Jangan Melempar Penyelesaian Masalah kepada Orang Lain atas Kesalahan yang Kita Buat - POJOKCERITA

Sunday, July 5, 2026

Jangan Melempar Penyelesaian Masalah kepada Orang Lain atas Kesalahan yang Kita Buat

Salah satu budaya kerja yang sering luput disadari oleh kita adalah kebiasaan seseorang melempar tanggung jawab ke orang lain atas kesalahan yang ia perbuat. Polanya hampir selalu sama. Ketika suatu masalah terjadi akibat kelalaiannya, alih-alih ia datang membawa solusi, ia justru bertanya, "Lalu bagaimana menyelesaikannya?".

Sekilas pertanyaan itu terdengar wajar. Namun, dalam banyak kasus, pertanyaan tersebut sesungguhnya merupakan bentuk lari dari masalah dan upaya mengalihkan tanggung jawab. Beban untuk memikirkan jalan keluar dipindahkan kepada atasan, rekan kerja, atau pihak lain, sementara ia sendiri sebagai penyebab masalah justru terbebas dari tanggung jawab. Padahal tanggung jawab itu tidak hanya berhenti pada pengakuan kesalahan. Tanggung jawab juga mencakup keberanian dan inisiatif untuk memikirkan bagaimana memperbaiki kesalahan tersebut.

Orang yang bertanggung jawab seharusnya datang dengan sikap seperti ini, "Saya melakukan kesalahan. Saya sudah memikirkan beberapa alternatif penyelesaiannya. Ini risiko masing-masing alternatif dan saya siap menjalankan serta mempertanggungjawabkannya. Mohon arahan apabila ada yang perlu diperbaiki." Perhatikan perbedaannya. Pada kasus sebelumnya, seseorang dengan mudahnya menyerahkan pekerjaan memikirkan penyelesaian masalah kepada orang lain. Sedangkan pada kasus kedua, ia tetap meminta arahan tetapi setelah terlebih dahulu menjalankan bagian yang menjadi tanggung jawabnya.

Atasan memang memiliki kewajiban memberikan keputusan dan arahan namun bukan berarti setiap kesalahan bawahan harus disertai dengan kewajiban atasan untuk mencari solusi dari nol. Jika setiap kali terjadi kesalahan, si pelaku hanya melempar pertanyaan, "Lalu bagaimana menyelesaikannya?", maka yang terjadi adalah atasan bukan hanya memimpin pekerjaan tetapi juga terus-menerus membereskan kelalaian bawahannya. Budaya seperti ini cukup berbahaya karena menciptakan mentalitas kebergantungan. Orang menjadi terbiasa melakukan kesalahan tanpa pernah melatih kemampuan untuk menganalisis akar masalah, menyusun alternatif penyelesaian, maupun menanggung konsekuensi dari tindakannya. Sebaliknya, organisasi yang sehat dibangun oleh orang-orang yang memiliki ‘sense of ownership’. Mereka memahami bahwa ketika kesalahan berasal dari dirinya maka inisiatif pertama adalah memperbaiki dari dirinya, bukan berarti harus mampu menyelesaikan semuanya sendirian tetapi ia harus menjadi orang pertama yang berusaha mencari solusi, bukan orang pertama yang melempar pertanyaan ke orang lain tentang bagaimana mencari solusi tersebut. Tentu saja tidak semua masalah dapat diselesaikan sendiri. Ada persoalan yang membutuhkan persetujuan, sumber daya, atau kewenangan atasan. Namun sebelum meminta bantuan, seseorang semestinya telah melakukan pekerjaan rumahnya: memahami penyebab masalah, memikirkan berbagai alternatif penyelesaian, memperhitungkan dampaknya, lalu mengajukannya untuk mendapatkan keputusan.

Penutup 

Ukuran profesionalisme bukan semata-mata diukur seberapa sedikit seseorang melakukan kesalahan, karena setiap orang berpotensi melakukan hal itu. Yang membedakan seorang profesional adalah bagaimana ia bersikap setelah kesalahan itu terjadi. Jadi jangan hanya datang membawa masalah namun datanglah dengan tanggung jawab. Jangan hanya berkata, "Lalu bagaimana menyelesaikannya?" Lebih tepat apabila berkata, "Ini kesalahan saya. Saya sudah menyiapkan beberapa opsi penyelesaiannya dan siap mempertanggungjawabkan pelaksanaannya. Mohon arahan agar solusi yang dipilih menjadi yang terbaik."

budaya kerja

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda