Thursday, March 7, 2019

Misteri Dibongkarnya Rumah Soekarno di Jl Pegangsaan Timur No 56 Jakarta

Setelah naskah proklamasi kemerdekaan selesai disiapkan di kediaman Tadashi Maeda (kini Museum Perumusan Naskah Proklamasi) maka selanjutnya naskah tersebut dibacakan di pelataran rumah Bung Karno di Jl Pegangsaan Timur No 56 (kini Jl Proklamasi).

Bekas rumah Bung Karno itu sayangnya kini sudah tidak terlihat lagi alias hilang begitu saja tanpa jejak. Kita hanya dapat menjumpai titik di mana dulu Soekarno membacakan naskah teks proklamasi. Titik itulah yang kemudian disebut sebagai Tugu Petir atau Tugu Proklamasi.

Jika melihat foto asli hitam putih saat pembacaan naskah teks proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 maka akan terlihat bahwa di belakang Soekarno terdapat sebuah bangunan yang merupakan kediaman atau rumah Soekarno. Gara-garanya Soekarno sendiri yang kemudian di tahun 1961 meminta agar rumahnya dibongkar atau dirobohkan maka bukti penting sejarah itu tak dapat dilihat lagi oleh generasi saat ini dan mendatang (kini berubah menjadi sebuah gedung beberapa lantai yang bernama Gedung Pola).

Mengapa Bung Karno memilih meruntuhkan bangunan rumah kediamannya sendiri ? Padahal bangunan itu memiliki sejarah penting dalam perjalanan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bukankah Soekarno sering mengatakan ”Jas Merah” alias ”Jangan Sekali-kali Meninggalkan atau Melupakan Sejarah” ?. Hampir tidak ada yang dapat memiliki bukti otentik atas latar belakang pasti mengapa Bung Karno memilih untuk meratakan rumahnya dengan tanah. Hanya Bung Karno sendiri yang tahu alasannya. Namun dari sejumlah spekulasi yang muncul terdapat salah satu versi cerita yang mungkin saja mengandung nilai kebenaran.

Sebagaimana diketahui, sebelum kembali dari tempat pengasingannya, Soekarno dan keluarganya sempat mengalami masa-masa sulit saat pemerintah Hindia Belanda mengasingkan Soekarno ke Ende, Flores (1934-1938) dan selanjutnya dipindahkan ke Bengkulu (1938-1942). Praktis selama sekitar 8 (delapan) tahun Soekarno harus berjuang dalam kesulitan di tempat pembuangan.  

Pada saat mengalami masa pengasingan di Bengkulu, Soekarno bertemu dengan Fatmawati (nama aslinya Fatimah), anak dari seorang tokoh Muhammadiyah bernama Hasan Din. Fatmawati pada mulanya dianggap sebagai anak tiri Soekarno dan diterima dengan baik oleh istri Soekarno yang ikut mendampingi Soekarno yaitu Inggit Garnasih. Namun lagi-lagi cerita menjadi berubah manakala Soekarno tertarik hatinya kepada anak perempuan yang lebih layak menjadi anaknya (padahal istri pertama Soekarno yang dulu juga seorang anak perempuan muda yang kemudian harus mengalami nasib tak mengenakkan). Mengapa kini Soekarno justru menginginkan perempuan lain sedangkan di sampingnya sudah ada Inggit Garnasih yang perjuangannya menemani masa-masa sulit sudah terbukti ?.

Benih-benih perpecahan rumah tangga Soekarno mulai terlihat saat di Bengkulu ini. Usia Inggit waktu itu sudah memasuki usia lebih dari 50 tahun sementara Soekarno masih seorang pemuda yang jiwanya menyala-nyala dan bersemangat penuh vitalitas. Hampir tidak ada kemungkinan Inggit dapat melahirkan keturunan sementara Soekarno menginginkan keberlangsungan penerus perjuangan. Maka ketika dilihatnya Fatmawati, terbersit keinginan Soekarno mempersunitng gadis muda itu sebagai istrinya.

Bersamaan dengan datangnya bala tentara Jepang ke Hindia Belanda di tahun 1942 maka Soekarno pun kembali ke Pulau Jawa sampai kemudian menempati sebuah rumah di Jl Pegangsaan Timur No 56 Jakarta. Saat kepindahan Soekarno ke Jakarta itu, Soekarno masih mengalami kerumitan hidup dalam menghadapi reaksi Inggit Garnasih ketika mengetahui dirinya berhasrat menikahi Fatmawati. Inggit tidak rela dirinya dimadu. Sementara di sisi lain, Fatmawati juga mengajukan syarat yang sama : hanya bersedia dinikahi Soekarno jika tidak ada perempuan lain. Di sinilah prahara rumah tangga Soekarno kembali terjadi seperti sebuah siklus yang berulang. Pada akhirnya Soekarno mengambil keputusan : pada tanggal 29 Januari 1943 dibuatlah sebuah surat perjanjian perceraian yang dibuat dan ditandatangani di rumah Jl Pegangsaan Timur No 56 Jakarta. Surat perjanjian cerai itu antara lain menyebutkan adanya kewajiban Soekarno untuk menyediakan rumah bagi Inggit Garnasih di Bandung. Surat itu ditandatangani kedua belah pihak yang bercerai dengan disaksikan 3 (tiga) tokoh pergerakan nasional : Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan KH Mas Mansoer.

Dari cerita pilu di atas memang menjadikan hal yang wajar apabila terdapat spekulasi bahwa Bung Karno nekad membongkar rumahnya sendiri karena tidak ingin sejarah pahit yang dialaminya dijadikan cerita turun-temurun di kalangan generasi bangsa Indonesia. Namun tentu saja alasan yang lebih pasti hanyalah Soekarno sendiri yang tahu.

soekarno
Previous
« Prev Post

Related Posts

Misteri Dibongkarnya Rumah Soekarno di Jl Pegangsaan Timur No 56 Jakarta
4/ 5
Oleh