Monday, May 14, 2018

Mengenal Tradisi Menyirih atau Menginang di Indonesia

Hampir di seluruh wilayah nusantara, di kalangan orang-orang tua, dikenal tradisi menikmati sirih (meyirih atau menginang) sebagai salah satu jenis kesenangan pribadi.

Tidak dapat dipastikan kapan tradisi menginang ini muncul pertama kali di Indonesia, namun berdasarkan berita dari Cina, musafir I-tsing mengatakan bahwa pada abad ke-7 M, orang-orang di Sumatera sudah mengenal dan memanfaatkan buah pinang. Di Pulau Jawa istilah “pakinangan” serta “pucang sireh” (pinang dan sirih) sudah disebutkan pada beberapa prasasti di abad ke-9 dan 10 M. Selain itu, berita Cina dari masa Dinasti Sung telah mencantumkan sirih dan pinang sebagai satu bahan komoditi perdagangan yang diimpor dari Jawa antara abad ke-10 hingga 14 M selain emas, perak, cula badak, beragam kayu, dan sebagainya.

Ramuan pokok dalam menginang terdiri dari daun sirih, kapur sirih, gambir dan buah pinang. Ramuan tersebut biasanya ditempatkan pada wadah khusus yang dinamakan “pekinangan” yang terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti bamboo, kayu, buah labu, dan bahan lainnya. Sedangkan di kalangan bangsawan, bahan pekinangan terbuat dari logam (emas dan perak). Perangkat sirih biasanya menjadi pendukung dalam berbagai upacara adat seperti upacara penobatan kepada adat atau penghulu, pernikahan, serta untuk menyambut tamu.
Pekinangan
Pekinangan dari bahan kuningan yang digunakan oleh kelompok msyarakat berstatus sosial tinggi
Paidon
Paidon ; dipakai sebagai wadah ludah sirih
Tas sirih
Tas sirih ; dipakai sebagai tempat menyimpan sirih yang mudah dibawa ke mana-mana

No comments: