Kita tentu sudah sering mendengar istilah ‘quality time’ terutama dalam konteks hubungan keluarga (family relationship) misalnya hubungan antara ayah, ibu, dan anak. Namun ironisnya, istilah yang populer ini dalam pandangan saya mengalami kekaburan (distorsi) makna.
Banyak orang berbicara ‘quality time’ padahal yang dimaksud adalah ‘quantity time’, contoh, semakin sering seorang ayah berada di rumah atau bertemu dengan keluarganya maka disebut bahwa quality time yang ia miliki tinggi. Padahal pemahaman ini tidak sepenuhnya benar.
Quality Bukan Quantity
Secara sederhana, quality dan quantity adalah 2 (dua) konsep yang berbeda. Quantity merujuk pada jumlah atau frekuensi, misal berapa lama waktu yang dihabiskan oleh seseorang, berapa kali bertemu, atau berapa jam ia berada di satu ruangan yang sama. Sementara itu, quality berbicara tentang mutu: seberapa bermakna, seberapa dalam, dan seberapa hadir seseorang dalam sebuah interaksi.
Dalam konteks keluarga, seorang ayah bisa saja setiap hari bertemu dengan keluarganya di rumah, makan bersama, bahkan mungkin tidur di ruangan kamar tidur yang sama. Namun jika sepanjang waktu tersebut pikirannya teralihkan oleh pekerjaan, ponsel, atau beban pikiran lain, maka yang terjadi hanyalah kebersamaan secara fisik dan bukan kebersamaan secara emosional. Quantity-nya terpenuhi namun quality-nya nol.
Sebaliknya, seorang ayah yang jarang berada di rumah (misalnya karena bekerja di luar kota) namun ketika pulang ia benar-benar hadir untuk keluarganya: mendengarkan cerita anak tanpa distraksi atau berbincang dengan pasangannya secara utuh, justru di sinilah tercapai sebuah quality time yang lebih bermakna. Bisa jadi ada ayah-ayah di keluarga lain yang selalu ada secara fisik namun tidak pernah benar-benar terlibat: tidak mendengar, tidak merespons, atau tidak memberi ruang emosi, yang berarti hanya terpenuhi aspek kuantitas dan mengabaikan aspek kualitas di tengah-tengah intensitas pertemuan yang tinggi.
Kehadiran yang Utuh, Bukan Sekadar Ada
Inti dari quality time adalah kehadiran yang utuh (presence) secara pikiran dan perasaan, bukan sekadar hadir secara jasmani. Anak tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang tetapi membutuhkan perhatian yang tulus. Pasangan tidak selalu menuntut frekuensi pertemuan namun menginginkan keterhubungan yang nyata. Quality time tercipta manakala ada dialog 2 (dua) arah, bukan sekadar monolog atau keheningan penuh distraksi. Ada perhatian, bukan sekadar rutinitas. Ada keterlibatan emosi, bukan hanya setor wajah. Maka dalam konteks quality time ini, 1 (satu) jam percakapan yang hangat dan mendalam bisa jauh lebih bermakna dibanding berjam-jam namun tanpa interaksi dua arah.
Penutup
Quality time bukan tentang seberapa sering kita bersama melainkan seberapa sungguh-sungguh kita hadir di momen bersama tersebut. Quantity bisa menjadi pendukung namun tidak pernah bisa menggantikan quality. Dalam keluarga, yang paling diingat bukanlah berapa lama seseorang berada di rumah melainkan bagaimana rasanya memiliki seseorang yang benar-benar hadir karena pada akhirnya kehadiran yang bermakna akan selalu lebih berharga daripada kebersamaan yang sekadarnya.
