Memahami Sistem “Penilaian Objektif” dan “Penilaian Subjektif”; Antara Berbasis Hasil vs Cara Pandang - POJOKCERITA

Monday, February 16, 2026

Memahami Sistem “Penilaian Objektif” dan “Penilaian Subjektif”; Antara Berbasis Hasil vs Cara Pandang

Dalam praktik profesional baik di kantor, lembaga pendidikan, organisasi sosial, bahkan dalam relasi personal, istilah “penilaian objektif” dan “penilaian subjektif” seringkali disalahgunakan atau digunakan secara bergantian tanpa benar-benar dapat dipahami maknanya dengan benar. Akibatnya muncul salah faham di mana orang menuntut objektivitas pada sesuatu yang sejak awal memang dirancang hanya bisa diukur secara subjektif, atau sebaliknya, membiarkan subjektivitas merasuki sistem yang seharusnya berbasis hasil yang terukur secara angka kuantitatif. 

Tulisan ini mencoba meluruskan dua konsep tersebut dengan suatu penekanan penting: (1) Penilaian objektif menitikberatkan pada hasil (result) yang dapat diverifikasi kebenaran datanya; (2) Penilaian subjektif menitikberatkan pada cara pandang subjek penilai terhadap yang dinilai. Memahami perbedaan ini bukan sekadar urusan terminologi, tetapi soal keadilan, transparansi, dan ekspektasi dalam sistem evaluasi.

Apa Itu Penilaian Objektif?

Penilaian objektif adalah evaluasi yang didasarkan pada indikator yang terukur, terdefinisi jelas, dan dapat diverifikasi oleh pihak lain dengan hasil yang relatif sama. Kata kuncinya: (1) Berbasis data; (2) Berbasis hasil/result; (3) Dapat diuji ulang; dan (4) Minim pengaruh perasaan/sentimen pribadi.

Dalam penilaian objektif, fokus utama adalah pada result atau hasil di mana yang dinilai bukan persepsi melainkan output nyata. Contoh: (1) Target penjualan tercapai atau tidak; (2) Jumlah proyek selesai sesuai deadline atau tidak; (3) Nilai ujian matematika 85 dari 100; (4) Tingkat kehadiran 96%. Di sini faktor perasaan penilai tidak relevan untuk digunakan. Jika seseorang mencapai 110% dari target maka secara objektif ia unggul terlepas apakah orang lain menyukainya atau tidak. Dengan demikian, sistem penilaian objektif harus memenuhi beberapa karakteristik: (1) Ada standar baku yang disepakati di awal; (2) Ada parameter yang jelas (angka, indikator kuantitatif, checklist terstruktur, dan lain-lain); (3) Siapa pun yang menilai dengan data yang sama akan cenderung menghasilkan kesimpulan yang sama.

Apa Itu Penilaian Subjektif?

Berbeda dengan objektif, penilaian subjektif tidak berangkat dari angka yang absolut melainkan dari cara pandang si penilai terhadap yang dinilai. Kata kuncinya: (1) Dipengaruhi oleh persepsi; (2) Dipengaruhi oleh pengalaman; (3) Dipengaruhi oleh standar internal pribadi; (4) Tidak selalu bisa direplikasi ke orang lain. Contoh sistem penilaian subjektif: (1) Seberapa baik seseorang bekerja dalam tim?; (2) Apakah ia komunikatif?; (3) Apakah ia menunjukkan jiwa kepemimpinan?; (4) Seberapa memuaskan pelayanan yang diberikan? Semuanya itu melibatkan interpretasi. Dua orang penilai bisa saja dengan melihat perilaku yang sama namun bisa memberikan skor berbeda karena: (1) Standar ekspektasi mereka berbeda; (2) Pengalaman mereka berbeda; (3) Nilai personal mereka berbeda. Dan itu bukan kesalahan sistem karena justru inilah esensi dari subjektivitas.

Mengapa Banyak Terjadi Salah Faham?

Masalahnya muncul saat orang tidak bisa membedakan dari awal apakah sistem ini dirancang objektif atau subjektif. Mari kita gunakan contoh konkret. Ada form kuisioner yang disebar dengan skala penilaian 1 sampai 5 di mana reviewer diminta menilai reviewee. Pertanyaannya: apakah sistem ini objektif atau subjektif? Jawabannya: subjektif. Mengapa? Karena: (1) Skala 1–5 memang terlihat kuantitatif namun makna angka tersebut bergantung pada persepsi penilai; (2) Tidak ada rumus matematis mutlak untuk menentukan apakah seseorang pantas mendapat 3 atau 4, katakanlah dalam kategori penilaian “komunikasi”. Angka di sini bukan hasil kalkulasi matematis melainkan terjemahan persepsi menjadi simbol numerik.

Dengan demikian, hasil akhir penilaian subjektif seharusnya tidak perlu diperdebatkan atau dipermasalahkan. Seringkali terjadi seorang reviewer memberikan nilai 2 sedangkan reviewer lain memberikan nilai 4. Lalu muncul tuduhan “itu tidak objektif!” Padahal memang tidak pernah akan bisa terjadi hasil yang bersifat objektif untuk sistem penilaian yang berbasis subjektif. Yang keliru bukan skornya melainkan ekspektasi orang yang mengkritik bahwa semua orang harus memberi nilai yang sama. Hal ini hanya mungkin terjadi jika: (1) Ada indikator matematis yang presisi; (2) Ada kriteria yang sepenuhnya terkuantifikasi; (3) Tidak ada ruang interpretasi. Sebaliknya, selama penilai diminta menilai menurut pandangannya maka hasilnya memang akan beragam. Jika sistemnya objektif maka kebenaran diukur dari hasil dan jika sistemnya subjektif maka kebenaran diukur dari kejujuran persepsi. Ketika kita gagal membedakan dua hal tersebut maka kita terjebak pada perdebatan yang seharusnya tidak perlu ada. Jangan menuntut objektivitas pada suatu sistem yang memang dibangun untuk mengakomodasi subjektivitas.

penilaian objektif

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda