Mungkin kita pernah mendengar ada teman atau orang lain yang nyeletuk, “Enak ya jadi kamu, punya gaji besar dan jabatan tinggi. Apa pun yang diinginkan tinggal beli.” Atau, “Enak ya jadi kamu, bisa bertemu banyak orang.” Atau, “Enak ya kamu, punya suami berpenghasilan ratusan juta. Kamu cukup duduk dan ongkang-ongkang kaki di rumah bisa beli barang-barang online sebebas-bebasnya.”
Ucapan-ucapan seperti itu sering kali meluncur dengan begitu mudahnya dari lisan kita yang tanpa disadari dapat menghancurkan keimanan sebagai akibat kurangnya rasa syukur. Parahnya, lontaran bernada ‘ketidakpuasan hidup’ itu kadang justru keluar dari mulut orang yang dalam kesehariannya terlihat religius, sholat sunnahnya berjibun, ngajinya kenceng, dan seterusnya. Sehingga menjadi pertanyaan: sejauh mana ketekunan ibadahnya itu ter-refleksi atau berbanding lurus dengan pengamalan sehari-hari dalam hidup. Seakan tidak ada bekas sama sekali antara ibadah dengan kepasrahan menerima kehidupan. Ibadah hanya seolah menjadi penanda bahwa ia adalah orang terlihat yang lebih baik dalam hal agama. Padahal sesungguhnya ia tidak memahami atau meresapi sampai mendalam bagaimana konsep keimanan yang harus ditegakkan dalam kehidupan nyata. Kita juga sering melupakan sesuatu yang tidak tampak dari kehidupan orang lain. Apa yang tampak lapang di mata manusia, belum tentu lapang di sisi yang menjalaninya. Sebab kebahagiaan dan kesempitan bukanlah semata perkara harta, status, atau jabatan, melainkan ujian yang Allah titipkan kepada hamba-Nya.
Maka guna membuktikan bahwa iman itu sudah melekat dalam dada, berhentilah untuk membandingkan takdir seseorang dengan takdir yang lain. Yang terlihat sebagai sebuah “nikmat” bisa jadi di balik itu terdapat sejumlah ujian kesabaran yang panjang. Bisa jadi seseorang yang engkau katakan hidupnya “enak” sebenarnya tengah memikul beban yang tak sanggup ia pikul. Ia hanya memilih untuk tidak banyak berkeluh kesah kepada manusia. Bisa jadi ia sedang menahan letih, menyimpan air mata, atau berjuang bertahan di tengah badai yang tak diketahui kapan selesainya. Kalau pun ada orang lain yang dikatakan lebih sukses dibanding kita, bisa jadi ia telah memulai perjuangannya dari awal dengan begitu berat. Artinya apa yang ia raih sekarang memang merupakan hasil dari keringat kerja keras dan ketekunannya dari dulu. Sementara kita yang tidak bisa melakukan usaha yang sama hanya bisa merasakan iri dengki yang melahirkan ketidaktenangan hidup.
Lisan sendiri memang menjadi suatu persoalan yang kelihatannya sepele namun memiliki dampak yang besar dalam menentukan level atau tingkat keimanan seseorang. Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam yang berarti bahwa jika kita tidak bisa berbicara sesuatu yang bermanfaat maka diam adalah pilihan yang lebih baik untuk menghindari dosa dan keburukan karena setiap ucapan akan dihisab di akhirat kelak. Jika di dalam hati terlintas rasa iri melihat kehidupan orang lain, kembalikanlah semuanya kepada syukur. Sebab syukur adalah kunci bertambahnya nikmat, sebagaimana firman Allah, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Namun jika kamu kufur, maka sungguh azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim: 7).
Syukur bukan berarti hidup tanpa ujian, melainkan kemampuan untuk tetap melihat kasih sayang Allah di balik setiap keadaan. Bahkan dalam rutinitas yang melelahkan sekalipun selalu ada tanda-tanda nikmat Allah jika hati mau merenung. Dan ingatlah, kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang tersembunyi di balik kehidupan seseorang. Bisa jadi di balik “kesuksesan” yang kita lihat dalam pandangan mata, ia sedang berjuang merawat orang tuanya yang sakit, menanggung utang yang tak kunjung selesai, menghadapi pasangan hidup yang keras kepala, atau menghadapi tingkah laku anak-anaknya yang sulit dikendalikan. Bisa juga ia sedang berjuang mempertahankan kehidupan rumah tangganya yang nyaris hancur berantakan, memperjuangkan impian-impian masa depan yang masih panjang, atau menahan rindu dengan keluarganya karena jarak dan keadaan.
Maka janganlah tergesa-gesa menilai hidup kita lebih rendah dibanding orang lain. Setiap hamba sedang berjalan di jalannya masing-masing dengan ujian yang telah Allah atur. Tugas kita bukan membandingkan namun alangkah baiknya saling mendoakan. Tidak perlu lagi mengomentari takdir namun lebih baik memperbaiki rasa syukur dan mempertebal kesabaran dalam menjalani ketetapan-Nya.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga lisan kita, melembutkan hati kita, dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dalam kelapangan rizki serta bersabar dalam kesempitan. Aamiin.
