Ada jenis manusia yang sangat lihai memainkan peran ‘korban masa depan’. Mereka datang dengan cerita panjang tentang apa yang seharusnya mereka capai, apa yang seharusnya mereka miliki, dan betapa dunia tidak cukup adil memberi mereka kesempatan. Cerita itu dibungkus rapi dengan nada rendah hati bahwa mereka sedang membutuhkan bantuan atau pertolongan. Dan kita yang dengan niat baik ingin menolong dengan rasa empati, menerima undangan itu.
Begitu bantuan ditawarkan, mereka terlihat lega. Seakan hidup mereka baru saja lepas dari himpitan yang dalam karena ada orang lain yang bersedia memikulnya. Kita pun mulai berpikir, merencanakan, membuka jalan, bahkan menyesuaikan ritme hidup kita agar selaras dengan “kebutuhan” mereka. Kita mengira hal ini akan disambut kembali oleh mereka, namun itu hanya sebuah ‘plot twist’. Yang terjadi justru sebaliknya. Karena ketika tiba saatnya kita bergerak, orang yang paling berkepentingan justru menjadi pihak paling malas menyambut bantuan kita. Bukan malas dalam arti tidak mampu tetapi malas dalam arti memilih untuk tidak peduli. Mereka menunda dengan santai, merespons setengah hati, dan selalu punya alasan yang terdengar manusiawi namun berulang. Tidak pernah ada penolakan terang-terangan, hanya pengabaian yang konsisten. Ironisnya, semakin kita serius melakukan follow-up, justru semakin mereka tampak terganggu. Seolah kesungguhan orang lain bisa diabaikan. Seolah motivasi adalah sesuatu yang bisa dipinjam, bukan ditumbuhkan. Mereka tampaknya percaya bahwa niat saja sudah cukup, dan usaha adalah urusan pihak yang “lebih peduli”. Di titik ini, hubungan berubah bentuk. Bukan lagi pertemanan melainkan semacam relasi ‘parasit’ yang dibungkus kesopanan. Satu pihak terus memberi dorongan sementara pihak lain nyaman dalam posisi pasif, menikmati perhatian tanpa menanggung tanggung jawab. Mereka ingin hasil tapi alergi terhadap proses. Mereka ingin ditolong tapi tidak ingin berubah. Dan yang paling menjengkelkan, mereka tetap merasa benar.
Ketika kita mulai mengambil langkah menarik diri, mereka heran. Ketika kita berhenti mengingatkan, mereka merasa diabaikan. Ketika kita memilih mundur sepenuhnya, mereka merasa dikhianati. Dalam versi cerita mereka, orang lainlah yang tidak konsisten, tidak sabar, dan tidak setia. Tidak pernah terlintas bahwa penyebab utama kegagalan itu adalah ketidakpedulian mereka sendiri terhadap dirinya.
Maka keputusan kita untuk pergi meninggalkannya bukanlah emosi sesaat, melainkan kesimpulan logis. Kita berhenti bukan karena kehabisan empati tetapi karena sadar bahwa empati yang dipaksakan hanya melahirkan penghinaan terhadap diri sendiri. Menjaga hubungan dengan orang semacam ini sama saja dengan mengafirmasi satu kenyataan bahwa mereka sebenarnya tidak ingin berubah. Yang mereka inginkan hanyalah ditemani dalam stagnasi. Dibantu tanpa diminta bertanggung jawab. Didorong tanpa harus melangkah. Dan ketika dorongan itu berhenti, mereka akan mencari orang lain yang cukup naif untuk mengulang siklus yang sama.
Pada akhirnya, memutuskan hubungan bukanlah tindakan kejam. Tindakan paling kejam justru terus bertahan karena itu berarti kita ikut bersekongkol dalam kepalsuan. Mundur adalah satu-satunya cara waras untuk menyelamatkan energi, waktu, dan harga diri. Sebab tidak ada yang lebih sia-sia daripada berjuang untuk masa depan seseorang yang bahkan tidak peduli pada masa depannya sendiri.
