggap leluhurnya ada di atas gunung. Hal ini menjadi petunjuk bahwa istilah Sailendra itu berasal dari asli Indonesia. Disamping itu, pendapat bahwa wangsa Sailendra berasal dari luar Indonesia ditentang oleh Poerbatjaraka, seolah-olah bangsa Indonesia sejak dahulu kala hanya mampu diperintah oleh bangsa asing. Pendapat Poerbatjaraka diperkuat dengan adanya fakta bahwa istilah Sanjayawangsa belum pernah ditemukan pada sumber prasasti manapun. Nama dinasti yang disebut hanya Sailendrawangsa yang tertulis pada Prasasti Kalasan (778 M).

Pernyataan di atas didukung oleh penemuan berupa prasasti batu berbahasa Melayu Kuno di Desa Sojomerto, Kabupaten Pekalongan dan sebuah prasasti berbahasa Sansekerta yang disimpan sebagai koleksi pribadi Adam Malik yang memperkuat anggapan Poerbatjaraka yang menyatakan hanya ada 1 (satu) dinasti yaitu wangsa Sailendra. Prasasti Sojomerto menyebutkan Dapunta Selendra yang merupakan ejaan Indonesia untuk kata Sansekerta “Sailendra.” Nama ayah dan ibunya adalah Santanu dan Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Maka sesuai asal-usul nama-nama wangsa, dapatlah disimpulkan bahwa Sailendrawangsa itu berpangkal pada Dapunta Selendra. Kenyataan bahwa dalam prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno menunjukkan bahwa Dapunta Selendra mungkin sekali berasal dari Sumatera karena di Sumatera dijumpai lebih banyak prasasti berbahasa Melayu Kuno.

Dapunta Selendra kemungkinan memiliki keturunan-keturunan yang bernama Sanna, Sannaha, dan Sanjaya. Hal ini antara lain dapat dilihat pada Prasasti Mantyasih yang menyebutkan daftar raja-raja. Dengan demikian, Sanjaya adalah merupakan anggota wangsa Sailendra.

Di Jawa Tengah sendiri memang banyak ditemukan candi baik yang bercorak Hindu maupun Budhha. Hal ini menunjukkan kesan bahwa terdapat 2 (dua) kelompok candi berdasarkan agama yang berbeda yang seolah-olah mewakili 2 (dua) dinasti yang berbeda pula. Padahal Sanjaya sendiri bukan pendiri wangsa lain yang terpisah dari wangsa Sailendra.

Hubungan antara Dapunta Selendra dan Dapunta Hyang

Nama Dapunta Sailendra mengingatkan kita pada Dapunta Hyang, pendiri Kerajaan Sriwijaya yang sudah dibahas pada tulisan sebelumnya di blog ini. Pertanyaan yang muncul adalah apakah kedua nama tersebut memiliki hubungan kekerabatan? Apabila merujuk pada Prasasti Kota Kapur mengenai usaha Dapunta Hyang menaklukkan Tanah Jawa serta Bahasa Melayu yang digunakan kedua tokoh tersebut, pernyataan bahwa Dapunta Selendra berasal dari Sumatera mendapat dukungan yang cukup kuat.

Selanjutnya terdapat pertanyaan, kerajaan manakah yang diserang oleh Dapunta Hyang? Muncul dugaan yang menyatakan bahwa serangan Sriwijaya ditujukan kepada Kerajaan Tarumanagara. Namun tidak menutup kemungkinan serangan itu ditujukan kepada Kerajaan Ho-ling atau Kalingga.

Berita Cina dari Dinasti Sung menyebutkan bahwa pada pertengahan abad ke-7 di She’po (Jawa) berdiri sebuah kerajaan bernama Ho-ling (Kalingga) yang dipimpin oleh Ratu Hsimo (Sima). Berita Cina yang lain dari Dinasti Tang mengatakan bahwa pada tahun 666 M dan 669 M, datang utusan dari To-lo-mo yang terletak di tenggara (Wurjantoro, 2010). J.L. Moens kemudian mengasosiasikan To-lo-mo dengan Tarumanagara. Apabila dugaan Moens benar maka pada akhir abad ke-7, Kerajaan Tarumanagara masih berdiri. Masalahnya, tidak ada sumber tertulis yang dapat dijadikan bukti bahwa pada abad tersebut apakah Kerajaan Tarumanegara benar-benar masih berdiri atau sudah runtuh.

Kemungkinan lain, kerajaan yang diserang oleh Kerajaan Sriwijaya adalah Kalingga. Orang yang diutus untuk memimpin penyerangan adalah Dapunta Selendra. Namun Sriwijaya tidak mampu menaklukkan Kerajaan Kalingga yang dipimpin oleh Ratu Sima. Karena merasa kecewa atas kekalahannya, Dapunta Hyang membuat prasasti yang isinya mengutuk Tanah Jawa. Sedangkan Dapunta Selendra dan sisa pasukannya tidak kembali ke Sriwijaya melainkan menetap di Jawa yaitu di daerah Sojomerto. Mungkin Dapunta Selendra takut menghadapi kemarahan rajanya karena usahanya untuk menaklukkan kerajaan di Jawa tidak berhasil (Wurjantoro, 2010). Setelah lama menetap, Dapunta Selendra akhirnya menjadi penguasa di Jawa.

Asumsi yang dapat diutarakan sampai saat ini adalah bahwa Dapunta Selendra memang seseorang yang berasal dari Sumatera yang datang ke Tanah Jawa atas perintah Dapunta Hyang. Mungkin Dapunta Selendra adalah salah satu anggota keluarga atau raja bawahan Dapunta Hyang yang berbeda agama dan ditempatkan di Jawa setelah perluasan kekuasaan Sriwijaya. Guna mengukuhkan kedudukannya, Dapunta Selendra membuat Prasasti Sojomerto yang berisi silsilah keluarganya. Bisa jadi alasan Dapunta Selendra mengeluarkan prasasti yang berisi silsilah keluarganya, salah satunya untuk menyatakan bahwa dia bukan berasal dari Jawa dan juga bukan pewaris tahta yang sah.

Raja-Raja Dinasti Sailendra

Poerbatjaraka mencoba menyusun daftar raja penguasa Sailendra pada periode menengah dan lanjut berdasarkan hubungannya dengan tokoh Sanjaya, beberapa prasasti Sailendra, serta penafsiran atas naskah Carita Parahyangan.

  • Santanu (650 M)
  • Dapunta Selendra (674 M)
  • Shima (674 - 703 M)
  • Mandiminyak (674 M)
  • Sanna (710 - 717 M)
  • Sanjaya (717 - 760 M)
  • Rakai Panangkaran (760 - 775 M)
  • Dharanindra (775 - 800 M)
  • Samaragrawira (800 - 812 M)
  • Samaratungga (812 - 833 M)
  • Pramodhawardhani, yang berkuasa mendampingi suaminya, Rakai Pikatan (833 - 856 M)
  • Balaputradewa (833 - 850 M)
  • √ári Udayadityavarman (960 M)
  • Haji (Hia-Tche) (980 M) 
  • Sri Cudamanivarmadeva (988 M)
  • Sri Maravijayottungga (1008 M)
  • Sumatrabhumi (1017 M)
  • Sangramavijayottungga (1025 M)

Referensi :

https://hima.fib.ugm.ac.id/menguak-sosok-dapunta-sailendra/

https://id.wikipedia.org/wiki/Wangsa_Sailendra

Buku “Sejarah Nasional Indonesia” karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Balai Pustaka. 1993.  

Sailendra

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda