Saat Tiba Di Persimpangan Jalan - POJOKCERITA

Saturday, May 23, 2026

Saat Tiba Di Persimpangan Jalan

Ada kalanya hidup menempatkan seseorang pada persimpangan jalan yang sulit. Bukan tentang memilih mana yang lebih mudah tetapi memilih mana yang paling mampu ia pertanggungjawabkan, baik kepada dirinya sendiri maupun orang-orang terdekatnya. 

Dalam dunia pekerjaan, soal perpindahan atau mutasi kerja itu adalah permasalahan biasa. Yang dimaksud biasa di sini dalam arti dari aspek operasional perusahaan. Salah satu risiko orang bekerja adalah harus menanggung hal-hal di luar ekspektasi. Dan memang dalam hidup, hampir tidak ada yang mampu menjalani kehidupan dengan indah seindah-indahnya. Pasti ada masalah-masalah yang dating baik dari skala kecil sampai yang besar. 

Dari sudut pandang pemberi kerja, hal pertama yang akan dilihat terhadap sosok pekerja adalah kredibilitas dan kinerja. Semua pemilik perusahaan pastinya mendambakan semua pekerjanya mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, berdisiplin, dan menjaga hubungan kerja yang profesional serta harmonis dengan sesame rekan kerja maupun atasannya. Sehingga bahkan bukan tidak mungkin, perusahaan dalam memindahkan karyawannya karena dianggap si karyawan memiliki kemampuan dalam mengisi dan mengembangkan kebutuhan operasional organisasi perusahaan. Salah satu caranya adalah dengan melakukan mutasi dan/atau promosi sebagai bentuk kepercayaan perusahaan kepada seseorang.

Namun situasinya menjadi sulit manakala terjadi situasi yang serba dilematis: di satu sisi perusahaan membutuhkan orang yang siap menerima perintah tugas sesuai kebutuhan operasional yang harus tetap berjalan. Di sisi lain mungkin si pekerja harus menghadapi situasi dan kenyataan sulit saat keluarganya membutuhkan kehadirannya secara penuh di kota tempat tinggalnya saat ini. Ada istri yang belum siap ditinggal pergi jauh suaminya. Ada anak kecil yang masih harus diperhatikan kasih sayangnya. Atau ada orang tua karyawan yang lanjut usia dan memerlukan pendampingan khusus. Ada kebutuhan alokasi waktu yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Meski dunia komunikasi sudah sedemikian canggih namun ini bukan sekadar soal komunikasi lewat telepon atau mengirim uang setiap bulan tetapi tentang kehadiran nyata secara langsung.

Akhirnya resign menjadi jalan pilihan yang paling realistis meskipun berat. Bukan karena kecewa kepada perusahaan, bukan pula karena menolak tantangan baru. Ia memahami perusahaan punya kebutuhan akan kemampuan kerjanya dan perusahaan pun sebenarnya dalam hal ini memberikan kesempatan kepada karyawan agar lebih maju dalam karier. Situasi seperti ini disimpulkan tidak bermakna ada pihak yang benar dan ada yang salah. Kedua-duanya benar. Perusahaan harus tetap berjalan berdasarkan kebutuhan organisasi sementara karyawan juga memiliki tanggung jawab kehidupan individu yang tidak kalah penting. 

Banyak orang mengira bahwa memilih resign adalah keputusan emosional sesaat. Padahal bagi sebagian orang, keputusan itu lahir dari pertimbangan yang cukup panjang dan penuh tekanan batin. Ada karier yang harus dilepas, ada zona nyaman yang harus ditinggalkan, dan ada masa depan yang sebenarnya sudah mulai terbentuk di bidang pekerjaannya. Namun pada akhirnya, hidup bukan hanya soal dunia pekerjaan. Ada fase ketika seseorang akan memilih untuk tetap tinggal karena ia tahu ada orang-orang di rumah yang lebih membutuhkan kehadirannya. Kesempatan untuk menjaga orang tua dan keluarga di saat mereka benar-benar membutuhkan belum tentu akan datang dua kali. Dan bentuk takzim anak kepada orang tuanya adalah dengan menjaga dan merawatnya sampai ajal tiba.

Keluarga

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda