Dalam sebuah contoh soal psikotest terdapat bentuk pertanyaan yang dapat dijawab antara A atau B di mana dinyatakan tidak ada jawaban yang benar atau salah. "Jawablah sesuai dengan diri Anda karena tidak ada jawaban yang benar atau salah."
Kalimat tersebut hampir selalu disampaikan kepada peserta sebelum mengikuti tes psikologi terutama tes kepribadian untuk rekrutmen karyawan. Diperkirakan tujuannya adalah mendorong peserta menjawab secara jujur tanpa berusaha menebak jawaban yang dianggap paling ideal.
Dari sudut pandang psikologi, pernyataan tersebut memang memiliki dasar. Tes kepribadian pada umumnya tidak mengukur tingkat kecerdasan atau pengetahuan melainkan kecenderungan perilaku (behavioral tendencies). Oleh karena itu pilihan jawaban A maupun B tidak dimaksudkan untuk menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Namun, persoalan menjadi lebih kompleks ketika hasil tes tersebut dijadikan salah satu dasar dalam menempatkan seseorang pada suatu jabatan. Pada titik inilah muncul pertanyaan: apakah benar semua pilihan memiliki nilai yang sama apabila dikaitkan dengan tuntutan dunia kerja?
Salah satu contoh yang sering muncul dalam tes kepribadian adalah pertanyaan seperti berikut: A. Saya lebih menyukai pekerjaan yang direncanakan dengan baik dan disusun secara teratur; B. Saya lebih nyaman membuat rencana secara spontan sesuai keadaan. Dalam konteks tes psikologi, kedua jawaban tersebut sama-sama sah. Jawaban A menggambarkan pribadi yang terstruktur sedangkan jawaban B menunjukkan seseorang yang memiliki kecenderungan lebih fleksibel dan adaptif terhadap perubahan.
Permasalahannya muncul ketika kedua karakter tersebut diterapkan dalam organisasi yang aktivitasnya bergantung pada jadwal, prosedur, dan koordinasi antar bagian yang membutuhkan disiplin waktu. Bayangkan ada sebuah perusahaan yang memiliki standar operasional yang ketat. Divisi pemasaran menunggu laporan dari divisi keuangan. Bagian produksi menunggu persetujuan purchasing. Departemen klaim menunggu hasil survei risiko. Semua proses saling berkaitan seperti mata rantai yang saling bergantung. Dalam sistem seperti itu, keterlambatan satu orang dapat menghambat pekerjaan banyak orang. Apabila kemudian seseorang terbiasa menunda penyusunan rencana hingga mendekati batas waktu, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Rekan kerja yang telah menyusun pekerjaannya secara sistematis juga akan terdampak. Target bisa jadi akan mundur, jadwal berubah, bahkan biaya operasional dapat meningkat akibat keterlambatan tersebut. Di sinilah muncul persoalan etis dalam dunia pekerjaan di mana kebebasan seseorang untuk bekerja secara spontan memiliki batas ketika pekerjaan tersebut bakal mempengaruhi hak, waktu, dan produktivitas orang lain. Dalam ilmu manajemen, organisasi yang baik justru adalah organisasi yang memiliki perencanaan yang matang sekaligus kemampuan melakukan penyesuaian apabila kondisi berubah. Fleksibilitas merupakan kemampuan mengelola perubahan, bukan menggantikan fungsi perencanaan.
Oleh sebab itu, apabila seseorang mengatakan lebih suka membuat rencana secara mendadak, perlu dipahami lebih jauh konteks yang dimaksud. Apakah ia memang mampu bekerja efektif dalam situasi dinamis, atau sebenarnya memiliki kecenderungan melakukan penundaan (procrastination)? Kedua hal tersebut merupakan karakter yang berbeda, tetapi sering kali disamakan dalam praktik di keseharian.
Organisasi modern pada hakikatnya dibangun di atas prinsip keteraturan. Anggaran disusun sebelum tahun berjalan. Jadwal produksi dibuat jauh hari sebelumnya. Audit memiliki kalender kerja. Proyek memiliki milestone. Semua itu bertujuan menciptakan kepastian dan mengurangi risiko.
Dari perspektif manajemen risiko, pekerjaan yang dilakukan secara terencana memberikan banyak keuntungan. Perencanaan membantu mengidentifikasi potensi hambatan lebih awal, mengalokasikan sumber daya secara efisien, mengurangi kesalahan, serta memberikan kepastian kepada pihak lain yang bergantung pada hasil pekerjaan tersebut. Sebaliknya, budaya kerja yang terlalu mengandalkan keputusan mendadak cenderung meningkatkan ketidakpastian dan memperbesar kemungkinan terjadinya kesalahan maupun keterlambatan.
Seharusnya tes kepribadian dan penilaian kompetensi memiliki tujuan yang berbeda. Tes kepribadian menggambarkan kecenderungan seseorang, sedangkan organisasi harus menilai apakah kecenderungan tersebut sesuai dengan karakteristik pekerjaan yang akan dijalankan. Seseorang yang terbiasa spontan mungkin sangat berhasil dalam bidang yang menuntut improvisasi, seperti industri kreatif, pemasaran tertentu, atau pekerjaan yang menghadapi perubahan cepat setiap hari. Sebaliknya, profesi seperti auditor, akuntan, pengendali mutu, tenaga kesehatan, operator penerbangan, insinyur keselamatan, maupun praktisi asuransi, terutama di bidang underwriting, survei risiko, dan klaim lebih membutuhkan individu yang mampu bekerja secara sistematis, disiplin, dan terencana. Dalam profesi tersebut, ketidakteraturan bukan hanya berdampak pada efisiensi tetapi juga dapat meningkatkan risiko operasional.
Dalam dunia kerja, bekerja secara teratur bukanlah semata pilihan gaya hidup melainkan bentuk penghargaan terhadap waktu, pekerjaan, dan komitmen orang lain. Perencanaan yang baik bukan membatasi kreativitas tetapi menjadi fondasi agar kreativitas dapat diwujudkan secara bertanggung jawab. Oleh karena itu ketika suatu pekerjaan melibatkan banyak pihak dan mengandung risiko yang tinggi, keteraturan dan disiplin bukan lagi sekadar preferensi individu melainkan bagian dari cara kerja profesional yang harus ditegakkan.
