Pesugihan Gunung Kawi dan Sikap Seorang Muslim yang Seharusnya - POJOKCERITA

Tuesday, May 26, 2026

Pesugihan Gunung Kawi dan Sikap Seorang Muslim yang Seharusnya

Gunung Kawi beserta ritual pesugihannya telah menjadi fenomena unik yang telah dipraktikkan secara turun-temurun sehingga keberadaannya sudah sangat terkenal di seantero Pulau Jawa dan bahkan nusantara. Penulis buku “Kisah Tanah Jawa”, Mada Zidan dan Bonaventura D. Genta, mengklaim pernah mengunjungi lokasi tersebut guna membuktikan serta mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya mengenai cerita orang-orang selama ini.

Menurut penulis buku tersebut, Gunung Kawi sebenarnya tidak seperti yang dibayangkan. Di sana hanya ada makam dari tokoh mulia yang mengajarkan kebajikan yakni Eyang Zakaria Il dan Eyang Raden Mas Soedjono. Mereka adalah trah Kerajaan Mataram, pengikut setia Pangeran Diponegoro, yang turut berjuang melawan imperialisme Belanda ketika terjadi Perang Jawa. Kyai Zakaria II adalah cicit Pakubuwono I sedangkan R.M Iman Soejono merupakan cicit Sultan Hamengkubuwono I.

Di sebelah atas makam Eyang Zakaria II serta Eyang Raden Mas Soedjono yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan terdapat petilasan Prabu Kameswara I dari Kerajaan Kediri yang pernah bertapa untuk mendapatkan petunjuk ketika kerajaan sedang mengalami kegaduhan. Di samping petilasan Prabu Kameswara terdapat bangunan Vihara Dewi Kwan Im yang konon dibangun oleh salah satu orang kaya di negeri ini.

Berakhirnya Perang Jawa pada tahun 1830 yang ditandai dengan tertangkapnya Pangeran Diponegoro dengan tipu daya liciknya Belanda membuat banyak pengikut setia Diponegoro yang kemudian melarikan diri agar tidak turut tertangkap. Mereka menyamarkan nama asli agar keberadaannya tidak diketahui oleh pihak Belanda mengingat saat itu tidak sedikit pribumi yang menjual informasi kepada pihak penjajah karena mengharapkan imbalan.

Dalam pelariannya, Kyai Zakaria singgah di daerah Kesamben, Kabupaten Blitar. Ada seorang penduduk yang bertemu dengannya. Belum sempat orang itu menanyakan namanya, Kyai Zakaria langsung berkata, “Saya sadjoego” dengan maksud memberitahu bahwa dia sendirian (sadjoego) yang menurut bahasa sansekerta artinya sendiri. Namun warga tersebut mengira bahwa Kyai Zakaria adalah Sadjoego sehingga dia memanggilnya dengan nama itu. Kyai Zakaria yang memang sedang dalam persembunyian merasa nama itu lebih cocok dia gunakan schingga identitasnya tidak mudah diketahui. Oleh karena itu sejak itu sampai saat ini masyarakat lebih mengenal Kyai Zakaria dengan nama Eyang Djoego. Tujuan dari pelarian Eyang Djoego ke wilayah timur Pulau Jawa tidak hanya bersembunyi dari kejaran Belanda namun juga untuk menyiarkan agama Islam ke penduduk Jawa. Setelah menetap di Kesamben, beliau mendirikan padepokan sebagai rumah dan tempat murid-muridnya menuntut ilmu.

Pada suatu waktu, salah satu dusun di Kesamben tertimpa wabah penyakit menular yang menelan banyak korban jiwa. Eyang Djoego yang memiliki kesaktian tinggi berusaha menyembuhkan warga yang terkena wabah. Karena jasanya, desa itu kemudian dinamakan Dusun Djoego (kini bernama Desa Sanan Jugo, Kecamatan Kesamben, Blitar). Cerita ini dibenarkan oleh Bapak H.R Tjandra Jana, juru kunci Pesarean Gunung Kawi. Bahkan, Pak Tjandra Jana menambahkan bahwa Eyang Djoego pernah ikut membantu penyembuhan wabah kolera yang menyerang penduduk Jawa Timur. Sebelum wafatnya, Eyang Djoego berpesan kepada R.M. Iman Soedjono agar dimakamkan di Lereng Gunung Kawi yaitu Desa Wonosari. Eyang Djoego wafat di padepokannya di Desa Sanan Jugo pada Minggu legi, malam Senin pahing, tanggal 1 Selo (Zulhijah) 1799 Dal (Kalender Jawa) atau 22 Januari 1871 (Masehi) pukul 01.30. Dan sesuai wasiat, jenazahnya dikebumikan di Wonosari pada Kamis, 25 Januari 1871. Raden Mas Iman Soedjono séndiri berpulang ke rahmatullah selang 5 (lima) tahun meninggalnya Eyang Djoego yaitu pada Rabu kliwon, 12 Suro atau Muharram 1805 Jimawal bertepatan dengan 8 Februari 1876 Masehi. Ia dimakamfan satu liang lahat dengan Eyang Djoego. Berdasarkan buku Pesarean Gunung Kawi, Eyang Djoego juga telah berwasiat, jika mereka berdua meninggal, jasad mereka dikebumikan dalam satu liang lahat. “Mereka dua insan seperjuangan, senasib sependeritaan, seazas, dan satu tujuan dalam hidup, berkeinginan tetap berdampingan sampai ke alam baka,” tulis H.R Soeryowidagdo (juru kunci Pesarean) dalam Buku Pesarean Gunung Kawi.

Dalam perjalanan waktu ternyata banyak orang kemudian salah mengartikan bahwa Gunung Kawi adalah tempat mencari harta kekayaan. Ini menjadi stigma ketika hendak berkunjung ke Gunung Kawi. Ritual untuk mencari kekayaan (pesugihan) telah tertanam di pikiran masyarakat. Mayoritas pengunjung Pesarean adalah etnis Tionghoa yang rajin datang khususnya pada hari-hari pasaran Jawa yaitu Jumat legi, Senin pahing, Syuro, dan tahun baru (baik kalender China maupun Jawa). Yang melatarbelakangi para etnis Tionghoa rajin berziarah, tidak lain karena leluhur mereka yang bernama Ta Kie Yam (Pek Yam) merupakan murid kesayangan Eyang Soedjo. Itu sebabnya, meski Pek Yam telah meninggal 44 tahun lalu, kawasan Pesarean Gunung Kawi, terutama Kuil Kwan Im dan kediaman Mpek Yam, menjadi tempat tujuan warga keturunan Tionghoa. Mereka datang untuk menghormati nenek moyangnya. Ziarah kubur juga merupakan Henna terima kasih dan pengabdian para etnis Tionghoa kepada Eyang Soedjo yang telah menyayangi Pek Yam. Mereka berdoa tapi tidak lepas dari keinginan mendapatkan berkah sehingga terciptalah sugesti bakal mendapatkan berkah dan kemakmuran jika semakin sering berziarah. Akhirnya terciptalah keyakinan di masyarakat untuk mencari berkah di Gunung Kawi. Memang tidak dipungkiri, aktivitas itu juga membawa berkah bagi masyarakat sekitar karena perekonomian secara perlahan terangkat akibat banyak kunjungan wisatawan. 

Keberadaan pesugihan Gunung Kawi memang ada tapi bukan di makam Eyang Kyai Zakaria II atau Eyang Djoego dan Raden Mas Imam Soedjono atau Eyang Soedjo, melainkan di antara makam dan tempat petilasan Prabu Kameswara I. Sepanjang jalan tersebut merupakan hutan yang banyak dihuni berbagai makhluk astral. Di sinilah kemudian banyak orang tersesat. Niat awal memohon berkah leluhur tapi malah berbelok mencari kekayaan secara cepat dan instan. Tempat itu ibarat supermarket pesugihan, karena segala macam model ada di sana, dari tuyul hingga buto ijo. Kerajaan siluman banyak sekali terdapat di sana. Secara fisik bentuknya hanya berupa batu besar, pohon yang besar atau mata air. Namun, yang paling sering didatangi adalah pesugihan siluman monyet. Sehingga tidak jarang di tempat itu terdapat banyak monyet yang dugaan kami beberapa merupakan perwujudan dari sukma-sukma yang ditumbalkan demi menebus harta kekayaan. 

Pesugihan itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan makam Eyang Zakaria II serta Eyang Raden Mas Soedjono bahkan dengan petilasan Prabu Kameswara. Pesugihan ini murni berdiri sendiri akibat orang yang salah langkah. Pelaku ritual pesugihan itu adalah orang yang sudah berkeluarga. Mereka diantar oleh orang yang memiliki akses komunikasi dengan dukun-dukun pesugihan di tempat ita. Di tengah perjalanan biasanya mereka akan bertemu sosok lelembut berwujud manusia yang menyamar sebagai pencari rumput atau petani. Sosok itu Bernama “Surojoyo”. Jika dilarang naik, ada baiknya ditunda. Seandainya diizinkan naik, perjalanan diteruskan menuju keraton lelembut Gunung Kawi.

Mendekati tempat para siluman Gunung Kawi, biasanya pelaku pesugihan akan didatangi oleh Dewi Sekar yang bisa berwujud macam-macam. Mereka akan ditanya yang intinya menegaskan apakah sudah siap dengan segala konsekuensinya, jika tidak, silakan kembali pulang dan jalani hidup normal. Pertanyaannya kurang lebih seperti di bawah ini, “Tujuanmu mrene opo, golek ben cepet sugeh?” (Tujuan kamu ke sini mau apa? Mau cepat kaya?) “Agamamu apa? Islam? Islam ning lambe opo nang ati?” (Agama kamu apa? Islam di bibir saja apa hingga di-dalam sanubari?”) “Nek kowe pengen cepet sugih tenan, tegel ora nek anakmu opo bojomu tak jipuk”? (Kalau kamu benar ingin cepat kaya, kamu tega tidak anak atau istrimu saya ambil?”).

Orang yang benar-benar gelap mata akan menjawab dengan mantap, semua siap ditanggung; agama, nyawa anak istri bahkan dirinya sendiri sudah tidak dipedulikan. Setelah itu si pemohon akan diantar oleh juru kunci ke lokasi pemujaan dan kambing kendit (kambing yang pada bagian perut terdapat sabuk hitam melingkar) siap untuk disembelih. Namun, rata-rata yang menggunakan kambing kendit adalah pesugihan kelas atas yang mengorbankan orang-orang tersayang seperti anak atau istri. Ketika kambing kendit disembelih maka korban pertama adalah orang yang paling disayang oleh pelaku pesugihan. Kambing yang disembelih langsung terkoneksi dengan orang yang paling disayang itu. Saat kambing menggelepar sekarat, korban pesugihan juga akan mengalami hal yang sama, entah kecelakaan, kena setrum atau karena hal lain yang mengakibatkan korban meninggal. Hewan-hewan yang terlihat di Gunung Kawi bisa saja adalah korban-korban pesugihan yang dilakukan oleh kerabatnya sendiri. Terkadang pelaku pesugihan akan diberitahu oleh dukun yang telah terkoneksi dengan penguasa Gunung Kawi agar pada hari-hari tertentu membawakan makanan kesukaan anak yang telah dijadikan tumbal. Ketika sang orangtua jahat tersebut datang dengan membawa makanan kesukaan anaknya, biasanya ada monyet kecil yang datang dan mengambil makanan lalu memakannya sambil mengeluarkan air mata. 

Konten viral yang dilakukan oleh Pesulap Merah ketika mendatangi Gunung Kawi memang memancing banyak perdebatan. Apalagi ketika ia menemukan adanya nama tokoh publik atau artis di buku tamu di lokasi tersebut. Dalam realitas sosial di Indonesia, orang datang ke Gunung Kawi bisa dengan berbagai motif: ada yang sekadar wisata budaya, penelitian sejarah, ziarah keluarga, konten media, rasa penasaran, hingga memang ingin mencari pesugihan melalui sejumlah ritual tertentu. Karena itu asumsi awal tentang keberadaan nama seseorang di buku tamu tidak otomatis membuktikan niat atau keyakinannya tentang tempat tersebut.

Dari sudut pandang Islam, inti persoalannya sebenarnya bukan pada tempatnya melainkan pada keyakinan dan tujuan hati. Dalam akidah Islam, seorang muslim wajib menjaga tauhid: meyakini bahwa segala rezeki, keberuntungan, perlindungan, dan pertolongan mutlak hanya berasal dari Allah SWT semata. Ketika seseorang mulai meyakini ada kekuatan gaib tertentu yang bisa memberi kekayaan, jabatan, keselamatan, atau keberuntungan secara mandiri selain kehendak Allah SWT maka di situlah akidah mulai terancam. Al-Qur’an sangat menekankan kemurnian tauhid. “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5). Karena itu, seorang muslim sebaiknya tidak ikut ritual yang mengandung permintaan kepada selain Allah, tidak menggantungkan nasib pada benda, tempat, atau makhluk gaib, tidak mudah tergoda janji kekayaan instan, serta memperkuat ibadah, doa, dan ikhtiar yang halal.

Tempat seperti Gunung Kawi sendiri karena mempunyai sisi sejarah dan budaya yang panjang di masyarakat Jawa sehingga seorang muslim perlu mampu membedakan mana aspek budaya atau sejarah yang masih netral dan mana praktik yang bertentangan dengan tauhid. Belajar sejarah dan budaya boleh-boleh saja namun keyakinan tetap harus lurus bahwa hanya Allah SWT yang menjadi sumber segala kekuatan dan rezeki manusia. 

Gunung Kawi

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda