Ketika Permainan “Cari Kelompok” Justru Mengajarkan Pengkhianatan Terselubung - POJOKCERITA

Thursday, May 21, 2026

Ketika Permainan “Cari Kelompok” Justru Mengajarkan Pengkhianatan Terselubung

Dalam berbagai kegiatan pelatihan, outbound, gathering, hingga orientasi organisasi, ada satu jenis permainan yang hampir selalu muncul dan ngga pernah ada evaluasi manfaatnya secara nyata. Padahal tidak ada argumentasi kuat yang menjadikan permainan itu benar-benar bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Permainan seperti itu hanya menimbulkan pemborosan energi dan uang untuk menyiapkan segala sesuatunya. 

Dalam permainan cari kelompok itu, peserta awalnya masih bebas berkelompok namun tiba-tiba sang instruktur berteriak, “Buat kelompok berisi lima orang!”. Dalam hitungan detik, semua orang mengalami kepanikan karena harus mencari teman kelompok dengan jumlah yang sudah ditentukan. Ada yang langsung menggandeng tangan orang lain di dekatnya, ada yang berlari mengejar teman yang berdiri jauh, ada juga yang tiba-tiba ditinggalkan oleh kelompoknya sendiri. Ketika jumlah anggota kurang satu orang, mulailah terjadi tarik-menarik dan saling dorong. Ada yang “dibajak” dari kelompok lain, ada yang harus terjatuh karena dipaksa keluar kelompok. Bahkan ada yang ditinggalkan begitu saja demi menyelamatkan ego kelompoknya masing-masing.

Permainan ini memang dibilang hanya sebagai ice breaking saja, meskipun ada yang lebih serius mengatakan sebagai team building atau permainan membangun kebersamaan dan kekompakan kelompok. Katanya agar peserta lebih bergerak aktif dan mampu bekerja sama. Namun menurut saya, itu itu cuma bualan belaka yang sulit dibuktikan keilmiahannya. Bila dipikir lebih dalam, sebenarnya permainan semacam itu justru mengajarkan tentang pengkhianatan, perebutan, dan pembenaran tindakan yang tidak etis.

Aktif Bergerak Namun Belum Tentu Aktif Berpikir secara Sehat

Orang yang membela permainan seperti itu biasanya akan berdalih: “Tujuannya supaya peserta aktif bergerak.” Padahal bergerak aktif bukanlah tujuan utama pendidikan karakter atau pelatihan perilaku manusia. Jika hanya ingin membuat orang bergerak aktif maka jogging bersama atau senam ringan jauh lebih sehat dan jelas manfaatnya. Dalam praktiknya, permainan itu justru melatih naluri kekejaman manusia: menyelamatkan kelompok sendiri dengan mengorbankan orang lain. Saat sebuah kelompok kekurangan satu anggota, mereka tidak diajarkan untuk menerima keadaan. Yang terjadi justru dorongan spontan untuk “merebut” anggota dari kelompok lain. Orang-orang tertawa ketika ada peserta yang berhasil “menculik” anggota kelompok lain. Seolah tindakan tersebut lucu dan wajar. Tapi pikiran itu justru memperlihatkan adanya kebodohan. Secara moral, permainan itu sedang mempertontonkan tindakan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Loyalitas dapat ditinggalkan ketika ada tekanan situasi. Kelompok lain boleh dirugikan demi keselamatan kelompoknya sendiri. Merebut orang dari pihak lain adalah hal normal. Ironisnya, orang yang berhasil menarik orang lain dan orang yang pindah dari kelompok awal sering dianggap sebagai juru penyelamat bagi kelompok barunya. Padahal di sisi lain, ia baru saja melakukan pengkhianatan demi kepentingan baru yang lebih menguntungkan atau lebih aman. Bukankah itu mengajarkan orang untuk melakukan pengkhianatan yang bisa saja akan dipraktikkan pada kehidupan sehari-hari? Bukankah ini justru sangat bertolak belakang dengan nilai kerja sama yang katanya ingin dibangun dalam sebuah permainan team building?

Peserta yang Tersisih akan Menjadi Korban Psikologis

Hal lain yang jarang dibahas oleh orang-orang adalah dampak psikologis pada peserta yang tersisa sendirian atau yang sering tidak mendapat kelompok. Bagi sebagian orang mungkin sepele. Tetapi bagi orang yang berkarakter pemalu, introvert, atau memiliki pengalaman sosial buruk, momen seperti ini bisa saja terasa sangat menyakitkan. Ia melihat orang lain saling menarik teman, sementara dirinya justru tidak dipilih siapa pun. Kelihatannya lucu bagi orang lain, tetapi belum tentu lucu bagi dirinya. Permainan yang katanya membangun kebersamaan justru ternyata menciptakan rasa asing bagi orang-orang tertentu.

Dalam jangka panjang, cara membentuk karakter dengan memilih permainan yang keliru itu dapat terbawa ke lingkungan kerja atau organisasi di mana orang akan tega untuk saling melakukan tindakan bar-bar: merebut posisi atau jabatan, menjatuhkan teman, mengambil atau membajak personil di departemen lain, dan lain-lain. Intinya semua hal akan dilakukan tanpa memperhatikan halal haram demi kepentingan sendiri maupun kelompoknya. 

team building

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda