Cara Menuju Pos Pendakian Baru Beureum, Gunung Manglayang, Jatinangor, Kabupaten Sumedang - Traveling, Sejarah, Budaya, Tokoh, Peristiwa, Ekonomi, Bisnis

Thursday, December 5, 2019

Cara Menuju Pos Pendakian Baru Beureum, Gunung Manglayang, Jatinangor, Kabupaten Sumedang

Setelah sejumlah tempat berhasil saya kunjungi dalam berbagai kesempatan traveling baik secara solo maupun rombongan, saya pun mencoba melakukan perjalanan yang agak berbeda yaitu naik gunung !.

Perlu diketahui bahwa selama ini saya belum pernah melakukan pendakian gunung, paling hanya trekking biasa saja di kakinya alias “berputar-putar” saja di bawah dan belum pernah berkelana sampai naik ke puncak.

Dan akhir-akhir ini saya tertarik untuk menjajal melakukan olahraga ekstrim yang satu ini meski dengan pengetahuan yang masih minim. Maka sebagai pendaki gunung pemula, langkah pertama yang dilakukan adalah mencari gunung yang tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi. Hasil googling menyatakan bahwa Gunung Manglayang merupakan salah satu tipe gunung yang cocok dinaiki bagi para pendaki pemula (meskipun pada kenyataannya tidak 100% benar…he…he…he…).

Mengapa Gunung Manglayang yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Sumedang ini sering dikatakan sebagai lokasi pendakian yang cocok bagi pendaki pemula ?. Jawaban umum yang dapat diberikan adalah karena ketinggiannya yang hanya mencapai 1.818 (seribu delapan ratus delapan belas) mdpl. Disamping itu, jalur pendakiannya pun mudah diingat sehingga memperkecil kemungkinan risiko tersesat di tengah hutan rimba peggunungan. Dan yang terakhir, sinyal HP masih dapat tertangkap sampai di puncak gunung !.  

Maka, ketika informasi tentang gunung tersebut sudah diperoleh secara cukup alias memadai, berangkatlah saya menuju lokasi yang dituju : Gunung Manglayang. Karena posisi awal keberangkatan dari Kota Bandung, atas saran saudara yang tinggal di Bandung, saya dari sejak pagi sebaiknya menuju Baltos (Balubur Town Square), tempat dimana sejumlah shuttle travel akan mengantarkan penumpang jarak pendek ke tujuan Jatinangor, Sumedang. Ya, saat ini sudah ada alternatif moda transportasi yang nyaman dan cepat bagi warga Bandung, terutama para mahasiswa “commuter” yang pergi pulang kuliah di UNPAD atau ITB kampus Jatinangor.  

Maka segeralah saya memesan Grab Bike dari rumah saudara ke Baltos setelah perut diisi sarapan yang cukup. Tas carrier tak lupa dibawa guna menyimpan sejumlah perlengkapan ringan namun tanpa membawa tenda camping karena “misi” yang dijalankan hanya ingin menjejakkan kaki sebentar di puncak gunung tanpa menginap (dikenal sebagai pendakian secara “tektok”, bukan “tiktok” ya…).

Sesampainya di Baltos, saya pun menuju loket sebuah perusahaan shuttle travel bernama Pasteur Trans dengan keberangkatan pukul 06.30 WIB. Setelah membayar ongkos sebesar Rp 15.000,00, saya pun menunggu tak terlalu lama sampai kemudian masuk ke dalam mobil Toyota HiAce berkapasitas sekitar 16 (enam belas) orang tersebut. Dengan kondisi lalu-lintas yang masih sepi di pagi hari, si HiAce ini melaju kencang melewati rute Jembatan Pasupati, Pasteur, Pintu Tol Pasteur, Tol Padaleunyi, Pintu Tol Cileunyi, dan berakhir di Jatinangor. Tak sampai 1 (satu) jam, saya pun sampai di pool-nya Pasteur Trans yang berada di pinggir Jalan Raya Jatinangor, tak jauh dari pertigaan dimana sejumlah mamang-mamang ojek pangkalan berkumpul.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan memesan ojek tersebut dengan ongkos Rp 30.000,00 sekali jalan untuk tujuan akhir Baru Beureum dimana di situ adalah titik terakhir dimana sepeda motor dan kendaraan roda empat bisa parkir. Bilang saja ke mamang ojek-nya bahwa kita mau naik Gunung Manglayang via Baru Beureum, insyaAllah mereka sudah faham karena sudah terbiasa menerima orderan antar jemput penumpang yang hendak menaiki Gunung Manglayang via Baru Beureum. Nah, mengingat tidak selalu ada mamang ojek lain yang stand-by di Baru Beureum maka untuk keperluan penjemputan (jika pendakian telah selesai dan akan kembali dari Baru Beureum ke Jatinangor) sebaiknya pendaki meminta nomor HP si mamang.

Perjalanan ojek dari pangkalan Jl Raya Jatinangor sampai dengan Pos Pendakian Baru Beureum ditempuh dalam waktu sekitar 30 (tiga puluh) menit dengan menembus kompleks kampus UNPAD (Universitas Padjadjaran) lalu Jl Karatas, Cileles, dimana pada hari Minggu pagi biasanya digelar pasar jual beli berbagai kebutuhan rumah tangga seperti pakaian, dan lain-lain (disebut Pasar Wisata Jatinangor), lalu akan melewati juga proyek jalan tol Cisumdawu, Bumi Perkemahan Kiarapayung, lalu keluar lagi melewati jalan bebatuan sampai ditemukan warung kecil yang di depannya terdapat plang mencolok berwarna biru bertuliskan “Jalur Pendakian Baru Beureum” yang dibuat oleh Wapa Manggala IPDN.

Setelah merogok kocek buat membayar ojek si mamang, saya pun menyempatkan diri terlebih dahulu untuk mampir ke warung -yang dari hasil googling katanya dijaga oleh- Mak Ipah. Namun saat saya memesan segelas kopi sembari menanyakan keberadaan Mak Ipah, ternyata dari seorang perempuan yang menjaga warung, Mak Ipah sudah lama tidak lama beraktivitas di situ karena sakit-sakitan. Dan dari googling juga katanya pendaki harus membayar semacam uang masuk kepada Mak Ipah sebagai “pengelola” meski setelah saya konfirmasi kepada si perempuan yang saya temui sebenarnya tidak ada uang masuk bagi pendaki karena belum dikelola secara resmi oleh instansi tertentu seperti Perhutani atau lainnya.

Akhirnya setelah beberapa menit mengumpulkan tenaga di Warung Mak Ipah itu dan segelas kopi yang dipesan habis, saya pun pamit kepada “pengganti”nya Mak Ipah itu untuk mulai menapakkan kaki menyusuri jalur pendakian yang ada di belakang warung persis.

Pasteur Trans

Pasteur Travel

Pasteur Trans

Jatinangor

Jatinangor

Jatinangor

Jatinangor

Jatinangor

Jatinangor

Jatinangor

Jatinangor

Jatinangor

Jatinangor

Jatinangor

Baru Bereum

Baru Bereum

Baru Bereum

Baru Bereum

Baru Bereum

Baru Bereum

Baru Bereum

Baru Bereum

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda