Koleksi Serangga Awetan di Museum Zoologi Kebun Raya Bogor

Serangga atau insecta merupakan salah satu spesies dari kelas avertebrata yang dicirikan dengan terbaginya tubuh mereka menjadi 3 (tiga) bagian yaitu kepala, thorax, dan abdomen. Mereka rata-rata memiliki 6 (enam) kaki dan setidaknya sepasang antena.

Sebenarnya serangga termasuk hewan yang mendominasi di dunia dimana mereka telah lama hidup dan ber-evolusi sejak periode Carboniferous (kurang lebih 300 juta tahun yang lalu). Fosil-fosil serangga berumur ratusan juta tahun banyak ditemukan dimana struktur tubuhnya tidak banyak berbeda dengan bentuk yang diumpai saat ini.

Anak-anak kecil jaman sekarang mungkin belum banyak tahu tentang proses metamorfosis serangga. Sebagai contoh, seekor kupu-kupu yang indah belum tentu dapat diketahui dengan baik datangnya dari wujud apa. Hanya sebuah lagu berjudul ”Kupu-Kupu” yang barangkali masih populer dan gampang diingat oleh anak jaman sekarang. 

Beda dengan anak jaman now, anak jaman dulu pasti pernah menyaksikan fase metamorfosis ulat sebelum menjadi kupu-kupu. Ya, dulu saya pun masih dapat menyaksikan proses yang semakin langka disaksikan saat ini yaitu ketika tubuh ulat daun pisang berada di balik gulungan daun yang menguning. Artinya ketika kita menyaksikan ada pohon pisang yang daunnya menggulung maka kemungkinan besar di dalamnya ada seekor ulat yang juga merupakan hama pemakan daun pisang. Bagi yang tidak terbiasa pasti geli melihatnya, apalagi menyentuhnya. Yang biasanya ditunggu anak-anak jaman dulu adalah ketika fase ulat itu berubah menjadi fase kepompong atau pupa. Tubuh ulat yang tadinya empuk berubah menjadi lebih keras dan berwarna kuning. Ia sudah tidak bisa melakukan pergerakan sebagaimana utuhnya seekor ulat karena posisi kepompong itu menggantung dengan bagian yang nantinya akan menjadi kepala kupu-kupu. Dan yang paling ditunggu-tunggu tentu saja ketika fase kepompong telah lewat karena selanjutnya ia akan berubah bentuk menjadi sangat indah dan dapat terbang karena sudah memiliki alat gerak berupa sayap. Makanan pun berubah dari sebelumnya memakan daun pisang, menjadi madu dari bunga-bunga yang bermekaran di sekitarnya.

Maka, untuk mengajarkan anak-anak tentang keanekaragaman serangga, termasuk kupu-kupu, Anda dapat membawa anak Anda mengunjungi Museum Zoologi di Kebun Raya Bogor. Dari sekitar 1600 spesies kupu-kupu yang tersebar di seluruh dunia, diperkirakan sekitar 96 jenis masih dapat dijumpai hidupnya di Kebun Raya Bogor. Dan terdapat beberapa jenis kupu-kupu langka yang dilindungi pemerintah, seperti kupu-kupu sayap burung, kupu-kupu raja, dan lain-lain.

Uniknya, dari segi waktu beraktivitasnya, kupu-kupu terbagi menjadi 2 (dua) jenis yaitu kupu-kupu siang dan kupu-kupu malam. Perbedaan sekilas terlihat dari warna sayapnya dimana kupu-kupu siang umumnya memiliki warna sayap yang beragam dan berwarna-warni, sedangkan kupu-kupu malam rata-rata memiliki warna sayap yang monoton seperti abu-abu dan coklat kekuningan.

Entah karena beredarnya sering di malam hari sehingga sosok kupu-kupu malam sampai menginspirasi Titiek Puspa membuat judul lagu yang sangat populer ”Kupu-Kupu Malam” untuk menggambarkan para wanita penjaja seksual yang juga beraktivitas di malam hari.

kupu-kupu
kupu-kupu
kupu
kupu-kupu
kupu
kupu
kupu