Julid-nya Orang Indonesia Menjelang Hari Raya Kurban - POJOKCERITA

Monday, May 25, 2026

Julid-nya Orang Indonesia Menjelang Hari Raya Kurban

Menjelang Hari Raya Kurban (Iedul Adha) biasanya suasana media sosial mulai ramai dengan postingan soal hewan kurban. Status WhatsApp, Instagram dan Facebook, dipenuhi foto-foto sapi, kambing, hingga unggahan tentang proses keikutsertaan sebagai pe-korban. Sebagian orang mengunggahnya sebagai bentuk rasa syukur karena diberi kesempatan menjalankan ibadah kurban. Sebagian lagi menjadikannya sebagai sarana berbagi semangat agar orang lain ikut termotivasi untuk beribadah.

Fenomena tersebut sebenarnya wajar. Hari raya memang selalu menghadirkan suasana kebersamaan dan antusiasme tersendiri. Namun di tengah ramainya unggahan itu, terkadang muncul pula status-status WA bernada sindiran. Biasanya sindiran diarahkan kepada orang yang dianggap mampu secara ekonomi namun terlihat enggan atau belum melaksanakan kurban. Kalimat-kalimat seperti “mobil ganti terus tapi tidak pernah kurban”, “katanya sukses tapi kambing saja tidak mampu”, atau “lebih mementingkan gaya hidup daripada ibadah” sering kali muncul dalam bentuk tulisan, meme, ataupun status singkat. Ada yang menyampaikan secara terang-terangan dan ada pula yang memakai kalimat.

Di sinilah persoalannya muncul manakala ibadah mulai dibawa ke ruang sosial dan disbanding-bandingkan dengan kehidupan orang lain. Muncul pertanyaan, apakah hal seperti itu memang perlu dilakukan? Kurban merupakan ibadah yang sangat mulia dan memiliki nilai sosial yang besar karena dagingnya dapat dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Orang yang diberi kelapangan rezeki lalu mampu melaksanakan kurban tentu patut bersyukur. Itu adalah nikmat yang tidak semua orang miliki. Namun kemampuan seseorang tidak selalu bisa diukur dari apa yang tampak dari luar. Di jaman sekarang banyak orang terlihat mapan secara penampilan fisik tetapi kenyataannya sedang memikul tanggung jawab hidup yang berat. Ada orang yang harus menanggung cicilan rumah, biaya pendidikan anak, pengobatan orang tua, kebutuhan keluarga besar, atau bahkan sedang mengalami penurunan usaha yang tidak diketahui orang lain. Kita sering kali terlalu cepat menilai hanya berdasarkan apa yang terlihat di permukaan. Melihat seseorang memiliki mobil bagus, pakaian rapi, atau pekerjaan yang terlihat mapan, lalu langsung menganggap ia pasti mampu berkurban. Padahal kondisi keuangan setiap orang sangat kompleks. Tidak semua orang yang terlihat benar-benar sejahtera hany dari penampilan fisik. Ada orang yang sebenarnya mampu tetapi memilih mengatur prioritas keuangan tertentu karena alasan keluarga atau kondisi pribadi. Hal itu menjadi wilayah pribadi yang tidak perlu dihakimi orang lain. Sayangnya manusia kebanyakan hanya melihat penampilan luar sedangkan Allah mengetahui seluruh isi kehidupan hamba-Nya secara menyeluruh. Ironisnya, sindiran tentang kurban itu datang dari orang yang sedang menjalankan ibadah itu sendiri. Padahal esensi ibadah kurban seharusnya mengajarkan makna keikhlasan, ketulusan, dan kerendahan hati. Kurban bukan sekadar tentang membeli sapi atau kambing melainkan simbol pengorbanan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih baik dibanding orang lain karena mampu berkurban maka di situlah yang perlu diwaspadai. Sebab ibadah yang semestinya mendekatkan diri kepada Allah SWT bisa berubah menjadi sarana membandingkan diri dengan sesama manusia. Ada rasa ingin dipuji, dianggap lebih shaleh, atau merasa memiliki posisi moral lebih tinggi dibanding orang lain. Dalam ajaran agama, sikap riya patut untuk diwaspadai. Karena riya dan ujub sering kali datang secara halus tanpa disadari. Awalnya mungkin hanya ingin berbagi kebahagiaan tetapi lama-lama berubah menjadi kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan sosial. Bukan berarti semua unggahan tentang kurban otomatis salah atau riya. Ada juga orang yang memang tulus membagikan momen kurban untuk mengajak orang lain untuk ikut melakukan kebaikan. Ada panitia yang perlu membuat dokumentasi sebagai bentuk transparansi. Ada pula orang yang sekadar ingin berbagi rasa syukur. Namun yang perlu diperhatikan adalah cara penyampaiannya. Ketika unggahan mulai disertai nada merendahkan orang lain, menyindir, atau membandingkan tingkat ibadah seseorang, maka makna positifnya mulai bergeser. Ibadah tidak lagi terasa menenangkan tetapi berubah menjadi sebuah tekanan sosial. Hal seperti itu bisa berdampak buruk bagi sebagian orang. Ada orang yang belum mampu berkurban bisa merasa minder, malu, bahkan tertekan secara psikologis. Mereka merasa seolah-olah menjadi muslim yang kurang baik hanya karena belum mampu melaksanakan kurban. Padahal kondisi hidup setiap orang berbeda-beda dan tidak bisa disamaratakan antara satu dengan lainnya. Agama seharusnya menghadirkan kesejukan dan empati. Dakwah yang baik bukanlah dakwah yang mempermalukan orang lain melainkan yang mengajak dengan kebijaksanaan dan keteladanan. Oleh karena itu, menjelang Idul Adha mungkin akan lebih baik jika kita fokus pada ibadah kita sendiri. Jika Allah SWT memberi kemampuan untuk berkurban maka syukuri nikmat tersebut dengan rendah hati. Jalani ibadah dengan tulus, nikmati proses berbagi kepada sesama, dan niatkan semata-mata karena Allah SWT. Kita tidak perlu terlalu sibuk mengomentari kehidupan orang lain. Tidak perlu merasa lebih mulia hanya karena mampu membeli hewan kurban. Sebab ukuran ketakwaan bukan terletak pada seberapa besar hewan yang dibeli atau seberapa ramai dipamerkan di media sosial melainkan pada keikhlasan hati dalam menjalankan ibadah tersebut. Karena bisa jadi orang yang hari ini belum berkurban justru memiliki ketulusan hati yang jauh lebih besar. Dan bisa jadi pula orang yang hari ini mampu berkurban sedang diuji apakah ia bisa tetap rendah hati atau justru terjebak dalam rasa bangga atau ujub terhadap dirinya sendiri.

Kurban Iedul Adha

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda