Tragedi Pendakian Gunung Slamet 2001; Naik Bertujuh, Pulang Hanya Dua - POJOKCERITA

Saturday, August 29, 2026

Tragedi Pendakian Gunung Slamet 2001; Naik Bertujuh, Pulang Hanya Dua

Bayangkan saat pendaki terjebak di tengah kabut tebal yang hanya menyisakan jarak pandang setengah meter. Tidak terlihat alur jalan di depan. Sementara tubuh mulai menggigil kedinginan. Tenaga perlahan menghilang. Pendaki hanya dihadapkan pada dua pilihan: terus berjalan menuju puncak, atau berbalik turun. Masalahnya, keduanya sama-sama mengandung bahaya.

Itulah kondisi yang dialami tujuh mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang berjuang mempertahankan hidup mereka di Gunung Slamet. Mereka datang untuk mendaki. Mereka tidak menyangka bahwa gunung itu kelak menjadi tempat bernafas terakhir di dunia. Lima dari mereka tidak pernah kembali dalam keadaan selamat. Hanya dua yang akhirnya berhasil turun namun membawa cerita pilu. Dan cerita itu dimulai pada hari Minggu pagi, 4 Februari 2001.

Pagi itu, Gelanggang Mahasiswa UGM menjadi titik keberangkatan. Tujuh mahasiswa bersiap melakukan perjalanan menuju Gunung Slamet. Mereka adalah Turniadi yang biasa dipanggil Dodo, Masrukhi, Dewi Priamsari, Bagus Gentur Sukanegara, Ismarilianti atau Iis, Bregas Agung, dan Ahmad Fauzan. Mereka berangkat dengan visi yang sama seperti pendaki lainnya: mencapai puncak dan kembali pulang dengan selamat.

Dari Yogyakarta mereka menuju Stasiun Lempuyangan kemudian melanjutkan perjalanan ke Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah. Rombongan sempat berhenti untuk makan siang kemudian tiba di Pengasinan sekitar pukul 15.30 WIB. Dari Pengasinan mereka masih harus berjalan kaki sekitar tujuh kilometer menuju Kaliwadas. Hari mulai beranjak sore ketika mereka mencapai desa tersebut. Hari itu mereka bermalam. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa hari kemudian, perjalanan yang tampak biasa-biasa itu akan berubah menjadi perjuangan hidup dan mati.

Senin, 5 Februari 2001

Sekitar pukul 09.30 WIB, ketujuh pendaki mulai meninggalkan Kaliwadas. Langkah demi langkah mereka membawa tubuh ke posisi yang semakin tinggi. Hutan dan jalur pendakian menjadi bagian dari perjalanan siang itu. Sekitar pukul 15.30 WIB mereka mencapai pertemuan jalur Kaliwadas dan Baturaden. Perjalanan diteruskan hingga sekitar pukul 17.00 WIB. Hari semakin gelap. Mereka kemudian mendirikan tenda dan beristirahat.

Keesokan harinya, Selasa 6 Februari 2001, perjalanan dilanjutkan kembali. Sekitar pukul 13.00 WIB, mereka mencapai garis batas vegetasi. Di sinilah karakter jalur/trek Gunung Slamet mulai berubah. Pepohonan yang sebelumnya menjadi pelindung perlahan menghilang. Di depan mereka terbentang kawasan terbuka menuju puncak. Di sinilah batas antara perjalanan yang relatif terlindungi dan kawasan yang sepenuhnya terbuka yang rentan dengan paparan cuaca buruk. Mereka sebenarnya ingin langsung menuju puncak tetapi alam tidak mengizinkan. Badai tiba-tiba datang. Kabut tebal menyelimuti jalur pendakian menuju puncak. Puncak gunung yang beberapa saat sebelumnya masih dapat mereka lihat berubah menjadi dinding putih yang nyaris tidak memberikan pandangan sedikit pun. Mereka akhirnya mengambil keputusan: berhenti. Tiga tenda didirikan di dekat garis vegetasi. Malam itu mereka menunggu badai berlalu. Mereka berharap esok akan menjadi hari yang lebih baik. Dan memang, Rabu pagi, 7 Februari 2001 sekitar pukul 05.00 WIB, cuaca terlihat cerah. Tetapi mereka belum siap berangkat. Perlengkapan masih harus dikemas. Sekitar pukul 06.00 WIB semuanya selesai. Satu tenda dibiarkan berdiri lalu mereka bergerak menuju puncak. Namun Gunung Slamet kembali menunjukkan wajahnya. Kabut turun. Angin bertiup kencang. Badai kembali datang. Mereka kembali berlindung di dalam tenda. Suhu di sekitar garis vegetasi bahkan berada di bawah nol derajat Celsius. Ancaman hipotermia bukan lagi sesuatu yang jauh dari mereka. Ia berada tepat di depan mereka.

Sekitar pukul 10.00, badai mulai sedikit mereda meski kabut masih ada. Tetapi angin tidak lagi meraung seperti sebelumnya. Muncul sebuah kesempatan. Namun bersama kesempatan itu datang pula keraguan. Haruskah mereka menunggu? Atau mencoba mencapai puncak? Masrukhi dan Dodo menyatakan kesediaan untuk mendampingi perjalanan menuju puncak. Mereka akhirnya berangkat. Beberapa langkah. Puluhan langkah. Semakin tinggi. Namun kemudian badai kembali datang dengan kuatnya. Mereka kini berada di antara garis vegetasi dan puncak. Dan di sanalah mereka menghadapi dilema yang hampir mustahil untuk diambil salah satu pilihannya. Turun berbahaya, maju juga seakan menjemput maut. Mereka memilih maju. Keputusan itu kemudian menjadi salah satu titik paling tragis dalam perjalanan mereka. Kabut menebal. Jarak pandang tinggal sekitar setengah meter. Seseorang bisa berada hanya beberapa langkah di depan, tetapi tidak terlihat. Kemudian terdengar suara, “Tolong!” Masrukhi berteriak. Ia diduga mengalami hipotermia. Tubuhnya kemudian terguling ke lereng. Teman-temannya mendengar suara tersebut. Tetapi mereka hampir tidak dapat melihat apa-apa. Kabut terlalu tebal. Dodo, Fauzan, dan Gentur kemudian mencoba mencari Masrukhi. Mereka menemukannya. Dengan susah payah, tubuh Masrukhi dipapah menuju puncak. Akhirnya mereka mencapai kawasan Tugu Surono. Tetapi kemenangan mencapai puncak tidak lagi terasa seperti kemenangan. Mereka justru terjebak di sana. Badai semakin buruk. Mereka tidak mungkin turun. Tenda didirikan. Malam kembali mereka lewati di puncak Gunung Slamet.

Kamis, 8 Februari 2001

Badai belum juga berhenti. Persediaan logistik dan kemampuan tenaga semakin menipis. Padahal perjalanan turun membutuhkan kekuatan yang tidak sedikit. Mereka akhirnya memutuskan turun. Masrukhi yang kondisinya masih lemah kembali mengalami hipotermia. Tubuhnya terguling. Kali ini nyaris menjadi akhir. Bregas yang berada di depannya berhasil menghadang tubuh Masrukhi. Kalau tidak, tubuh Masrukhi mungkin telah masuk ke dalam jurang. Mereka berhenti. Tenda kembali didirikan. Di tengah kawasan non-vegetasi, mereka mencoba bertahan. Kemudian terdengar suara dari bawah. Beberapa orang berteriak. Tidak jelas apa yang mereka katakan. Kabut membuat komunikasi menjadi hampir mustahil. Peluit menjadi alat untuk menjaga kontak. Dewi kemudian bergerak mendekati sumber suara. Ternyata mereka adalah pendaki dari Jakarta. Mereka tidak berani melakukan pertolongan langsung karena kondisi kabut yang terlalu tebal. Keputusan dibuat. Mereka akan turun ke Bambangan untuk mencari bantuan. Dewi ikut bersama mereka. Saat itu Masrukhi masih hidup namun kondisinya semakin melemah. 

Malam itu, sekitar pukul 21.30 WIB, Dewi akhirnya sampai di Bambangan dan melaporkan keadaan kelompoknya kepada polisi. Sementara itu, di atas gunung, lima orang masih berada dalam jebakan badai. Dan mereka tidak tahu apakah bantuan akan datang tepat waktu. Dan hari itu, Kamis, 8 Februari 2001, menjadi titik paling kelam. Masrukhi akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Ia meninggal dalam pangkuan Dodo. Jenazahnya untuk sementara ditinggalkan dengan harapan akan dievakuasi kemudian. Tetapi kelompok yang tersisa tidak berada dalam kondisi baik. Bregas dan Fauzan sudah sangat kelelahan. Fauzan bahkan terjatuh dan terguling beberapa meter. Bregas pun semakin kepayahan. Mereka kembali mendirikan tenda. Malam itu Fauzan mengalami hipotermia. Sementara makanan semakin sedikit. Kompor gas lipat mereka terbawa Dewi. Tidak ada lagi pilihan makanan yang layak. Mereka bertahan dengan apa yang tersisa: mi instan kering, permen, dan sambal pecel. Tidak ada lagi suasana canda ria pendakian. Yang tersisa hanya satu harapan: bertahan hidup sampai bantuan datang.

Jumat, 9 Februari 2001

Dodo diputuskan untuk turun untuk mencari pertolongan. Tetapi hingga Sabtu, bantuan belum juga tiba. Gentur kemudian mengambil keputusan turun. Iis tetap tinggal bersama Fauzan dan Bregas. Gentur turun hanya dengan bekal delapan permen. Lebih buruk lagi, mereka sudah tidak berada tepat di jalur pendakian. Ia berjalan mencari jalan keluar. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah alur sungai. Gentur mengikuti aliran tersebut. Terus turun, sampai akhirnya ia menemukan jalan aspal di Desa Serang, Purbalingga. Sebuah jalan menuju area penduduk di bawah gunung.

Minggu pagi, 11 Februari, Gentur meminta bantuan tukang ojek menuju Bambangan. Namun di sana ia mendengar kabar yang menghantamnya: Dodo tidak pernah sampai ke desa. Maka pencarian besar-besaran dimulai. Tim SAR dari berbagai kelompok pecinta alam universitas, masyarakat Bambangan, dan Basarnas bergerak menuju Gunung Slamet. Mereka naik berkejaran dengan waktu yang terus berjalan.

Senin, 12 Februari 2001

Fauzan ditemukan di dalam sebuah tenda. Ia telah meninggal dunia. Lokasinya sekitar 20 meter di bawah garis vegetasi. Namun masih ada Iis dan Bregas. Pencarian dilanjutkan.

Rabu, 14 Februari 2001

Tim SAR akhirnya menemukan Iis. Ia berada di bawah cerukan air terjun pada ketinggian sekitar 2.750 meter. Kondisinya sangat memprihatinkan. Raincoat-nya basah. Tubuhnya terluka. Gigi depannya patah. Ada luka pada tulang kering kaki kanan dan leher. Tetapi ia masih sadar. Itulah secercah harapan yang ditemukan tim penyelamat. Mereka tidak mungkin langsung membawa Iis turun. Mereka memilih bertahan di sana. Pakaian basah Iis diganti. Api unggun dibuat. Upaya menghangatkan tubuh dilakukan. Iis kemudian dimasukkan ke dalam sleeping bag. Perlahan ia mulai membaik. Sekitar pukul 22.00 WIB, Iis sudah mampu berbicara. Ia bahkan dapat menjawab beberapa pertanyaan sederhana. Harapan pun muncul kembali. Tetapi cerita gunung belum selesai.

Kamis, 15 Februari 2001

Dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, Samsi yang bertugas menjaga Iis akhirnya tertidur karena kelelahan. Tidak lama kemudian ia terbangun sekitar pukul 04.30 WIB. Dan saat itulah semuanya berubah. Iis tidak lagi merespons. Tim penyelamat segera melakukan pertolongan. Pernapasan buatan diberikan. Upaya penyelamatan terus dilakukan hingga sekitar pukul 05.20 WIB tetapi tubuh Iis tidak mampu bertahan. Sekitar pukul 07.00 WIB, berita pilu itu disampaikan. Iis telah meninggal dunia. Pada hari yang sama ketika Iis ditemukan, Dodo juga ditemukan. Ia telah meninggal dunia. Sabtu, 17 Februari 2001, Bregas ditemukan di sekitar batas vegetasi. Ia juga telah meninggal. Masih tersisa satu nama: Fauzan. Pencarian terus dilakukan. Hingga akhirnya, Senin 19 Februari, jenazah Fauzan ditemukan. Lokasinya berada sekitar 200 meter di atas garis vegetasi, jauh dari tempat ia sebelumnya ditinggalkan. Bagaimana ia bisa berpindah sejauh itu? Tidak ada jawaban yang pasti. Sebuah misteri yang tertinggal bersama tragedi tersebut.

Dari tujuh pendaki yang berangkat menuju Gunung Slamet, lima tidak pernah pulang: Masrukhi, Dodo, Fauzan, Iis, dan Bregas. Sementara dua orang selamat: Dewi dan Gentur.

Bertahun-tahun kemudian, nama-nama itu masih memiliki jejak di Gunung Slamet. Ada plakat yang dibuat oleh kawan-kawan Iis dari Silvagama. Ada pula plakat yang dibuat oleh teman-teman Mapagama. Plakat tersebut menjadi pengingat bahwa pernah ada tujuh anak muda yang datang ke Gunung Slamet membawa harapan, keberanian, dan persahabatan tetapi gunung itu ‘menyimpan’ lima di antaranya.

(dari berbagai sumber).

Gunung Slamet

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda